Berita Daerah

Wayang Kulit Semarakkan 1 Muharam: Pekon Sidoharjo Rayakan HUT ke-72 dengan Nuansa Budaya

574
×

Wayang Kulit Semarakkan 1 Muharam: Pekon Sidoharjo Rayakan HUT ke-72 dengan Nuansa Budaya

Sebarkan artikel ini

Pringsewu, SniperNew.id – Dalam semangat menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharam 1447 H dan peringatan Hari Ulang Tahun ke-72, Pekon Sidoharjo, Kecamatan Pringsewu, Lampung, menggelar pertunjukan wayang kulit yang sarat makna dan budaya. Acara ini digelar di lapangan desa pada Selasa malam (25/6), dan menjadi magnet bagi ratusan warga dari berbagai kalangan yang antusias menyaksikan seni tradisi leluhur tersebut.

Kegiatan yang turut didukung oleh pemerintah desa dan tokoh masyarakat ini mengusung semangat pelestarian budaya warisan nusantara, sekaligus memperkuat nilai-nilai spiritual dan kebersamaan antarwarga. Suasana malam semakin khidmat saat gendang gamelan mengiringi lakon pewayangan yang dibawakan oleh dalang lokal ternama. Kisah yang diangkat pun tak hanya menghibur, tetapi juga menyampaikan pesan moral yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Unggahan foto dan informasi kegiatan ini dibagikan oleh akun Facebook “Pringsewu Lampung” dan langsung mendapat perhatian warganet. Di antara banyaknya komentar, akun bernama Subagio menuliskan, “Terima kasih telah melestarikan budaya yang ada di Indonesia – Semoga bermanfaat bagi pemirsa di mana berada – aamin yarobbal allamin.” Komentar tersebut mendapat banyak respon positif, menunjukkan antusiasme dan apresiasi publik terhadap upaya pelestarian budaya lokal.

Kepala Pekon Sidoharjo dalam sambutannya menyampaikan harapan agar generasi muda terus mencintai dan menjaga budaya daerah. “Wayang kulit bukan sekadar hiburan, tetapi cerminan filosofi kehidupan dan kearifan lokal yang harus terus diwariskan,” ujarnya.

Selain pertunjukan wayang kulit, perayaan HUT desa dengan wayang kulit juga diisi dengan berdoa bersama. Doa bersama, pengajian akbar.

Dengan kolaborasi antara tradisi dan semangat kebersamaan, perayaan 1 Muharam dan HUT Pekon Sidoharjo ke-72 ini menjadi bukti nyata bahwa budaya bisa menjadi jembatan spiritual sekaligus sosial bagi masyarakat. Sebuah langkah inspiratif yang patut ditiru oleh desa-desa lainnya di seluruh Indonesia. (Abd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *