Di hari yang suci ini, Pimpinan dan seluruh jajaran PT SNIPERNEW MEDIA PERS serta PT Karya Gemilang Pemburu Fakta bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Banner SNIPERNEW
Keluarga Besar PT SNIPERNEW MEDIA PERS dan PT Karya Gemilang Pemburu Fakta
bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Kesehatan

Kasus Stunting di Pesawaran: Balita 2,6 Tahun Dirawat di RS Abdul Moeloek, Pengawasan Program Dipertanyakan

1136
×

Kasus Stunting di Pesawaran: Balita 2,6 Tahun Dirawat di RS Abdul Moeloek, Pengawasan Program Dipertanyakan

Sebarkan artikel ini

Pesawaran, SniperNew.id – Kasus stunt­ing kem­bali men­ja­di sorotan di Kabu­pat­en Pesawaran, Provin­si Lam­pung. Seo­rang bali­ta berna­ma Muham­mad Aepudin bin Sukriyah (2,6 tahun), war­ga Desa Bayas Jaya, Keca­matan Way Khi­lau, kini ten­gah men­jalani per­awatan inten­sif di RSUD Abdul Moeloek Ban­dar Lam­pung aki­bat kon­disi kurang gizi yang serius. Peri­s­ti­wa ini men­cu­at pada Ming­gu, 14 Sep­tem­ber 2025, dan meman­tik per­ha­t­ian masyarakat ser­ta para pemangku kebi­jakan terkait efek­tiv­i­tas pro­gram pence­ga­han stunt­ing di daer­ah terse­but, Senin (15/09).

Infor­masi yang dihim­pun SniperNew.id menye­butkan, Muham­mad Aepudin awal­nya menun­jukkan gejala kurang gizi sejak beber­a­pa bulan ter­akhir. Orang tuanya, Sukriyah dan istrinya, telah beru­paya mem­berikan per­awatan rumah tang­ga dan mengiku­ti pro­gram Posyan­du di desa setem­pat. Namun, kon­disi fisik bali­ta terse­but semakin mem­bu­ruk hing­ga akhirnya dibawa ke fasil­i­tas kese­hatan tingkat per­ta­ma dan kemu­di­an diru­juk ke RS Abdul Moeloek.

Seo­rang ker­abat kelu­ar­ga yang eng­gan dise­butkan namanya menyam­paikan bah­wa berat badan Aepudin jauh di bawah stan­dar usia, dan perkem­ban­gan fisiknya tidak sesuai den­gan indika­tor per­tum­buhan bali­ta nor­mal. “Kami sudah berusa­ha mem­beri asu­pan makanan seadanya. Tapi keadaan ekono­mi kelu­ar­ga juga ter­batas. Akhirnya dok­ter men­yarankan diru­juk ke rumah sak­it agar men­da­p­atkan per­awatan lebih lengkap,” ujarnya.

Menu­rut sum­ber medis di RS Abdul Moeloek, pasien men­gala­mi stunting—gangguan per­tum­buhan aki­bat keku­ran­gan gizi kro­nis. Stunt­ing bukan hanya berdampak pada ting­gi badan, tetapi juga pada perkem­ban­gan otak dan kese­hatan jang­ka pan­jang. Per­awatan inten­sif sedang dilakukan, ter­ma­suk pem­ber­ian asu­pan gizi tam­ba­han dan peman­tauan medis berkala.

Kelu­ar­ga Muham­mad Aepudin kini mem­o­hon doa dan dukun­gan dari masyarakat. Ayah­nya, Sukriyah, menyam­paikan hara­pan­nya agar putranya dap­at pulih dan segera kem­bali ke rumah. “Kami berharap Aepudin bisa sehat kem­bali. Mohon doa dan dukun­gan semua pihak. Kami juga berharap pemer­in­tah daer­ah mem­per­hatikan kon­disi anak kami,” katanya.

  Penyakit Kulit yang Membandel di Tubuh? Ini Solusinya Secara Alami dan Ampuh!

Dukun­gan seru­pa juga datang dari war­ga Desa Bayas Jaya. Beber­a­pa tetang­ga dan ker­abat turut mem­ban­tu kelu­ar­ga, baik secara moral maupun materi, mes­ki kon­disi ekono­mi mere­ka juga pas-pasan. Seo­rang tetang­ga, Ningsih (30), menu­turkan, “Kami semua sedih menden­gar Aepudin harus dirawat. Ini bukan hanya masalah kelu­ar­ga Sukriyah, tetapi juga masalah kita bersama. Semoga pemer­in­tah cepat tang­gap.”

Ket­ua Jajaran Wartawan Indone­sia (JWI) Lam­pung, Rudi Sapari, ikut angkat bicara. Dalam keteran­gan­nya kepa­da SniperNew.id, ia mem­per­tanyakan sejauh mana pro­gram pence­ga­han stunt­ing yang telah digen­car­kan pemer­in­tah daer­ah, provin­si, hing­ga pusat benar-benar ber­jalan efek­tif di lapan­gan.

“Den­gan keja­di­an ini, men­ja­di per­tanyaan besar terkait pen­gawasan pro­gram stunt­ing. Apakah sela­ma ini hanya sebatas lapo­ran ter­tulis dan ser­e­mo­ni­al rap­at tahu­nan yang meng­habiskan anggaran, semen­tara fak­tanya masih ada anak-anak yang men­gala­mi kurang gizi?” ujar Rudi.

Ia menam­bahkan, kasus seper­ti Aepudin seharus­nya bisa dice­gah melalui peman­tauan kese­hatan bali­ta yang lebih ketat dan pen­dampin­gan kelu­ar­ga miskin secara lang­sung. “Pemer­in­tah harus hadir bukan hanya dalam ben­tuk kebi­jakan di atas ker­tas, tetapi dalam tin­dakan nya­ta. Kami mem­inta pemer­in­tah desa, keca­matan, dinas kese­hatan, dan Pemkab Pesawaran berg­er­ak cepat mem­beri dukun­gan,” tegas­nya.

Stunt­ing telah lama men­ja­di masalah serius di berba­gai wilayah Indone­sia, ter­ma­suk Lam­pung. Data Dinas Kese­hatan Provin­si Lam­pung pada 2024 men­catat, prevalen­si stunt­ing di beber­a­pa kabu­pat­en, ter­ma­suk Pesawaran, masih di atas rata-rata nasion­al mes­ki sudah ada pro­gram inter­ven­si gizi, edukasi kese­hatan, dan ban­tu­an pan­gan.

Menu­rut penga­mat kese­hatan masyarakat lokal, tan­ta­n­gan uta­ma dalam menekan angka stunt­ing di Lam­pung adalah:

1. Dis­tribusi Ban­tu­an yang Tidak Mer­a­ta – Beber­a­pa kelu­ar­ga miskin di pedesaan belum sepenuh­nya tersen­tuh pro­gram ban­tu­an gizi.

  Heboh! Popok Susu Balita Dibanting Harga!

2. Kurangnya Edukasi Gizi di Tingkat Desa – Penge­tahuan kelu­ar­ga ten­tang pola makan seim­bang dan kese­hatan ibu hamil masih ter­batas.

3. Pen­gawasan Lemah – Pen­gawasan pelak­sanaan pro­gram stunt­ing ser­ing kali hanya sebatas for­mal­i­tas tan­pa eval­u­asi menyelu­ruh.

4. Keter­batasan Tena­ga Medis – Di beber­a­pa desa ter­pen­cil, akses ke tena­ga kese­hatan masih min­im.

Kon­disi ini mem­per­li­hatkan bah­wa mes­ki pro­gram penan­ganan stunt­ing gen­car dis­osial­isas­ikan, reali­ta di lapan­gan masih meng­hadapi ham­bat­an besar.

Menang­gapi kri­tik yang muncul, peja­bat Pemkab Pesawaran yang dihubun­gi SniperNew.id meny­atakan bah­wa pihaknya akan segera menin­dak­lan­ju­ti kasus Aepudin. “Kami pri­hatin dan akan memas­tikan anak terse­but men­da­p­atkan penan­ganan ter­baik. Kami juga akan mengeval­u­asi pro­gram pence­ga­han stunt­ing di selu­ruh keca­matan,” kata seo­rang peja­bat Dinas Kese­hatan Pesawaran yang eng­gan dise­butkan namanya kare­na belum men­da­p­atkan izin res­mi mem­berikan perny­ataan.

Ia menam­bahkan bah­wa pihak dinas kese­hatan telah men­gin­struk­sikan puskesmas dan posyan­du untuk lebih aktif meman­tau bali­ta berisiko stunt­ing. Selain itu, ban­tu­an gizi tam­ba­han akan dis­alurkan untuk kelu­ar­ga-kelu­ar­ga yang mem­bu­tuhkan.

Aktivis kese­hatan masyarakat dari LSM Peduli Gizi Lam­pung, Siti Rah­mawati, meni­lai bah­wa kasus ini harus men­ja­di momen­tum eval­u­asi besar-besaran. “Stunt­ing bukan hanya ten­tang angka sta­tis­tik. Ini ten­tang masa depan gen­erasi kita. Keti­ka satu anak men­gala­mi stunt­ing, dampaknya pan­jang-dari kese­hatan hing­ga kual­i­tas sum­ber daya manu­sia di masa depan,” ujarnya.

Rah­mawati mende­sak Pemkab Pesawaran untuk meli­batkan lebih banyak komu­ni­tas lokal dalam pro­gram pence­ga­han. “Jan­gan hanya men­gan­dalkan rap­at koor­di­nasi dan lapo­ran bulanan. Ajak tokoh masyarakat, ibu-ibu PKK, dan organ­isasi pemu­da ter­li­bat lang­sung men­dampin­gi kelu­ar­ga yang rentan,” tam­bah­nya.

Sejum­lah neti­zen di media sosial juga ramai mem­bicarakan kasus Aepudin. Banyak yang men­gungkap­kan kepri­hati­nan sekali­gus mem­per­tanyakan kem­ana alokasi anggaran pence­ga­han stunt­ing sela­ma ini. Hash­tag #Stunt­ing­Pe­sawaran bahkan sem­pat men­ja­di top­ik hangat di Lam­pung pada Ming­gu malam.

  Lampung Bergerak Menuju Bebas TBC 2030

Stunt­ing tidak sema­ta-mata dise­babkan oleh kemiski­nan, tetapi juga fak­tor lain seper­ti kurangnya edukasi gizi, pola asuh yang tidak tepat, san­i­tasi buruk, ser­ta min­im­nya akses ke layanan kese­hatan berkual­i­tas. Ahli gizi dari Uni­ver­si­tas Lam­pung, Dr. Desi Kar­tikasari, men­je­laskan bah­wa stunt­ing bisa dice­gah jika inter­ven­si dilakukan sejak dini, bahkan sejak masa kehami­lan.

“Pem­ber­ian asu­pan gizi yang baik bagi ibu hamil, peman­tauan kese­hatan bayi secara rutin, dan penye­di­aan makanan bergizi seim­bang adalah kun­ci. Pemer­in­tah daer­ah juga harus memas­tikan air bersih dan san­i­tasi memadai di desa-desa,” kata Desi.

Kasus Aepudin men­ja­di pengin­gat bah­wa stunt­ing masih men­ja­di tan­ta­n­gan nya­ta di Lam­pung. Masyarakat berharap pemer­in­tah daer­ah dan pusat dap­at lebih serius melakukan pen­gawasan dan menyalurkan ban­tu­an secara tepat sasaran.

Rudi Sapari dari JWI Lam­pung menut­up perny­ataan­nya den­gan hara­pan besar: “Jan­gan sam­pai kasus seper­ti ini teru­lang. Kami mem­inta semua pihak untuk bek­er­ja sama demi masa depan gen­erasi Pesawaran. Anak-anak seper­ti Aepudin berhak men­da­p­atkan kesem­patan hidup sehat dan tum­buh cer­das.”

Semen­tara itu, kelu­ar­ga Aepudin tetap opti­mistis. Mes­ki berat, mere­ka per­caya doa dan dukun­gan masyarakat akan men­ja­di keku­atan untuk kesem­buhan anak mere­ka. Sukriyah menyam­paikan ter­i­ma kasih kepa­da semua pihak yang telah menun­jukkan empati. “Kami tidak bisa mem­balas apa-apa, selain doa agar semua yang mem­ban­tu diberi bal­asan kebaikan oleh Tuhan,” ujarnya lir­ih.

Kasus stunt­ing yang menim­pa Muham­mad Aepudin bin Sukriyah di Pesawaran bukan sekadar masalah indi­vidu atau satu kelu­ar­ga. Ini adalah alarm keras bagi selu­ruh pemangku kepentin­gan-dari pemer­in­tah desa hing­ga pusat-untuk mem­perku­at langkah pence­ga­han dan penan­ganan stunt­ing. Eval­u­asi menyelu­ruh, koor­di­nasi lin­tas sek­tor, ser­ta keter­li­batan aktif masyarakat san­gat dibu­tuhkan agar keja­di­an seru­pa tidak lagi meng­han­tui masa depan anak-anak Indone­sia.

Penulis: (Sufiyawan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *