Pringsewu, SniperNew.id – Upaya pemerintah daerah dalam menurunkan angka stunting terus digencarkan. Salah satunya dengan menggelar Minilokakarya Percepatan Penanganan Stunting yang berlangsung di Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pringsewu, Senin (29/09). Acara tersebut dihadiri perwakilan dari lima kecamatan, yaitu Pagelaran, Gadingrejo, Pringsewu, Ambarawa, dan Pardasuka.
Kegiatan ini bukan merupakan forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), melainkan forum khusus yang difokuskan pada isu kesehatan, terutama pencegahan dan percepatan penurunan stunting.
Minilokakarya stunting adalah forum lintas sektor yang bertujuan membahas strategi, sinergi, serta langkah nyata antar-pemangku kepentingan dalam percepatan penanganan stunting. Forum ini melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah kecamatan, puskesmas, perangkat pekon/kelurahan, hingga kader kesehatan dan tokoh masyarakat.
Stunting sendiri adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis dalam waktu lama. Anak yang mengalami stunting memiliki tinggi badan lebih pendek dari rata-rata usianya serta berisiko mengalami gangguan perkembangan kognitif.
Berdasarkan data pemerintah, angka stunting di Indonesia masih berada pada angka sekitar 21,6 persen pada 2022. Pemerintah menargetkan angka tersebut turun menjadi 14 persen pada 2024. Upaya penurunan stunting ini dilakukan secara terpadu melalui peningkatan kualitas layanan gizi, kesehatan ibu dan anak, sanitasi, serta edukasi kepada masyarakat.
Minilokakarya di Kecamatan Pagelaran dihadiri oleh camat, kepala puskesmas, perangkat pekon, dan unsur lintas sektor lainnya dari lima kecamatan, Yaitu: Kecamatan Pagelaran, Kecamatan Gadingrejo, Kecamatan Pringsewu, Kecamatan Ambarawa, Kecamatan Pardasuka.
Selain itu, turut hadir para kader kesehatan, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta organisasi perempuan yang selama ini menjadi mitra dalam program kesehatan ibu dan anak.
Camat Ambarawa, Anton Dwi Wahyono, SE., M.Si., menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya forum ini melalui pesan WhatsApp kepada awak media.
“Minilokakarya ini sangat penting karena stunting bukan hanya masalah gizi, tetapi masalah masa depan generasi kita. Anak-anak yang sehat adalah modal pembangunan bangsa. Dengan forum ini, kita bisa menyatukan langkah, baik dari kecamatan, puskesmas, maupun masyarakat,” ujar Anton, Senin (29/09).
Anton menegaskan bahwa peran lintas sektor sangat menentukan keberhasilan program percepatan penurunan stunting. Menurutnya, camat, kepala pekon, bidan desa, hingga kader Posyandu memiliki tanggung jawab bersama dalam memberikan edukasi kepada masyarakat.
“Kita harus pastikan ibu hamil mendapat asupan gizi yang baik, balita rutin dibawa ke Posyandu, dan keluarga memahami pentingnya sanitasi. Kalau ini kita kerjakan bersama, saya optimistis angka stunting di Kabupaten Pringsewu bisa ditekan,” imbuhnya.
Stunting tidak hanya berpengaruh pada tinggi badan anak, tetapi juga berdampak pada perkembangan otak, kecerdasan, dan produktivitas saat dewasa. Dengan kata lain, stunting adalah ancaman terhadap kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Menurut Anton, salah satu penyebab masih tingginya angka stunting adalah kurangnya kesadaran masyarakat mengenai pola makan bergizi seimbang. Selain itu, faktor lingkungan, sanitasi yang buruk, dan perilaku hidup bersih juga ikut memengaruhi.
“Masih banyak keluarga yang kurang paham tentang pentingnya pemberian ASI eksklusif, MPASI yang tepat, serta pola asuh yang benar. Di sisi lain, sanitasi yang buruk juga memperparah kondisi ini. Jadi penanganan stunting tidak bisa hanya oleh satu pihak, tapi harus kolaboratif,” jelas Anton.
Dalam lokakarya ini, beberapa strategi penting dibahas, antara lain:
1. Penguatan Layanan Posyandu
Posyandu menjadi garda terdepan dalam pencegahan stunting. Melalui kegiatan penimbangan, pemberian vitamin, imunisasi, dan edukasi, Posyandu diharapkan semakin aktif dan didukung penuh oleh masyarakat.
2. Pendampingan Ibu Hamil dan Balita
Kader kesehatan didorong untuk aktif mendampingi ibu hamil, memastikan mereka rutin memeriksakan kandungan, mengonsumsi tablet tambah darah, serta menjaga pola makan.
3. Peningkatan Edukasi Gizi dan Sanitasi
Edukasi tentang gizi seimbang, pentingnya mencuci tangan pakai sabun, serta penggunaan jamban sehat terus digalakkan.
4. Sinergi Lintas Sektor
Pemerintah kecamatan, puskesmas, dinas kesehatan, perangkat pekon, dan tokoh masyarakat bekerja sama secara terpadu.
5. Pemanfaatan Data Terpadu
Data balita stunting di masing-masing pekon diintegrasikan agar intervensi lebih tepat sasaran.
Lokakarya berlangsung dalam suasana penuh diskusi dan semangat kolaborasi. Masing-masing kecamatan menyampaikan laporan singkat terkait kondisi stunting di wilayahnya, sekaligus kendala yang dihadapi di lapangan.
Dari laporan tersebut, diketahui bahwa tantangan utama di beberapa kecamatan adalah rendahnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan Posyandu, serta masih ditemukannya keluarga yang belum memiliki sanitasi layak.
Setelah pemaparan, forum dilanjutkan dengan diskusi kelompok. Peserta merumuskan rencana tindak lanjut, seperti mengoptimalkan peran kader, meningkatkan koordinasi antarinstansi, serta menggalakkan kampanye gizi seimbang di sekolah-sekolah dan pekon.
Camat Ambarawa berharap minilokakarya ini bukan sekadar forum seremonial, melainkan menjadi momentum nyata untuk menurunkan angka stunting.
“Kami ingin setelah forum ini, ada langkah konkret di lapangan. Misalnya, semua pekon menargetkan peningkatan cakupan kunjungan Posyandu hingga 90 persen, atau memastikan setiap ibu hamil mendapat pendampingan kader. Kalau target-target kecil ini tercapai, maka target besar untuk menurunkan stunting juga bisa kita raih,” kata Anton.
Lebih jauh, ia menekankan pentingnya dukungan semua pihak, termasuk keluarga, sekolah, dan lembaga masyarakat. “Stunting bukan hanya urusan pemerintah. Ini urusan kita bersama. Kalau anak-anak kita sehat dan cerdas, masa depan Kabupaten Pringsewu juga akan lebih baik,” tutupnya. (abd/ahh/)



















