Di hari yang suci ini, Pimpinan dan seluruh jajaran PT SNIPERNEW MEDIA PERS serta PT Karya Gemilang Pemburu Fakta bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Banner SNIPERNEW
Keluarga Besar PT SNIPERNEW MEDIA PERS dan PT Karya Gemilang Pemburu Fakta
bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Terupdate

Kasus Kematian Kades Karya Mukti Belum Terungkap, Masyarakat Pertanyakan Kinerja Polres Ketapang

855
×

Kasus Kematian Kades Karya Mukti Belum Terungkap, Masyarakat Pertanyakan Kinerja Polres Ketapang

Sebarkan artikel ini

 

Keta­pang, SniperNew.id  — Kasus Kema­t­ian Kepala Desa Karya Muk­ti Andri Yan­syah (34) pada Jumat 29 Novem­ber 2024 lalu, hing­ga kini belum ada titik terang. Kelu­ar­ga kor­ban dan masyarakat men­geluhkan dan menyayangkan kin­er­ja Kepolisian Resor (Pol­res) Pol­res Keta­pang yang terke­san lam­bat.

Menu­rut Kakak kan­dung kor­ban Heri Yunan­da, kasus yang ditan­gani Pol­res Keta­pang hing­ga 40 hari sete­lah kema­t­ian adiknya belum juga men­e­mukan titik terang.

“Kami merasa kece­wa den­gan pros­es penan­ganan kasus ini. Kami sudah mela­porkan kasus ini sejak lama, tapi belum ada kema­juan yang sig­nifikan,” kata Heri Yunan­da kepa­da SniperNewsid Keta­pang Kalbar

Kelu­ar­ga kor­ban juga men­gaku belum mener­i­ma infor­masi yang jelas ten­tang kema­juan kasus terse­but, bahkan hing­ga kini belum ada infor­masi men­ge­nai Tahap I (satu) dalam pros­es penan­ganan kasus ini, yakni pen­ga­juan berkas perkara ke kejak­saan untuk diteliti.

“Kami hanya men­da­p­atkan jan­ji-jan­ji dari pihak Pol­res, tapi belum ada tin­dakan nya­ta,” tam­bah­nya.

  Peringati HUT RI Ke-79, Satgas Pamtas RI-Malaysia Yonzipur 5/ABW Laksanakan Upacara Bendera

Kelu­ar­ga kor­ban melalui Lem­ba­ga Ban­tu­an Hukum Kapuas Raya Indone­sia (LBH KRI), Iga Pebri­an Prata­ma menyam­paikan bah­wa penan­ganan Tem­pat Keja­di­an Perkara (TKP) yang dini­lai kurang opti­mal. Seharus­nya, TKP dia­mankan secara menyelu­ruh untuk mence­gah kon­t­a­m­i­nasi buk­ti.

“Garis polisi (police line) secara menyelu­ruh baru dipasang pada tang­gal 28 Desem­ber 2024 lalu, dan sebelum­nya TKP masih ditem­pati oleh pihak-pihak yang tidak berwe­nang. Ini menim­bulkan kekhawati­ran akan hilangnya buk­ti pent­ing,” ujar Egi Pebri­an Prata­ma kepa­da awak media.

Sebelum­nya Pol­res Keta­pang telah mene­tap­kan istri siri kor­ban berin­isial (ND) seba­gai ter­sang­ka kasus mening­gal­nya Kepala Desa Karya Muk­ti sebelum rekon­struk­si berlang­sung.

LBH KRI juga meny­oroti terkait Surat Pem­ber­i­tahuan Perkem­ban­gan Hasil Penyidikan (SP2HP), Pihaknya men­e­mukan adanya inkon­sis­ten­si dalam pen­ge­naan pasal ter­hadap ter­duga pelaku. Kepa­da ter­sang­ka, pihak berwe­nang men­er­ap­kan Pasal 338 KUHP dan kemu­di­an berubah men­ja­di Pasal 359 KUHP.

“Awal­nya, pihak berwe­nang men­er­ap­kan Pasal 338 KUHP ten­tang pem­bunuhan, namun kemu­di­an diubah men­ja­di Pasal 359 KUHP ten­tang kelala­ian yang menye­babkan kema­t­ian, tan­pa pen­je­lasan yang memadai. Pada­hal, sudah ada pihak yang ditangkap den­gan dasar Pasal 338 KUHP,” imbuh­nya.

Selan­jut­nya tokoh masyarakat Keca­matan Sun­gai Melayu Rayak Desa Karya Muk­ti, Abu Huraira, mem­inta kepa­da Pol­res Keta­pang secepat­nya menye­le­saikan dan men­gungkap kasus mening­gal­nya Andri Yan­syah (34).

  Dandim 0301 Pekanbaru Hadiri Sosialisasi dan Diseminasi Pembinaan Kesadaran Bela Negara

“Intinye kami minta kasus ini dap­at diungkap secara terang ben­derang secepat­nya oleh Pol­res Keta­pang, penye­lidikan tun­tas den­gan pem­buk­t­ian ilmi­ah, meli­batkan ahli dig­i­tal foren­sik, psikolo­gi foren­sik, ahli hukum pidana dan lain-lain,” ucap­nya.

Hal sena­da juga dis­am­paikan oleh war­ga Desa Sun­gai Pelang Tati Ron­di­ah, bah­wa dirinya dan masyarakat san­gat ingin menge­tahui perkem­ban­gan kasus mening­gal­nya Kades Karya Muk­ti terse­but.

“Kami penasaran kasus pem­bunuhan Kades Karya Muk­ti ini apakah kar­na har­ta, tah­ta atau bahkan cin­ta. Kena­pa seper­tinya Pol­res Keta­pang lam­bat ya saat menan­gani kasus­nya, sam­pai saat ini kami masih bertanya-tanya motif pem­bunuhan,” tuturnya kepa­da SniperNewsid Keta­pang Kalbar beber­a­pa wak­tu lalu.

Menang­gapi per­tanyaan kelu­ar­ga kor­ban dan masyarakat terse­but, Kapol­res Keta­pang AKBP Setia­di men­je­laskan bah­wa saat ini pros­es penyidikan sedang berlang­sung, kare­na ada beber­a­pa hal yang sedang kem­bangkan untuk bisa memas­tikan pem­buk­tian­nya.

“Pros­es penyidikan kasus kema­t­ian Kades Karya Muk­ti saat ini masuk dalam materi penyidikan, terkait ter­sang­ka sudah mulai ter­de­tek­si, namun kami masih men­er­ap­kan asas praduga tak bersalah. Kami tetap berusa­ha mem­perku­at pem­buk­t­ian, agar penyidikan yg dilakukan opti­mal,” jelas AKBP Setia­di saat dikon­fir­masi Jur­nal­bor­neo, Jumat (10/01/2025).

AKBP Setia­di berharap kelu­ar­ga dan masyarakat bersabar agar secepat­nya kasus terse­but dap­at segera dia­jukan ke per­si­dan­gan.

  DPRD Kabupaten Tegal: H. Bakrun, S.H., M.Kn. Menjaring Aspirasi Masyarakat Dapil 3

“Mohon doa nya saja, secepat­nya bisa kita sele­saikan penyidikan­nya, agar bisa segera di ajukan ke per­si­dan­gan. Kami tetap berkomit­men untuk bisa mem­berikan kead­i­lan dan kepas­t­ian bagi kelu­ar­ga kor­ban. Untuk infor­masi lebih lan­jut bisa dikon­fir­masi kepa­da Kasatreskrim Pol­res Keta­pang,” tuturnya.

Ditem­pat berbe­da Jur­nal­bor­neo men­datan­gi Kasatreskrim Pol­res Keta­pang Wawan Der­mawan untuk melakukan wawan­cara menyam­paikan terkait peruba­han pasal ter­hadap ter­sang­ka (ND) dan garis polisi yang Baru dipasang oleh polisi.

“Peruba­han pasal 338 KUHP men­ja­di Pasal 359 meru­pakan hasil pengem­ban­gan penyidikan dan untuk police line yang baru ter­pasang meru­pakan per­mintaan dari kelu­ar­ga kor­ban,” tegas­nya.

Pihaknya telah mener­i­ma resume hasil Autop­si dari Pusat Lab­o­ra­to­ri­um Foren­sik (Pus­lab­for), tetapi hasil terse­but tidak dap­at dibu­ka ke pub­lik ter­ma­suk kelu­ar­ga kor­ban.

“Hasil Autop­si dari Pus­lab­for hanya boleh dibu­ka di Pen­gadi­lan sesuai den­gan atu­ran yakni Undang-Undang Kese­hatan Nomor 30 Tahun 2009 dan Autop­si untuk pene­gakan hukum diatur dalam Pasal 122 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Ten­tang Kese­hatan dan Pasal 133 KUHAP. Kepa­da kelu­ar­ga kor­ban dan masyarakat, kami minta untuk bersabar, kare­na kami sedang bek­er­ja mak­si­mal untuk men­gungkap kasus ini secara terang dan tepat,” pungkas­nya, kepa­da awak media SniperNewsid Keta­pang Kalbar, Selasa (14/1/2025)

 

Penulis: (Juma­di)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *