Jakarta, SniperNew.id – Pemandangan berbeda terlihat di lingkungan Polres Metro Jakarta Timur pada Minggu (31/8/2025). Sejumlah polisi, pengemudi ojek online (ojol), hingga warga sekitar tampak bahu-membahu membersihkan puing-puing sisa kebakaran yang terjadi dua hari sebelumnya, usai aksi demonstrasi berujung ricuh pada Jumat (29/8/2025) malam.
Bangunan kantor kepolisian yang sebelumnya dipenuhi jelaga, sisa material terbakar, hingga dinding yang menghitam, kini perlahan mulai dibersihkan. Suasana penuh keakraban tampak jelas ketika petugas kepolisian dan para driver ojol bersama-sama mengangkat peralatan, menyapu, mengecat, hingga memperbaiki bagian bangunan yang rusak.
Kapolres Metro Jakarta Timur, Kombes Alfian Nurrizal, mengungkapkan rasa syukur dan harapannya setelah kegiatan gotong royong tersebut.
“Alhamdulillah hari ini kita bisa bersama-sama membersihkan. Semoga besok, di hari Senin, Polres Metro Jakarta Timur dapat kembali lebih baik, lebih sempurna, dan lebih maksimal dalam memberikan pelayanan kepada warga,” ujar Alfian kepada wartawan.
Kegiatan gotong royong ini tidak hanya menjadi simbol pemulihan fisik atas kerusakan gedung, tetapi juga pemulihan psikologis dan sosial antara kepolisian, masyarakat, dan pemerintah daerah.
Dalam video yang beredar di media sosial, tampak jelas para pengemudi ojol yang mengenakan jaket hijau khas mereka bekerja berdampingan dengan aparat kepolisian berseragam cokelat. Ada yang membersihkan sisa puing di dinding, ada pula yang naik ke atap untuk memperbaiki bagian yang terbakar.
Seorang driver ojol yang turut serta, Fajar (34), mengaku tergerak untuk membantu karena merasa kantor polisi adalah bagian dari fasilitas publik yang harus kembali difungsikan.
“Kami juga warga Jakarta Timur. Kalau kantor polisi tidak segera pulih, tentu pelayanan masyarakat bisa terganggu. Jadi kami senang bisa ikut gotong royong. Bukan hanya soal bangunan, tapi lebih ke rasa kebersamaan,” kata Fajar.
Sementara itu, Lurah Rawa Bunga, yang ikut mendampingi pembersihan, menegaskan bahwa aksi gotong royong ini adalah bentuk solidaritas bersama untuk menjaga keberlangsungan pelayanan publik.
“Kami tidak ingin Polres Metro Jakarta Timur dibiarkan begitu saja setelah insiden. Dengan gotong royong, kita bisa tunjukkan bahwa apapun masalah yang terjadi, masyarakat dan pemerintah bisa tetap bersatu,” ujarnya.
Kerusuhan pada Jumat malam (29/8/2025) bermula dari aksi demonstrasi yang digelar sejumlah massa di sekitar kantor Polres Metro Jakarta Timur. Aksi tersebut awalnya berlangsung damai, namun memanas menjelang malam hari. Bentrokan kecil berujung pada pembakaran sebagian gedung Polres, termasuk pos penjagaan depan dan beberapa ruangan pelayanan.
Api berhasil dipadamkan pada malam itu juga, namun meninggalkan kerusakan yang cukup parah. Beberapa dokumen dan fasilitas kantor ikut terbakar, meskipun pihak kepolisian memastikan tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.
Pasca kejadian, aparat kepolisian bersama Pemerintah Kota Jakarta Timur langsung melakukan langkah darurat untuk memastikan pelayanan publik tidak terganggu. Salah satunya dengan memindahkan sementara sejumlah layanan administrasi ke kantor Satlantas terdekat.
Namun, bagi banyak warga, pemandangan kantor polisi yang rusak dan menghitam menjadi simbol luka yang harus segera dipulihkan.
Unggahan video gotong royong antara ojol dan polisi yang beredar di media sosial Threads langsung menarik perhatian warganet. Video tersebut memperlihatkan keakraban yang jarang terlihat, terutama pasca peristiwa demonstrasi yang sering diwarnai ketegangan antara aparat dan masyarakat.
Akun @beritaterkini_masyarakat, yang pertama kali membagikan dokumentasi kegiatan ini, mencatat puluhan ribu penayangan hanya dalam hitungan jam. Banyak komentar positif mengapresiasi kebersamaan tersebut.
Beberapa komentar warganet menyebut aksi gotong royong ini sebagai momen yang bisa mencairkan suasana.
“Mantap, semoga polisi dan rakyat makin kompak,” tulis seorang pengguna.
“Jarang-jarang lihat ojol sama polisi kerja bareng begini. Salut,” tambah yang lain.
Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya menjadi tempat menyebarkan informasi buruk atau kabar kerusuhan, tetapi juga bisa menjadi ruang untuk menampilkan sisi positif kebersamaan.
Dalam keterangannya, Kombes Alfian Nurrizal menegaskan bahwa pelayanan kepada masyarakat akan tetap menjadi prioritas utama meski sempat terganggu akibat insiden kebakaran.
“Kami berkomitmen, secepatnya Polres Metro Jakarta Timur dapat kembali melayani masyarakat dengan optimal. Kami juga terbuka menerima bantuan dan dukungan dari siapa pun, karena kepolisian adalah bagian dari masyarakat itu sendiri,” katanya.
Pemerintah Kota Jakarta Timur pun berjanji akan membantu proses renovasi dan pemulihan gedung agar bisa segera difungsikan kembali. Langkah ini termasuk memperbaiki jaringan listrik, memperkuat struktur bangunan yang terdampak, serta mengganti fasilitas pelayanan yang rusak.
Bagi masyarakat, keberadaan kantor polisi yang berfungsi penuh sangat penting, terutama dalam hal pelayanan administrasi seperti laporan kehilangan, pengurusan SIM, SKCK, hingga penanganan kasus hukum.
Aksi pembersihan Polres Jakarta Timur ini menjadi contoh nyata bahwa nilai gotong royong masih hidup di tengah masyarakat perkotaan. Meski sibuk dengan aktivitas masing-masing, masyarakat masih bersedia meluangkan waktu untuk turun tangan membantu kepentingan bersama.
Sosiolog dari Universitas Negeri Jakarta, Dr. Indah Pratiwi, menilai bahwa momentum ini bisa menjadi jembatan untuk mempererat kembali hubungan masyarakat dengan institusi kepolisian.
“Ada jarak yang seringkali terasa antara aparat dan warga. Tapi momen seperti ini bisa mencairkan ketegangan, menunjukkan bahwa keduanya sebenarnya sama-sama manusia yang ingin lingkungannya aman, nyaman, dan tertata,” ujarnya.
Lebih jauh, Indah menekankan pentingnya merawat semangat gotong royong ini agar tidak hanya muncul saat terjadi musibah. Menurutnya, kepedulian sosial bisa menjadi modal besar bagi masyarakat Jakarta yang heterogen.
Meski insiden kebakaran akibat demonstrasi meninggalkan luka, cerita tentang kebersamaan ini menjadi oase yang menyejukkan. Media sosial kini ramai dengan tagar seperti #GotongRoyongPolresJaktim dan #PolisiOjolBersatu, menandakan banyaknya orang yang menaruh perhatian pada aksi positif tersebut.
Bahkan, sejumlah tokoh masyarakat turut mengapresiasi. Seorang anggota DPRD DKI Jakarta menyebut aksi gotong royong itu sebagai bukti bahwa konflik tidak harus diakhiri dengan perpecahan.
“Justru dengan kebersamaan, kita bisa lebih cepat pulih. Saya berharap momen ini bisa jadi pelajaran berharga bagi semua pihak,” katanya.
Dengan semangat gotong royong yang ditunjukkan, Polres Metro Jakarta Timur menatap hari Senin (1/9/2025) dengan optimisme baru. Para polisi bersama masyarakat yakin bahwa meski masih ada banyak perbaikan yang harus dilakukan, pelayanan publik tidak boleh berhenti.
Bagi warga Jakarta Timur, aksi ini bukan hanya soal membersihkan puing-puing gedung, melainkan juga membersihkan luka sosial yang sempat tercipta.
Seorang ibu rumah tangga bernama Nurhayati (45) yang tinggal tidak jauh dari Polres mengungkapkan perasaan harunya.
“Kemarin saya takut sekali waktu lihat api membesar. Tapi hari ini saya lega, ternyata polisi dan warga bisa kerja bareng. Saya percaya, kalau kita kompak, masalah sebesar apa pun bisa dilewati,” tuturnya.
Peristiwa gotong royong pembersihan Polres Metro Jakarta Timur pasca demo ini menjadi bukti bahwa solidaritas dan kebersamaan tetap menjadi nilai penting dalam kehidupan bermasyarakat. Di balik tragedi dan kerusuhan, selalu ada ruang untuk harapan dan kebangkitan.
Sebagaimana diungkapkan oleh Kapolres Metro Jakarta Timur, semoga dengan kerja sama semua pihak, pelayanan kepada masyarakat dapat kembali berjalan maksimal.
Dengan gotong royong, luka bisa sembuh lebih cepat, dan Jakarta Timur bisa melangkah menuju masa depan yang lebih baik. (Red)



















