Jawa Tengah, SniperNew.id — Seorang peserta seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) bernama Tri Cahyani mengalami nasib tragis setelah dinyatakan gagal lolos seleksi karena tinggi badannya kurang 0,5 cm dari syarat minimum, meski ia meraih nilai tertinggi dalam ujian Seleksi Kompetensi Dasar (SKD), Selasa 05 Agustus 2025.
Tri Cahyani, yang mengikuti seleksi untuk formasi Penjaga Tahanan (Polsuspas), mengaku sangat terkejut saat hasil pengukuran tinggi badannya di tempat seleksi mencatatkan angka 157,5 cm, sedangkan syarat minimal tinggi badan untuk formasi tersebut adalah 158 cm.
“Saya syok banget, biasanya di rumah tinggi saya 159 cm. Tapi saat seleksi cuma diukur 157,5 cm,” ungkap Tri dalam unggahan yang dibagikan oleh akun liza_seftika di platform Threads.
Unggahan itu pun menyebar luas dan memicu berbagai komentar dari warganet yang terbagi dalam dua kubu: yang menyayangkan ketatnya aturan seleksi dan yang memahami ketentuan baku untuk formasi tertentu seperti penjaga tahanan.
Persyaratan Tinggi Badan Jadi Penentu.
Dikutip dari komentar pengguna sugar_plum2303, Selasa (05/08) formasi yang dipilih Tri memang secara spesifik mensyaratkan tinggi badan. Dalam rekrutmen penjaga tahanan, aturan tersebut bersifat mutlak dan tidak bisa ditawar, bahkan selisih sekecil 0,1 cm pun dapat menyebabkan gugur seleksi.
“Dia ambil formasi penjaga tahanan yang mempersyaratkan tinggi badan. Mau selisih 0,1 cm pun kalau kurang dari persyaratan ya pasti gugur. Nilai tertinggi? Di formasi penjaga tahanan, nilainya bersaing ketat, paling antara no 1 dan 2 selisihnya tidak sampai 10 poin. Jadi apa yang harus diributkan?” tulis akun tersebut.
Alat Ukur Tidak Standar?
Sementara itu, komentar dari akun ha_jipan menyoroti kemungkinan perbedaan alat ukur dan kondisi saat pengukuran yang bisa memengaruhi hasil tinggi badan. Ia menilai, alat ukur di rumah bisa tidak akurat dibanding alat ukur “resmi” yang digunakan dalam fasilitas kesehatan saat tes CPNS.
“Kalau untuk polsuspas memang syarat min 158. Nah, si mbak Tri biasanya itu ngukur pakai apa di rumah? Bisa jadi alat ukurnya tidak standar, dan biasanya banyak orang merasa lebih tinggi, tapi pas diukur lebih pendek 0,5–2 cm,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan pentingnya menjaga postur tubuh tetap tegak, karena membungkuk sedikit saja bisa menurunkan hasil pengukuran tinggi badan. Ia menyarankan agar peserta seleksi menjaga postur melalui olahraga, yoga, atau stretching secara rutin agar tidak terpengaruh posisi tubuh saat diukur.
Respons Warganet: Dari Simpati hingga Kritik.
Tak sedikit warganet yang mengungkapkan rasa simpati terhadap Tri. Namun, ada pula yang menyarankan agar sejak awal peserta harus selektif memilih formasi yang sesuai dengan kondisi fisik masing-masing.
Akun shona_313 berkomentar sinis terhadap sistem seleksi:
“Jangan kaget, di sini memang agak lain. Lebih laku penampilan daripada pemikiran.”
Sementara akun m4ndy.3006 menuliskan, “Gak heran, mungkin ada calon titipan.” Komentar ini menyinggung isu lama terkait dugaan adanya peserta titipan dalam seleksi CPNS, meskipun tidak ada bukti yang mengarah langsung pada kasus Tri.
Adapun akun gariyot lebih rasional dalam komentarnya:
“Dia yang salah, harusnya cari formasi CPNS yang tidak mensyaratkan tinggi badan.”
Polemik Persyaratan Fisik dalam CPNS:
Peristiwa ini membuka kembali diskusi lama mengenai relevansi persyaratan fisik dalam seleksi CPNS, khususnya formasi yang menuntut kemampuan lapangan seperti penjaga tahanan, polisi, atau petugas lapas. Meskipun terkesan kejam, syarat tinggi badan tetap dianggap bagian dari kebutuhan profesional dalam posisi tertentu.
Menurut sejumlah pihak, persyaratan tersebut ditetapkan bukan semata-mata untuk diskriminasi, tetapi karena berhubungan dengan kebutuhan teknis lapangan, seperti pengamanan tahanan, pengawasan, hingga keamanan pribadi petugas itu sendiri.
Namun, tetap saja, kasus seperti yang menimpa Tri Cahyani membuka mata masyarakat tentang perlunya transparansi dan edukasi lebih lanjut sebelum memilih formasi yang dilamar dalam CPNS.
Kisah Tri Cahyani bukan sekadar tentang 0,5 cm tinggi badan, melainkan tentang kegigihan, ketelitian, dan pentingnya memahami setiap detail dalam proses seleksi CPNS. Meski secara intelektual ia berhasil menembus peringkat teratas, namun ia tetap tereliminasi karena satu syarat fisik yang tidak terpenuhi.
Ini menjadi pelajaran bagi calon peserta CPNS lain untuk tidak hanya fokus pada kemampuan akademik, tetapi juga memperhatikan syarat teknis dan administratif secara menyeluruh. Selain itu, pemerintah diharapkan dapat terus mengkaji ulang relevansi syarat fisik pada formasi tertentu, agar tidak menjadi penghalang bagi individu kompeten yang mungkin layak diberi kesempatan.
Reporter: Redaksi Snipernew.id
Sumber: Threads @liza_seftika, komentar warganet.













