Di hari yang suci ini, Pimpinan dan seluruh jajaran PT SNIPERNEW MEDIA PERS serta PT Karya Gemilang Pemburu Fakta bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Banner SNIPERNEW
Keluarga Besar PT SNIPERNEW MEDIA PERS dan PT Karya Gemilang Pemburu Fakta
bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Berita Lifestyle

Dari Kantor Bergengsi ke Jalanan: Kisah Pemulung Lulusan S1 yang Tetap Bahagia

824
×

Dari Kantor Bergengsi ke Jalanan: Kisah Pemulung Lulusan S1 yang Tetap Bahagia

Sebarkan artikel ini

Di ten­gah hiruk pikuk kota, sebuah kisah inspi­ratif datang dari ung­ga­han akun Threads berna­ma “folkkono­ha” pada Senin, 11 Agus­tus 2025. Kisah itu mencer­i­takan momen tak ter­duga seo­rang pria berte­mu den­gan seo­rang pemu­lung yang terny­a­ta adalah lulu­san Stra­ta 1 (S1), fasih berba­hasa Ing­gris, dan per­nah bek­er­ja di perusa­haan ter­na­ma.

Perte­muan terse­but beraw­al saat sang pen­gung­gah sedang ber­jalan pulang dari kan­tor pada sore hari. Ia meli­hat seo­rang pria den­gan karung besar di pung­gung, memu­nguti botol plas­tik di ping­gir jalan. Rasa penasaran mem­bu­at­nya meng­ham­piri dan men­ga­jak berbin­cang. Yang menge­jutkan, bahasa Ing­gris pemu­lung terse­but san­gat lan­car, den­gan pen­gu­ca­pan yang nyaris sem­pur­na.

“Saya kira beli­au turis asing atau per­nah ting­gal di luar negeri, terny­a­ta beli­au asli Indone­sia,” tulis “folkkono­ha” dalam ung­ga­han­nya. Lebih lan­jut, ia mencer­i­takan bah­wa sang pemu­lung per­nah men­em­puh pen­didikan hing­ga lulus S1 di salah satu uni­ver­si­tas swasta ter­na­ma di Jakar­ta. Bahkan, ia per­nah bek­er­ja di sebuah perusa­haan besar yang berg­er­ak di bidang ekspor-impor.

Namun, roda kehidu­pan tak selalu berputar di atas. Beber­a­pa tahun lalu, perusa­haan tem­pat­nya bek­er­ja melakukan pemu­tu­san hubun­gan ker­ja (PHK) mas­sal aki­bat kri­sis finan­sial glob­al. Sete­lah berbu­lan-bulan men­cari peker­jaan baru tan­pa hasil, tabun­gan yang dim­i­li­ki pun habis.

  Godaan Selimut vs Panggilan Subuh: Siapa yang Menang?

“Akhirnya saya coba peker­jaan apa saja. Per­nah jadi sopir ojek, jaga warung, sam­pai akhirnya memil­ih memu­lung. Seti­daknya peker­jaan ini flek­si­bel dan saya bisa atur wak­tu sendiri,” kata pemu­lung terse­but, seper­ti diku­tip dari ceri­ta di Threads.

Mes­ki banyak orang men­gang­gap memu­lung seba­gai peker­jaan ren­dah, pria terse­but men­gaku tak per­nah merasa malu. Baginya, yang ter­pent­ing adalah perut ter­isi, hidup tetap ber­jalan, dan hati tetap baha­gia.

“Gengsi itu nggak bisa dimakan, Mas. Lebih baik saya bek­er­ja jujur dan nggak mere­potkan orang,” ucap­nya lugas.

Ceri­ta ini son­tak men­ja­di perbin­can­gan di jagat maya. Banyak war­ganet yang merasa tersen­tuh den­gan kisah sang pemu­lung. Seba­gian men­gaku salut den­gan men­tal­nya yang tang­guh, seba­gian lagi merasa pri­hatin den­gan sulit­nya lapan­gan peker­jaan bagi lulu­san per­gu­ru­an ting­gi.

Tak sedik­it pula yang meny­oroti bah­wa gelar pen­didikan ting­gi tak selalu men­jamin hidup mapan. Peruba­han kon­disi ekono­mi, per­sain­gan ker­ja yang ketat, dan fak­tor keberun­tun­gan ser­ing kali men­ja­di penen­tu uta­ma dalam per­jalanan kari­er sese­o­rang.

“Kadang hidup memang nggak sesuai ren­cana. Tapi bukan berar­ti kita berhen­ti berjuang,” komen­tar salah satu peng­gu­na Threads.

Fenom­e­na ini bukan kasus tung­gal. Data Badan Pusat Sta­tis­tik (BPS) menun­jukkan bah­wa tingkat pen­gang­gu­ran ter­bu­ka di Indone­sia masih menyen­tuh angka 5,45% pada awal 2025, dan seba­gian di antaranya adalah lulu­san per­gu­ru­an ting­gi.

Pro­fe­si pemu­lung ker­ap dipan­dang sebe­lah mata. Dalam banyak kasus, stig­ma sosial mem­bu­at orang merasa ren­dah diri jika harus meneku­ni peker­jaan yang diang­gap ‘tidak layak’. Namun, ceri­ta ini mem­buk­tikan bah­wa nilai sese­o­rang tidak hanya diukur dari pro­fesinya.

  Terobosan Kecantikan 2025! Rahasia Kulit Sehat Glowing Alami Kini Terungkap

Sang pemu­lung sendiri men­gaku per­nah mener­i­ma cibi­ran dari orang-orang yang men­ge­nal­nya dulu. “Ada yang kaget, ada yang kasi­han, tapi saya biasa saja. Toh, mere­ka nggak kasih saya makan,” ujarnya sam­bil tertawa.

Ia juga men­gatakan, memu­lung mem­bu­at­nya bela­jar banyak hal baru, seper­ti cara memi­lah sam­pah yang bisa dijual kem­bali, men­gatur wak­tu ker­ja yang efek­tif, hing­ga berin­ter­ak­si den­gan berba­gai lapisan masyarakat. “Kalau dulu di kan­tor, saya kete­mu orang-orang berdasi. Sekarang, saya kete­mu orang-orang jalanan, tapi sama-sama pun­ya ceri­ta hidup yang berhar­ga.

Yang menarik, mes­ki hidup jauh dari kata mewah, sang pemu­lung pun­ya prin­sip seder­hana yang men­ja­di pegan­gan: baha­gia bukan soal uang, tapi soal hati yang ten­ang. Ia men­gaku tetap bersyukur kare­na masih sehat, bisa makan seti­ap hari, dan memi­li­ki teman-teman sesama pemu­lung yang sal­ing mem­ban­tu.

“Kalau kita sibuk iri sama orang lain, kita nggak akan per­nah puas. Hidup ini cuma sekali, jadi jalani aja den­gan baha­gia,” ucap­nya.

Perny­ataan ini men­ja­di kuti­pan yang banyak dibagikan ulang oleh war­ganet, bahkan dijadikan bahan moti­vasi di berba­gai plat­form media sosial.

Kisah ini men­ja­di cer­min bagi gen­erasi muda, teruta­ma yang masih duduk di bangku kuli­ah atau baru lulus. Di dunia ker­ja yang semakin kom­peti­tif, kemam­puan adap­tasi men­ja­di salah satu kun­ci berta­han. Gelar akademik memang pent­ing, tetapi keter­ampi­lan prak­tis, jaringan relasi, dan keta­hanan men­tal tidak kalah kru­sial.

Selain itu, kisah ini mengin­gatkan bah­wa kesuk­sesan tidak selalu iden­tik den­gan jabatan ting­gi atau gaji besar. Bek­er­ja den­gan hati ten­ang, jujur, dan berman­faat bagi orang lain bisa men­ja­di ben­tuk kesuk­sesan tersendiri.

  Sedekah Subuh di Cirebon: Gerakan Kecil yang Membawa Keberkahan

Ung­ga­han ini lang­sung diban­jiri ribuan komen­tar dan disukai ribuan peng­gu­na Threads. Banyak yang mem­bagikan pen­gala­man seru­pa, baik dari diri sendiri maupun orang yang mere­ka kenal.

Ada yang berceri­ta ten­tang ayah­nya yang lulu­san teknik tetapi memil­ih men­ja­di peda­gang kaki lima, atau teman­nya yang dulu bankir kini bek­er­ja seba­gai tukang ojek. Semua sep­a­kat bah­wa tidak ada peker­jaan yang hina sela­ma dilakukan den­gan jujur.

“Bang­ga banget lihat orang kayak beli­au. Ini con­toh nya­ta bah­wa keba­ha­giaan bukan cuma milik orang kaya,” tulis salah satu war­ganet.

Mes­ki nya­man den­gan peker­jaan­nya sekarang, sang pemu­lung men­gaku masih mem­bu­ka pelu­ang jika ada tawaran ker­ja yang lebih sta­bil. Namun, ia mene­gaskan tidak akan memak­sakan diri atau men­gor­bankan keba­ha­giaan­nya demi gengsi sema­ta.

“Apa pun yang ter­ja­di, saya tetap akan berusa­ha ker­ja. Yang pent­ing halal, nggak nyusahin orang, dan bisa bikin hati senang,” pungkas­nya.

Kisah ini mening­galkan pesan men­dalam: bah­wa hidup selalu penuh kemu­ngk­i­nan, dan cara kita mere­spons peruba­han­lah yang menen­tukan keba­ha­giaan kita. Dari kan­tor bergengsi hing­ga jalanan, dari jas rapi hing­ga karung di pun­dak — nilai manu­sia tetap ter­letak pada integri­tas dan seman­gat­nya.

Kalau mau, aku bisa buatkan juga ver­si head­line tam­ba­han yang lebih catchy supaya beri­ta ini bisa dipakai untuk media online atau sosial media. Mau aku buatkan?. (Red)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *