Lampung, SniperMew.id — Seorang pengguna media sosial dengan akun rehanyulirehanyuli membagikan kisah inspiratifnya dalam merintis usaha produksi tempe rumahan yang kini berkembang pesat. Dalam unggahannya di platform Threads, ia mengungkapkan bahwa awalnya hanya memproduksi sekitar 18 kilogram tempe per hari, namun kini mampu mencapai hingga 270 kilogram setiap hari.
Menurutnya, semua proses pemasaran dilakukan secara mandiri tanpa bantuan tenaga sales. “Gak pakai sales, Mbak. Dari 18 kilo sekarang 270 kilo setiap hari. Organik alias pembeli datang, cocok jadi langganan. Tapi lama, gak instan,” tulisnya.
Pemilik usaha yang telah menjalankan produksi tempe selama 15 tahun ini juga berbagi pengalaman bahwa tantangan terbesar bukan hanya dalam proses pembuatan tempe, tetapi juga pada aspek pemasaran.
“Semua orang bisa belajar bikin tempe, tapi gak semua orang bisa sabar mencari langganan,” ujarnya dalam kolom komentar.
Ia menambahkan bahwa belajar membuat tempe membutuhkan ketekunan dan pengalaman panjang. Dalam unggahan fotonya, terlihat tumpukan tempe yang sedang difermentasi serta sejumlah dus bahan dagangan yang menunjukkan aktivitas usahanya di rumah sekaligus toko klontong.
Akun tersebut juga aktif menjawab pertanyaan warganet seputar produksi tempe, mulai dari bahan, proses, hingga strategi pemasaran. “Kalau mau tanya-tanya soal tempe atau perdagangan, sebisaku tak jawab sesuai pengalamanku,” tulisnya.
Kisah rehanyulirehanyuli menjadi contoh nyata bahwa ketekunan dan kesabaran dalam mengelola usaha kecil dapat membawa hasil besar tanpa perlu bergantung pada cara instan.
Penulis Iskandar













