Di hari yang suci ini, Pimpinan dan seluruh jajaran PT SNIPERNEW MEDIA PERS serta PT Karya Gemilang Pemburu Fakta bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Banner SNIPERNEW
Keluarga Besar PT SNIPERNEW MEDIA PERS dan PT Karya Gemilang Pemburu Fakta
bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Berita Ekonomi

Dari 18 Kilo Jadi 270 Kilo per Hari: Kisah Perajin Tempe yang Sukses Tanpa Sales

302
×

Dari 18 Kilo Jadi 270 Kilo per Hari: Kisah Perajin Tempe yang Sukses Tanpa Sales

Sebarkan artikel ini

Lam­pung, SniperMew.id — Seo­rang peng­gu­na media sosial den­gan akun rehanyulire­hanyuli mem­bagikan kisah inspi­rat­ifnya dalam mer­in­tis usa­ha pro­duk­si tempe ruma­han yang kini berkem­bang pesat. Dalam ung­ga­han­nya di plat­form Threads, ia men­gungkap­kan bah­wa awal­nya hanya mem­pro­duk­si sek­i­tar 18 kilo­gram tempe per hari, namun kini mam­pu men­ca­pai hing­ga 270 kilo­gram seti­ap hari.

  Sekprov Thalis Gallang Terima Asosiasi Pengusaha Industri Kecil Sulut, Luncurkan Dukungan untuk UMKM

Menu­rut­nya, semua pros­es pemasaran dilakukan secara mandiri tan­pa ban­tu­an tena­ga sales. “Gak pakai sales, Mbak. Dari 18 kilo sekarang 270 kilo seti­ap hari. Organik alias pem­be­li datang, cocok jadi lang­ganan. Tapi lama, gak instan,” tulis­nya.

Pemi­lik usa­ha yang telah men­jalankan pro­duk­si tempe sela­ma 15 tahun ini juga berba­gi pen­gala­man bah­wa tan­ta­n­gan terbe­sar bukan hanya dalam pros­es pem­bu­atan tempe, tetapi juga pada aspek pemasaran.

Semua orang bisa bela­jar bikin tempe, tapi gak semua orang bisa sabar men­cari lang­ganan,” ujarnya dalam kolom komen­tar.

Ia menam­bahkan bah­wa bela­jar mem­bu­at tempe mem­bu­tuhkan keteku­nan dan pen­gala­man pan­jang. Dalam ung­ga­han fotonya, ter­li­hat tumpukan tempe yang sedang difer­men­tasi ser­ta sejum­lah dus bahan dagan­gan yang menun­jukkan aktiv­i­tas usa­hanya di rumah sekali­gus toko klon­tong.

  Pedagang Mlijo Hidupkan Ekonomi Pagi di Desa Karang Sari

Akun terse­but juga aktif men­jawab per­tanyaan war­ganet sep­utar pro­duk­si tempe, mulai dari bahan, pros­es, hing­ga strate­gi pemasaran. “Kalau mau tanya-tanya soal tempe atau perda­gan­gan, sebisaku tak jawab sesuai pen­gala­manku,” tulis­nya.

  Persaingan Warung Tradisional dan Toko Modern: Cerita Perjuangan UMKM di Tengah Gempuran Warung 24 Jam

Kisah rehanyulire­hanyuli men­ja­di con­toh nya­ta bah­wa keteku­nan dan kesabaran dalam men­gelo­la usa­ha kecil dap­at mem­bawa hasil besar tan­pa per­lu bergan­tung pada cara instan.

Penulis Iskan­dar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *