Berita Ekonomi

Dari 18 Kilo Jadi 270 Kilo per Hari: Kisah Perajin Tempe yang Sukses Tanpa Sales

331
×

Dari 18 Kilo Jadi 270 Kilo per Hari: Kisah Perajin Tempe yang Sukses Tanpa Sales

Sebarkan artikel ini

Lampung, SniperMew.id — Seorang pengguna media sosial dengan akun rehanyulirehanyuli membagikan kisah inspiratifnya dalam merintis usaha produksi tempe rumahan yang kini berkembang pesat. Dalam unggahannya di platform Threads, ia mengungkapkan bahwa awalnya hanya memproduksi sekitar 18 kilogram tempe per hari, namun kini mampu mencapai hingga 270 kilogram setiap hari.

Menurutnya, semua proses pemasaran dilakukan secara mandiri tanpa bantuan tenaga sales. “Gak pakai sales, Mbak. Dari 18 kilo sekarang 270 kilo setiap hari. Organik alias pembeli datang, cocok jadi langganan. Tapi lama, gak instan,” tulisnya.

  Sekprov Thalis Gallang Terima Asosiasi Pengusaha Industri Kecil Sulut, Luncurkan Dukungan untuk UMKM

Pemilik usaha yang telah menjalankan produksi tempe selama 15 tahun ini juga berbagi pengalaman bahwa tantangan terbesar bukan hanya dalam proses pembuatan tempe, tetapi juga pada aspek pemasaran.

Semua orang bisa belajar bikin tempe, tapi gak semua orang bisa sabar mencari langganan,” ujarnya dalam kolom komentar.

Ia menambahkan bahwa belajar membuat tempe membutuhkan ketekunan dan pengalaman panjang. Dalam unggahan fotonya, terlihat tumpukan tempe yang sedang difermentasi serta sejumlah dus bahan dagangan yang menunjukkan aktivitas usahanya di rumah sekaligus toko klontong.

  Pedagang Mlijo Hidupkan Ekonomi Pagi di Desa Karang Sari

Akun tersebut juga aktif menjawab pertanyaan warganet seputar produksi tempe, mulai dari bahan, proses, hingga strategi pemasaran. “Kalau mau tanya-tanya soal tempe atau perdagangan, sebisaku tak jawab sesuai pengalamanku,” tulisnya.

  Persaingan Warung Tradisional dan Toko Modern: Cerita Perjuangan UMKM di Tengah Gempuran Warung 24 Jam

Kisah rehanyulirehanyuli menjadi contoh nyata bahwa ketekunan dan kesabaran dalam mengelola usaha kecil dapat membawa hasil besar tanpa perlu bergantung pada cara instan.

Penulis Iskandar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *