Di hari yang suci ini, Pimpinan dan seluruh jajaran PT SNIPERNEW MEDIA PERS serta PT Karya Gemilang Pemburu Fakta bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Banner SNIPERNEW
Keluarga Besar PT SNIPERNEW MEDIA PERS dan PT Karya Gemilang Pemburu Fakta
bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Berita Ekonomi

Curhat di Media Sosial, Warganet Soroti Ketimpangan Harga Hasil Tani: ‘Petani Susah, Pasar Untung Besar

439
×

Curhat di Media Sosial, Warganet Soroti Ketimpangan Harga Hasil Tani: ‘Petani Susah, Pasar Untung Besar

Sebarkan artikel ini

Lam­pung, SniperNew.id Seo­rang peng­gu­na media sosial den­gan akun @zulkhar_khan baru-baru ini men­gung­gah cura­han hati di plat­form Threads, meny­oroti ketim­pan­gan har­ga hasil per­tan­ian antara petani dan pasar. Ung­ga­han terse­but menarik per­ha­t­ian war­ganet dan men­u­ai berba­gai tang­ga­pan, Rabu (29/10/25).

Dalam ung­ga­han­nya, @zulkhar_khan menulis. “Ben­er gak sih, kek dunia gak adil banget. Kayaknya kalau di dunia ini gak ada petani, kita bisa mati kela­paran deh. Kok den­gan mudah­nya mere­ka mem­bu­at har­ga jual di pasar ting­gi, tapi gak mikirin gimana nasib para petani. Kayak kemarin yang sam­pai demo para penanam singkong di Lam­pung, pada­hal Lam­pung itu penanam singkong terbe­sar, tapi dihar­gai murah banget, gak sepa­dan den­gan modal mere­ka menanam dan mer­awat­nya. Tapi pas dijual ke pasar, malah dijual ting­gi.”

  Kolaborasi Etnis di Warung Medan, Cermin Ekosistem Ekonomi Selat Malaka

Ung­ga­han terse­but juga dis­er­tai gam­bar bertuliskan “Pejuang Mon­eti­sasi — Suka Kasian Ngeli­hat Para Petani (Apapun Jenis­nya)”, seba­gai ben­tuk empati ter­hadap nasib petani di Indone­sia.

  Tanah Luas dan Strategis di Bandar Lampung! Hanya Rp280 Juta, Siap Bangun!

Postin­gan itu pun men­u­ai berba­gai komen­tar dari peng­gu­na lain. Akun @oday_bettafish menang­gapi.

Info men­tah di-post, aduh. Alangkah baiknya dala­mi dulu cara ker­janya. Kalau bisa, fokus aja ke ker­jaan yang otot dan otak bisa nyampe aja, bree. Jan­gan kare­na males berg­er­ak dan berpikir, lu berang­ga­pan cuma modal jari bisa meng­hasilkan.”

Semen­tara itu, akun @laundrypuluraja berba­gi pen­gala­man prib­a­di, “Aku per­nah ikut panen mbahku dulu. Kacang tanah per kilo 600 per­ak dijual ke penadah, sam­pai pasar udah 2000/kg. Sedih banget, tapi Rasu­l­ul­lah SAW sudah bersab­da, jika ingin kaya berda­ganglah.”

Komen­tar lain datang dari @boleboleafood yang meny­oroti per­lun­ya kesep­a­katan har­ga, “Boleh gak sih kalau nom­i­nal har­ga mitra dis­ep­a­kati bersama untuk pasaran, biar mitra ngasih har­ga yang sewa­jarnya?”

  KRI Teluk Bone Terdampar di Pariaman, Nasib Kapal Hibah Jadi Tanda Tanya

Sedan­gkan akun @mmatfajar menam­bahkan, “Ongkos cuci-cuci cabai sama pack­ing-nya tem­bus 4.000,”
dan @sandi18905 menulis singkat,
“1 kg 7000.”

Ung­ga­han terse­but men­ja­di reflek­si kon­disi nya­ta yang ser­ing diala­mi para petani di Indone­sia, di mana har­ga jual di tingkat petani tidak seband­ing den­gan har­ga pasar.

Sesuai den­gan Kode Etik Jur­nal­is­tik, beri­ta ini dit­ulis den­gan men­ja­ga akurasi, kese­im­ban­gan infor­masi, dan tan­pa men­gubah mak­na dari perny­ataan para nara­sum­ber dar­ing.

Penulis: (Iskan­dar).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *