Berita Daerah

Musyawarah Mappalili 2025/2026 di Soppeng Riaja: Sinergi Desa dan Pemerintah Wujudkan Pertanian Maju

311
×

Musyawarah Mappalili 2025/2026 di Soppeng Riaja: Sinergi Desa dan Pemerintah Wujudkan Pertanian Maju

Sebarkan artikel ini

Sop­peng, SniperNew.id – Suasana penuh seman­gat dan kekelu­ar­gaan ter­li­hat di Aula Desa Baitu­pute, Keca­matan Sop­peng Ria­ja, Kabu­pat­en Bar­ru, Sulawe­si Sela­tan, pada Kamis (4/9/2025). Camat Sop­peng Ria­ja, Hiday­atud­din, S.IP., M.H., memimpin lang­sung kegiatan Musyawarah Map­palili (Turun Sawah) Musim Tanam (MT) 2025/2026 dan MT 2026 tingkat desa dan kelu­ra­han di beber­a­pa wilayah keca­matan terse­but.

Kegiatan ini men­ja­di agen­da pent­ing dalam kalen­der per­tan­ian Sop­peng Ria­ja, yang dike­nal seba­gai salah satu daer­ah lum­bung padi di Kabu­pat­en Bar­ru. Musyawarah Map­palili, tra­disi lokal yang sudah diwariskan turun-temu­run, bukan sekadar perte­muan untuk menen­tukan jad­w­al turun sawah, tetapi juga momen­tum untuk meny­atukan langkah antara petani, aparat pemer­in­tah, dan masyarakat.

Acara dihadiri oleh berba­gai pihak, mulai dari unsur Forkopim­cam (Forum Koor­di­nasi Pimp­inan Keca­matan), kepala desa, lurah, penyu­luh per­tan­ian, kelom­pok tani, tokoh aga­ma, tokoh adat, hing­ga per­wak­i­lan masyarakat. Kehadi­ran para pemangku kepentin­gan terse­but men­ja­di buk­ti komit­men bersama untuk meningkatkan pro­duk­tiv­i­tas sek­tor per­tan­ian, sekali­gus melestarikan budaya Map­palili yang sarat nilai keber­samaan.

Dalam sambu­tan­nya, Camat Sop­peng Ria­ja, Hiday­atud­din, menekankan pent­ingnya sin­er­gi semua pihak untuk mewu­jud­kan per­tan­ian yang berke­lan­ju­tan. Menu­rut­nya, Musyawarah Map­palili adalah sarana komu­nikasi antara pemer­in­tah, penyu­luh, dan petani, agar langkah yang diam­bil dap­at mem­berikan dampak nya­ta bagi pen­ingkatan kese­jahter­aan masyarakat.

Kita berkumpul hari ini untuk menya­makan persep­si dan menyusun strate­gi yang tepat dalam meng­hadapi musim tanam men­datang. Map­palili adalah tra­disi yang harus kita jaga, sekali­gus men­ja­di momen­tum eval­u­asi ser­ta peren­canaan demi per­tan­ian yang maju,” ujarnya di hada­pan peser­ta musyawarah.

Hiday­atud­din juga menyam­paikan bah­wa keber­hasi­lan musim tanam tidak hanya diten­tukan oleh keterse­di­aan bib­it dan pupuk, tetapi juga kesi­a­pan petani dalam men­gan­tisi­pasi peruba­han cua­ca, pen­gelo­laan air, ser­ta peng­gu­naan teknolo­gi per­tan­ian mod­ern.

  Kaesang Tegaskan PSI Bidik Jawa Tengah, Ingin Ubah “Kandang Banteng” Jadi “Kandang Gajah”

Kita harus men­ga­jak petani untuk semakin melek teknolo­gi, tan­pa mening­galkan kear­i­fan lokal. Pemer­in­tah Keca­matan Sop­peng Ria­ja akan selalu siap men­dukung kebu­tuhan petani, ter­ma­suk dalam hal penyu­luhan dan akses sarana pro­duk­si,” tam­bah­nya.

Map­palili atau tra­disi turun sawah memi­li­ki sejarah pan­jang dalam budaya masyarakat Bugis-Makas­sar. Sebelum mem­u­lai musim tanam, para petani dan tokoh adat biasanya men­gadakan rit­u­al doa bersama untuk mem­o­hon keberka­han, kelan­car­an, dan hasil panen yang melimpah.

Dalam kon­teks mod­ern, Map­palili bukan hanya rit­u­al adat, melainkan forum musyawarah res­mi untuk meren­canakan pola tanam, menen­tukan jad­w­al tanam serentak, hing­ga mem­ba­has dis­tribusi ban­tu­an per­tan­ian. Den­gan adanya koor­di­nasi yang matang, dihara­p­kan petani dap­at men­gop­ti­malkan hasil pro­duk­si dan mem­i­ni­malkan risiko gagal panen.

Kegiatan seper­ti ini adalah buk­ti bah­wa tra­disi lokal dap­at bersin­er­gi den­gan pro­gram pemer­in­tah. Kita tidak hanya men­ja­ga budaya, tetapi juga meningkatkan kual­i­tas per­tan­ian,” kata salah satu tokoh masyarakat yang hadir.

Musyawarah Map­palili kali ini mem­ba­has secara rin­ci berba­gai aspek per­si­a­pan musim tanam. Mulai dari keterse­di­aan benih ung­gul, jad­w­al dis­tribusi pupuk, sis­tem iri­gasi, hing­ga ren­cana pen­dampin­gan kelom­pok tani. Penyu­luh per­tan­ian dari Dinas Per­tan­ian Kabu­pat­en Bar­ru juga hadir untuk mem­berikan paparan tek­nis dan strate­gi meng­hadapi poten­si peruba­han iklim.

  Harmoni Doa Lintas Agama untuk Sumatera Bangkit Digelar

Para peser­ta musyawarah antu­sias mengiku­ti diskusi. Sejum­lah kepala desa mema­parkan kon­disi sawah dan tan­ta­n­gan yang dihadapi petani di wilayah­nya mas­ing-mas­ing. Salah sat­un­ya terkait kendala pen­gairan, teruta­ma di daer­ah yang bergan­tung pada salu­ran iri­gasi sekun­der.

Kami berharap pemer­in­tah daer­ah terus mem­per­hatikan infra­struk­tur iri­gasi. Den­gan air yang cukup, petani bisa lebih seman­gat dan hasil panen pun meningkat,” ujar salah seo­rang per­wak­i­lan kelom­pok tani.

Hiday­atud­din menang­gapi aspi­rasi terse­but den­gan meny­atakan komit­men pemer­in­tah keca­matan untuk meneruskan lapo­ran ke pemer­in­tah kabu­pat­en.

Semua masukan dari musyawarah ini akan kita sam­paikan agar pro­gram pem­ban­gu­nan infra­struk­tur per­tan­ian bisa tepat sasaran,” tegas­nya.

Selain pemer­in­tah desa dan keca­matan, unsur TNI dan Pol­ri juga turut hadir. Babin­sa dan Bhabinkamtib­mas mas­ing-mas­ing desa men­dukung kegiatan ini seba­gai bagian dari tugas mere­ka men­ja­ga keta­hanan pan­gan dan kea­manan wilayah. Kolab­o­rasi lin­tas sek­tor ini mencer­minkan komit­men kuat pemer­in­tah untuk mewu­jud­kan kedaula­tan pan­gan di Kabu­pat­en Bar­ru.

“Keta­hanan pan­gan tidak hanya tugas petani, tetapi tang­gung jawab bersama. TNI siap mem­ban­tu penga­manan dan men­dukung kegiatan per­tan­ian, mulai dari pen­go­la­han lahan hing­ga panen,” kata seo­rang Babin­sa.

Keter­li­batan aparat kea­manan ini mem­berikan rasa aman kepa­da masyarakat, teruta­ma dalam men­ja­ga aset per­tan­ian dari berba­gai poten­si gang­guan, seper­ti pen­cu­ri­an hasil panen atau perusakan iri­gasi.

Musyawarah yang berlang­sung sejak pagi hing­ga siang ini tidak hanya dihadiri oleh peja­bat dan penyu­luh, tetapi juga oleh puluhan petani dari berba­gai desa di Keca­matan Sop­peng Ria­ja. Mere­ka ter­li­hat serius meny­i­mak ara­han dan diskusi yang berlang­sung.

Salah satu peser­ta, seo­rang petani muda, men­gungkap­kan rasa bang­ganya bisa ikut ser­ta dalam kegiatan ini. “Biasanya kami hanya ikut ara­han, tapi sekarang kami dili­batkan untuk mem­beri masukan lang­sung. Rasanya dihar­gai seba­gai petani,” katanya.

  Bantuan untuk Daerah Terisolir Diupayakan Maksimal

Keter­li­batan gen­erasi muda dalam per­tan­ian men­ja­di salah satu fokus pem­ba­hasan. Pemer­in­tah berkomit­men untuk mem­berikan pelati­han teknolo­gi per­tan­ian, man­a­je­men usa­ha tani, dan akses pasar, agar per­tan­ian tetap menarik bagi kaum mile­nial.

Musyawarah Map­palili 2025/2026 ini dihara­p­kan men­ja­di tong­gak awal keber­hasi­lan musim tanam men­datang. Den­gan peren­canaan yang matang dan koor­di­nasi lin­tas sek­tor, tar­get pen­ingkatan pro­duk­si beras dan komod­i­tas per­tan­ian lain­nya di Keca­matan Sop­peng Ria­ja opti­mistis dap­at ter­ca­pai.

“Keber­hasi­lan musim tanam adalah keber­hasi­lan bersama. Kita semua pun­ya per­an, mulai dari pemer­in­tah, penyu­luh, petani, hing­ga masyarakat luas. Mari kita jaga seman­gat gotong roy­ong,” tut­up Hiday­atud­din.

Kegiatan ini juga men­ja­di buk­ti nya­ta komit­men pemer­in­tah keca­matan untuk terus mendekatkan diri kepa­da masyarakat. Musyawarah seper­ti ini akan terus dige­lar secara rutin di seti­ap awal musim tanam, agar komu­nikasi dan koor­di­nasi tetap ter­ja­ga.

Den­gan sin­er­gi semua pihak, Keca­matan Sop­peng Ria­ja opti­mistis akan terus men­ja­di salah satu penyang­ga pan­gan pent­ing di Kabu­pat­en Bar­ru dan Sulawe­si Sela­tan secara umum.

Ten­tang Keca­matan Sop­peng Ria­ja
Keca­matan Sop­peng Ria­ja meru­pakan salah satu keca­matan di Kabu­pat­en Bar­ru, Sulawe­si Sela­tan, yang terke­nal den­gan poten­si per­ta­ni­an­nya, teruta­ma padi. Wilayah ini memi­li­ki lahan sawah pro­duk­tif yang dikelo­la secara tra­di­sion­al maupun mod­ern. Tra­disi Map­palili men­ja­di bagian pent­ing dari budaya masyarakat setem­pat, yang memadukan nilai religius, keber­samaan, dan kear­i­fan lokal dalam men­gelo­la per­tan­ian.

Melalui Musyawarah Map­palili, pemer­in­tah keca­matan beru­paya mem­perku­at sin­er­gi den­gan desa, lurah, dan kelom­pok tani, agar pem­ban­gu­nan sek­tor per­tan­ian dap­at berlang­sung secara berke­lan­ju­tan dan menye­jahter­akan masyarakat. (Ahmad)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *