Di hari yang suci ini, Pimpinan dan seluruh jajaran PT SNIPERNEW MEDIA PERS serta PT Karya Gemilang Pemburu Fakta bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Banner SNIPERNEW
Keluarga Besar PT SNIPERNEW MEDIA PERS dan PT Karya Gemilang Pemburu Fakta
bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Berita Peristiwa

Bus Terobos Hajatan Nikah di Tengah Jalan, Netizen Berdebat Siapa yang Salah

377
×

Bus Terobos Hajatan Nikah di Tengah Jalan, Netizen Berdebat Siapa yang Salah

Sebarkan artikel ini

Pringsewu, SniperNew.id – Media sosial kem­bali dihe­bohkan oleh sebuah peri­s­ti­wa yang ter­ja­di di sebuah daer­ah di Indone­sia, di mana sebuah bus pari­wisa­ta ter­pak­sa men­er­o­bos acara pernika­han yang dige­lar di ten­gah jalan. Keja­di­an ini viral sete­lah diung­gah oleh akun Face­book berna­ma Sept­ian Dwi Tama pada Ming­gu (7/9/2025).

Dalam ung­ga­han­nya, Sept­ian menulis keteran­gan singkat.

“Viral!! Pes­ta pernika­han di gelar di ten­gah jalan, sebuah bus nekat men­er­o­bos kare­na jalan ter­tut­up!!”

Ung­ga­han terse­but dis­er­tai sebuah video yang mem­per­li­hatkan suasana hajatan pernika­han den­gan ten­da besar yang menut­up akses jalan. Di ten­gah suasana itu, tam­pak sebuah bus pari­wisa­ta beruku­ran besar berhen­ti tepat di depan ten­da. Beber­a­pa orang ter­li­hat berusa­ha mene­nangkan keadaan sam­bil berdiri di depan bus.

Di dalam video juga ter­da­p­at tulisan besar berwar­na kun­ing yang menu­tupi seba­gian layar. “Gim­na ini pak supir”

Tulisan itu seo­lah menekankan kebin­gun­gan yang ter­ja­di di lokasi, di mana bus berusa­ha melin­tas namun ter­ha­lang oleh ten­da dan keru­mu­nan tamu.

Ung­ga­han ini lang­sung men­u­ai reak­si luas dari war­ganet. Hing­ga satu jam sete­lah dipub­likasikan, postin­gan terse­but sudah men­da­p­at ribuan komen­tar, ratu­san ribu tayan­gan, ser­ta lebih dari ser­a­tus kali dibagikan.

Kolom komen­tar dipenuhi perde­batan sen­git antara dua kubu: seba­gian menyalahkan pihak penye­leng­gara hajatan kare­na menut­up jalan umum, semen­tara seba­gian lain men­co­ba mema­ha­mi situ­asi den­gan mem­per­tanyakan men­ga­pa tidak ada pen­gat­u­ran atau pen­ja­gaan di lokasi.

Seo­rang war­ganet berna­ma Hari Joss Ofisial menulis singkat. “Yang salah sia­pa yaa.”

  Ledakan Misterius Guncang Desa Sumenep, Satu Rumah Warga Rusak

Komen­tar itu kemu­di­an men­da­p­at puluhan tang­ga­pan lan­ju­tan dari neti­zen lain.

Peng­gu­na lain, Lee Jamil Hoo, den­gan tegas meny­atakan bah­wa bus tidak bersalah.

“Bus tidak salah, kare­na itu jalan umum. Klo bisa yang pun­ya hajat bisa kena pidana undan­gan-undang nomor 22 tahun 2009…”

Komen­tar ini lang­sung men­u­ai lebih dari ser­a­tus tan­da suka dan banyak bal­asan dari neti­zen yang sep­a­kat.

Semen­tara itu, seo­rang war­ganet berna­ma Jout­je Beni Man­tiri meny­oroti per­soalan sosial yang lebih luas.

“Semakin ambu­radul ni negara gara-gara mabok aga­ma kadrun.”

Komen­tar berna­da poli­tis ini pun ikut memicu perde­batan baru di kolom komen­tar.

Tidak sedik­it pula yang menekankan per­lun­ya eti­ka dalam men­gadakan acara hajatan. Liliek Agusti­na menulis:

“Klo mau pun­ya hajat harus sewa gedung, jan­gan menu­tupi jalan umum.”

Komen­tar ini juga men­u­ai banyak dukun­gan dari peng­gu­na lain.

Di bagian komen­tar lain­nya, sejum­lah war­ganet kem­bali meny­oroti pent­ingnya atu­ran dalam meng­gu­nakan fasil­i­tas umum. Mamah­nya Shi­fasel­makhayra menulis singkat. “Salah yang hajat.”

Komen­tar terse­but men­da­p­at banyak dukun­gan kare­na diang­gap logis, mengin­gat jalan raya adalah fasil­i­tas umum yang tidak seharus­nya digu­nakan untuk kepentin­gan prib­a­di.

War­ganet berna­ma Maya Waro­mi Wangkanusa juga berpen­da­p­at sama.

“Jalan itu fasil­i­tas umum… jadi supir bus tidak salah dong…”

Semen­tara itu, komen­tar lain dari Ar Ar menyindir den­gan gaya humoris. “Yang enak pen­gan­tin berd­ua, tapi nyusahin orang banyak.”

Komen­tar ini men­da­p­at banyak respons tawa dari peng­gu­na lain, menun­jukkan bagaimana war­ganet men­gang­gap situ­asi ini iro­nis.

Namun, tidak semua komen­tar lang­sung menyalahkan pihak hajatan. Beber­a­pa war­ganet men­co­ba mema­ha­mi kon­disi yang ter­ja­di di lapan­gan.

Dewi Kris Isto­mo menulis pan­jang lebar. “Mungkin gak dipasan­gi per­bon­den. Emang gak ada yang jaga? Klo jalan cuma satu dan uta­ma ya memang susah. Atau itu mungkin bus kelu­ar­ga.”

  Truk Ninja Solar Digrebek Warga di SPBU Tutup

Komen­tar ini mem­bu­ka kemu­ngk­i­nan bah­wa bus yang melin­tas adalah tamu dari pihak kelu­ar­ga yang tidak tahu bah­wa jalan ditut­up. Selain itu, Dewi meny­ing­gung soal min­im­nya pen­gat­u­ran lalu lin­tas yang seharus­nya men­ja­di per­ha­t­ian pani­tia acara.

Kasus ini pun meny­ing­gung per­soalan hukum yang berlaku di Indone­sia. Seper­ti dise­butkan dalam komen­tar Lee Jamil Hoo, Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 ten­tang Lalu Lin­tas dan Angku­tan Jalan mene­gaskan bah­wa jalan umum adalah fasil­i­tas bersama yang tidak boleh digu­nakan untuk kepentin­gan prib­a­di tan­pa izin res­mi.

Dalam prak­tiknya, masih banyak masyarakat yang meng­gu­nakan badan jalan untuk mengge­lar acara hajatan, baik pernika­han, khi­tanan, maupun kegiatan lain­nya. Mes­ki seba­gian daer­ah memi­li­ki atu­ran lokal yang mem­bolehkan den­gan syarat ter­ten­tu-mis­al­nya izin dari aparat desa atau kepolisian-tetap saja hal ini menim­bulkan per­soalan jika jalan yang ditut­up meru­pakan akses uta­ma.

Kasus bus yang men­er­o­bos hajatan ini pun men­ja­di potret nya­ta ben­tu­ran antara kepentin­gan prib­a­di dan kepentin­gan pub­lik.

Di sejum­lah daer­ah di Indone­sia, mengge­lar hajatan di jalan masih diang­gap hal yang lum­rah. Alasan­nya beragam, mulai dari keter­batasan lahan hing­ga fak­tor biaya. Menye­wa gedung diang­gap ter­lalu mahal, semen­tara mengge­lar acara di hala­man rumah ser­ing kali tidak cukup menam­pung tamu undan­gan.

Namun, seir­ing meningkat­nya jum­lah kendaraan dan padat­nya lalu lin­tas, prak­tik ini kian men­u­ai kri­tik. Banyak yang meni­lai sudah saat­nya masyarakat beral­ih ke tem­pat-tem­pat khusus seper­ti gedung perte­muan agar tidak meng­gang­gu peng­gu­na jalan lain.

Komen­tar Liliek Agusti­na dalam ung­ga­han ini, yang men­yarankan agar hajatan dis­e­leng­garakan di gedung, mencer­minkan pan­dan­gan mod­ern terse­but.

Dari ribuan komen­tar yang masuk, seba­gian besar memang meni­lai pihak penye­leng­gara hajatan lebih bersalah diband­ing sopir bus. Namun, ada juga yang meni­lai situ­asi ini seharus­nya bisa dihin­dari jika pani­tia hajatan melakukan pen­gat­u­ran lalu lin­tas atau menye­di­akan jalan alter­natif bagi kendaraan.

  Jeritan dari Atas Gunung: Warga Minta Bantuan Banjir Disegerakan

Seba­gian komen­tar lain bahkan menud­ing pihak aparat setem­pat lalai kare­na tidak men­gan­tisi­pasi situ­asi terse­but.

Mes­ki demikian, hing­ga saat ini belum ada keteran­gan res­mi dari pihak berwe­nang maupun lokasi pasti keja­di­an.

Ung­ga­han ini terus menye­bar di berba­gai plat­form media sosial lain, ter­ma­suk What­sApp, Insta­gram, dan Tik­Tok. Tagar #viral­bus, #jangkuan­lu­as, #fypvi­ral, dan #reelsf­bpro turut mem­per­lu­as jangkauan video ini hing­ga men­ja­di bahan perbin­can­gan nasion­al.

Fenom­e­na ini menun­jukkan beta­pa cepat­nya sebuah peri­s­ti­wa lokal bisa men­ja­di sorotan pub­lik keti­ka dibagikan di media sosial.

Kasus bus men­er­o­bos hajatan pernika­han di ten­gah jalan ini mem­berikan sejum­lah pela­jaran pent­ing:

1. Jalan adalah fasil­i­tas umum – Tidak boleh digu­nakan untuk kepentin­gan prib­a­di tan­pa izin res­mi.

2. Pent­ingnya reg­u­lasi dan pene­gakan hukum — Aparat per­lu lebih tegas dalam men­ert­ibkan hajatan di jalan umum.

3. Eti­ka sosial — Penye­leng­gara hajatan harus mem­per­tim­bangkan kenya­manan masyarakat sek­i­tar.

4. Kesadaran bersama – Semua pihak, baik masyarakat maupun peng­gu­na jalan, per­lu lebih bijak agar keja­di­an seru­pa tidak teru­lang.

Kasus ini seo­lah men­ja­di cer­min ben­tu­ran antara tra­disi lama dan kebu­tuhan mod­ern masyarakat. Di satu sisi, hajatan di jalan masih diang­gap lum­rah oleh seba­gian war­ga. Namun di sisi lain, kon­disi lalu lin­tas yang semakin padat mem­bu­at prak­tik terse­but kian sulit diter­i­ma.

Apapun penye­bab­nya, peri­s­ti­wa bus men­er­o­bos hajatan ini sekali lagi mene­gaskan pent­ingnya meng­hor­mati atu­ran dan kepentin­gan bersama. Neti­zen boleh saja ter­be­lah dalam pen­da­p­at, namun satu hal jelas: fasil­i­tas umum seper­ti jalan raya seharus­nya tetap digu­nakan sesuai fungsinya. (Ahm/red).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *