Berita Lifestyle

Akad Nikah Jamaah Muallaf At-Taubah Disaksikan Pengurus Masjid di Desa Mayoa

518
×

Akad Nikah Jamaah Muallaf At-Taubah Disaksikan Pengurus Masjid di Desa Mayoa

Sebarkan artikel ini

Desa Mayoa, SniperNew.id — Senin 4 Agus­tus 2025 Sebuah momen sakral dan penuh haru berlang­sung di rumah Bapak Azis di Desa Mayoa pada hari Senin, 5 Agus­tus 2025. Akad nikah antara Baharud­din Bin Azis (yang akrab dis­apa Diman), seo­rang jamaah mual­laf dari Masjid At-Taubah, den­gan Jumiati Bin­ti Ibrahim telah dilang­sungkan secara seder­hana namun khid­mat.

Yang menarik per­ha­t­ian, pros­esi akad nikah ini dis­ak­sikan oleh Pen­gu­rus Masjid Mual­laf At-Taubah yang bertin­dak seba­gai sak­si, meng­gan­tikan per­an Kepala Desa yang berha­lan­gan hadir. Kabar ini dibagikan oleh akun Face­book berna­ma Kamarud­din, yang men­ja­di salah satu sak­si sekali­gus tokoh masyarakat dalam pernika­han terse­but.

Dalam ung­ga­han­nya, Kamarud­din menulis:

> “Alham­dulil­lah, Hari Senin, tgl 05-08-2025 Pen­gu­rus Masjid Mual­laf At-taubah men­ja­di Sak­si (Gan­ti Pak Desa dulu) Akad Nikah dari Anak Jamaah Mual­laf At-taubah atas Nama Baharud­din Bin Azis (Diman) dgn Jumiati Bin­ti Ibrahim dirumah Bapak Azis di Desa Mayoa, semoga ked­ua mem­pelai men­ja­di kelu­ar­ga sak­i­nah mawad­dah warahmah, Aami­in.…”

  Waspada! Pesan Penipuan Berkedok Permintaan Bantuan Penarikan Kripto Beredar di Media Sosial

 

Ung­ga­han terse­but dis­er­tai den­gan enam foto suasana akad nikah. Beber­a­pa foto mem­per­li­hatkan tamu undan­gan dan tokoh masyarakat yang duduk bersi­la di atas tikar den­gan latar belakang dind­ing rumah yang masih belum sele­sai diplester, menan­dakan keseder­hanaan acara ini. Nam­pan berisi ane­ka makanan khas kam­pung tam­pak ter­hi­dang di ten­gah-ten­gah, men­cip­takan suasana akrab dan kekelu­ar­gaan.

Foto pal­ing menyen­tuh adalah saat mem­pelai pria, Baharud­din, men­ci­um ken­ing sang istri, Jumiati, yang men­ge­nakan jil­bab kun­ing dan baju hitam bermo­tif garis. Aksi ini menandai momen per­ta­ma mere­ka seba­gai sua­mi istri yang sah menu­rut syari­at Islam. Den­gan suasana ruan­gan yang ramai namun khusyuk, para hadirin menyak­sikan momen ini den­gan penuh keba­ha­giaan.

Pernika­han ini men­ja­di peri­s­ti­wa pent­ing bagi komu­ni­tas mual­laf di Desa Mayoa dan sek­i­tarnya. Masjid At-Taubah yang sela­ma ini men­ja­di tem­pat pem­bi­naan keis­la­man bagi para mual­laf, kini semakin aktif dalam per­an sosial dan keaga­maan, ter­ma­suk men­ja­di sak­si dalam pros­esi pernika­han anggotanya. Hal ini juga menun­jukkan bah­wa pem­bi­naan ter­hadap para mual­laf bukan hanya bersi­fat spir­i­tu­al, tetapi juga menyangkut pen­dampin­gan dalam kehidu­pan sosial mere­ka.

Peng­gu­naan isti­lah “meng­gan­tikan Pak Desa” dalam ung­ga­han terse­but juga menun­jukkan bah­wa masyarakat masih san­gat meng­hor­mati per­an for­mal pemer­in­tah desa, namun tetap memi­li­ki inisi­atif dalam men­jalankan syari­at dan tra­disi jika peja­bat terkait berha­lan­gan hadir.

Detail Akad Nikah:

  Mahasiswi Indonesia Wisuda di AS, Ajak Sang Ayah Saksikan Momen Bersejarah

Hari/Tanggal: Senin, 5 Agus­tus 2025

Tem­pat: Rumah Bapak Azis, Desa Mayoa

Mem­pelai Pria: Baharud­din Bin Azis (Diman)

Mem­pelai Wani­ta: Jumiati Bin­ti Ibrahim

Sak­si Akad Nikah: Pen­gu­rus Masjid Mual­laf At-Taubah

Dalam pros­esi terse­but, tam­pak beber­a­pa tokoh masyarakat turut hadir, ter­ma­suk pria-pria lan­jut usia yang men­ge­nakan paka­ian mus­lim dan peci. Mere­ka ter­li­hat duduk rapi dalam posisi yang menun­jukkan kehor­matan ter­hadap pros­esi pernika­han yang ten­gah berlang­sung.

Beber­a­pa foto lain­nya juga mem­per­li­hatkan kehangatan acara, seper­ti jamuan seder­hana den­gan makanan tra­di­sion­al – mulai dari ayam goreng, kue-kue, nasi, hing­ga jajanan lokal – yang ter­hi­dang di atas tikar bermo­tif war­na-warni. Makanan ini dis­usun rapi seba­gai sim­bol berba­gi keba­ha­giaan kepa­da para tamu yang hadir.

Semen­tara itu, suasana kekelu­ar­gaan begi­tu terasa kuat. Para tamu yang hadir tam­pak san­tai namun tetap men­ja­ga adab dalam meng­hadiri acara keaga­maan ini. Keber­sa­ha­jaan lokasi tidak men­gu­ran­gi kekhid­matan pros­esi akad, bahkan jus­tru menam­bah nilai religius dan keseder­hanaan yang ken­tal.

Mak­na Sosial dan Religius

Baharud­din Bin Azis dike­nal seba­gai bagian dari komu­ni­tas mual­laf yang aktif mengiku­ti kegiatan Masjid At-Taubah. Pernika­han­nya den­gan Jumiati men­ja­di sim­bol kematan­gan spir­i­tu­al dan sosial­nya seba­gai mus­lim. Hal ini juga mencer­minkan keber­hasi­lan dak­wah dan bimbin­gan Masjid At-Taubah dalam men­dampin­gi jamaah mual­laf, tidak hanya dari sisi ibadah tetapi juga kehidu­pan berkelu­ar­ga.

Keter­li­batan penuh pihak masjid dalam pros­esi ini mem­perku­at pesan bah­wa komu­ni­tas mual­laf memi­li­ki jaringan sosial dan dukun­gan keaga­maan yang sol­id. Ini pent­ing seba­gai ben­tuk pem­ber­dayaan dan pene­gasan bah­wa mere­ka telah diter­i­ma sepenuh­nya di lingkun­gan masyarakat mus­lim setem­pat.

  Misteri Ilmu Rawanontek, Warisan Gaib yang Menginspirasi

Uca­pan dan Doa

Dalam penut­up ung­ga­han­nya, Kamarud­din menyam­paikan hara­pan agar pasan­gan Baharud­din dan Jumiati men­ja­di kelu­ar­ga sak­i­nah, mawad­dah, dan warahmah – sebuah doa yang laz­im dipan­jatkan dalam pernika­han Isla­mi, yang mencer­minkan hara­pan akan kete­nan­gan, cin­ta kasih, dan rah­mat dalam rumah tang­ga.

“Semoga ked­ua mem­pelai men­ja­di kelu­ar­ga sak­i­nah mawad­dah warahmah, Aami­in….”

Ung­ga­han ini men­da­p­at respons posi­tif dari masyarakat, ter­li­hat dari adanya 12 tan­da suka dan satu komen­tar dalam wak­tu singkat sete­lah dipost­ing.

Kisah pernika­han seder­hana namun penuh mak­na ini men­ja­di con­toh nya­ta beta­pa komu­ni­tas kecil pun bisa meng­hadirkan momen besar dalam kehidu­pan, teruta­ma keti­ka dilan­dasi nilai keimanan, keber­samaan, dan sal­ing men­dukung. Kehadi­ran para tokoh aga­ma dan masyarakat dalam pros­esi ini tidak hanya menun­jukkan peng­hor­matan ter­hadap pernika­han, tetapi juga seba­gai ben­tuk nya­ta ukhuwah Islamiyah.

Dalam dunia yang ser­ba mod­ern dan kom­pleks, pernika­han Baharud­din dan Jumiati men­ja­di pengin­gat bah­wa cin­ta, iman, dan keseder­hanaan tetap bisa men­ja­di fon­dasi kokoh dalam mem­ban­gun kelu­ar­ga. Semoga pasan­gan ini langgeng dan men­ja­di teladan bagi pasan­gan-pasan­gan muda lain­nya di lingkun­gan mere­ka.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *