Berita Peristiwa

Banjir Bandang Guci Tegal Picu Perdebatan Publik di Media Sosial

476
×

Banjir Bandang Guci Tegal Picu Perdebatan Publik di Media Sosial

Sebarkan artikel ini

TEGAL, SNIPERNEW.id — Kawasan wisata Guci, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, kembali menjadi sorotan publik setelah dilanda banjir bandang. Peristiwa tersebut ramai diperbincangkan usai diunggah oleh akun Instagram @daionlineofficial, yang menampilkan sejumlah video kondisi arus air deras di kawasan wisata serta potongan dokumentasi kegiatan budaya masyarakat setempat, Senin (22/12/2025).


Dalam ung­ga­han terse­but, ter­tulis keteran­gan “Ban­jir ban­dang kawasan Guci – apa sebab uta­manya?” yang memicu beragam respons dari war­ganet. Video per­ta­ma mem­per­li­hatkan kon­disi air sun­gai yang melu­ap dan men­galir deras di sek­i­tar area per­muki­man dan fasil­i­tas wisa­ta. Ter­can­tum pula penan­da wak­tu “Sab­tu, 10/12/2025”, yang menun­jukkan wak­tu ter­jadinya peri­s­ti­wa terse­but.

  Didorong ke Sekolah, Pelajar Bolos Dibina Satpol PP dan Babinsa

Ung­ga­han lain dari akun yang sama menampilkan doku­men­tasi kegiatan budaya berta­juk “Sedekah Bumi Guci – Tegal” ser­ta “rit­u­al ruwatan di pan­cu­ran 13 wisa­ta Guci, khusyuk dan sakral”. Dalam video terse­but ter­li­hat masyarakat mengiku­ti pros­esi adat den­gan mem­bawa sesaji, obor, dan iringan doa, yang menu­rut tra­disi lokal telah dilakukan secara turun-temu­run seba­gai bagian dari kear­i­fan budaya masyarakat setem­pat.

Respons dan Perde­batan War­ganet
Kolom komen­tar pada ung­ga­han terse­but dipenuhi beragam tang­ga­pan dari masyarakat.

Seba­gian war­ganet men­gaitkan ben­cana alam den­gan sudut pan­dang keaga­maan, semen­tara lain­nya mengin­gatkan pent­ingnya men­ja­ga aki­dah.

Di sisi lain, tidak sedik­it pula peng­gu­na media sosial yang meni­lai peri­s­ti­wa ban­jir ban­dang terse­but per­lu dil­i­hat dari aspek alam, lingkun­gan, dan tata kelo­la kawasan wisa­ta, bukan sema­ta-mata dari sudut pan­dang keyak­i­nan.

  Travel Terguling di Pacet, Rem Blong Jadi Dugaan

Perbe­daan pan­dan­gan terse­but menun­jukkan dinami­ka ruang dig­i­tal yang ter­bu­ka, di mana seti­ap indi­vidu memi­li­ki hak menyam­paikan pen­da­p­at. Namun demikian, sesuai prin­sip jur­nal­is­tik dan hukum yang berlaku, penye­bab ben­cana alam tidak dap­at dis­im­pulkan secara sepi­hak tan­pa kajian ilmi­ah dan keteran­gan res­mi dari pihak berwe­nang.

Per­spek­tif Sejarah dan Budaya Lokal
Tra­disi sedekah bumi dan ruwatan meru­pakan bagian dari warisan budaya masyarakat Jawa yang telah ada sejak lama. Kegiatan terse­but umum­nya dimak­nai seba­gai ungka­pan rasa syukur atas hasil alam dan hara­pan akan kese­la­matan.

Hing­ga saat ini, pros­esi budaya terse­but masih dilak­sanakan di berba­gai daer­ah den­gan tafsir dan pen­dekatan yang berbe­da-beda.

  Dikabarkan! Debit Sungai Naik, Jembatan Aek Puli Terancam Putus

Pemer­in­tah daer­ah maupun pen­gelo­la wisa­ta sebelum­nya juga ker­ap menekankan bah­wa kegiatan budaya dilakukan seba­gai bagian dari pelestar­i­an adat, bukan untuk meng­gan­tikan keyak­i­nan aga­ma masyarakat.

Hing­ga beri­ta ini dis­usun, belum ada perny­ataan res­mi yang men­gaitkan lang­sung antara kegiatan budaya den­gan peri­s­ti­wa ban­jir ban­dang di kawasan Guci. Para ahli keben­canaan sela­ma ini mene­gaskan bah­wa fak­tor uta­ma ban­jir ban­dang umum­nya meliputi curah hujan ekstrem, kon­disi topografi, alih fungsi lahan, ser­ta sis­tem drainase dan pen­gelo­laan lingkun­gan.

Masyarakat diim­bau untuk menyikapi infor­masi di media sosial secara bijak, tidak mudah meny­im­pulkan, ser­ta menung­gu keteran­gan res­mi dari instan­si terkait guna mence­gah kesalah­pa­haman dan poten­si kon­flik di ruang pub­lik dig­i­tal.

Penulis: [Iskan­dar]


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *