Di hari yang suci ini, Pimpinan dan seluruh jajaran PT SNIPERNEW MEDIA PERS serta PT Karya Gemilang Pemburu Fakta bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Banner SNIPERNEW
Keluarga Besar PT SNIPERNEW MEDIA PERS dan PT Karya Gemilang Pemburu Fakta
bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Berita Peristiwa

Aksi Demo di Tegal Imbas Kasus Driver Ojol, Massa Geruduk Gedung DPRD

225
×

Aksi Demo di Tegal Imbas Kasus Driver Ojol, Massa Geruduk Gedung DPRD

Sebarkan artikel ini

Tegal, SniperNew.id — Situ­asi di Kota Tegal mem­anas sete­lah kabar tewas­nya seo­rang dri­ver ojek online (ojol) mere­bak di ten­gah masyarakat. Peri­s­ti­wa itu memicu kemara­han pub­lik hing­ga beru­jung pada aksi demon­strasi besar-besaran di depan Gedung DPRD Kota Tegal, Jumat malam (tang­gal belum dipastikan), Jumat (29/08).

Dalam sebuah ung­ga­han di media sosial yang beredar luas, tam­pak ratu­san mas­sa berkumpul di hala­man gedung leg­is­latif daer­ah terse­but. Bahkan, dari reka­man video yang beredar, ter­li­hat api menyala di bagian depan gedung DPRD. Api diduga berasal dari aksi pem­bakaran oleh mas­sa yang melu­ap­kan ama­rah mere­ka ter­hadap insi­d­en yang menim­pa salah satu war­ga.

Ung­ga­han dari akun media sosial @rocky_gerung__ menuliskan:

“Imbas Tewas­nya Dri­ver Ojol, Mas­sa Gelar Aksi Demo di Tegal Bakar Depan Gedung DPRD Kota Tegal.”

Kali­mat terse­but mem­per­li­hatkan situ­asi genting yang ten­gah berlang­sung di Tegal. Keja­di­an ini pun segera men­da­p­at banyak tang­ga­pan war­ganet.

Kolom komen­tar dalam ung­ga­han terse­but dipenuhi beragam opi­ni masyarakat. Banyak di antara mere­ka melu­ap­kan keke­ce­waan ter­hadap lem­ba­ga leg­is­latif yang diang­gap gagal memenuhi hara­pan raky­at.

Salah satu akun den­gan nama royz­aboet menuliskan. “Harus­nya gedung DPR itu cuma 1, pusat aja. Kalo yang ada di tiap kota, harus­nya kan­tor cabang aja, semacam pos gitu lah. Toh, ga ter­lalu nga­pa-nga­pain juga..”

Komen­tar itu menyi­ratkan kri­tik bah­wa keber­adaan gedung DPRD di daer­ah seakan tidak mem­berikan man­faat sig­nifikan bagi masyarakat, teruta­ma dalam menan­gani per­soalan yang menyangkut kepentin­gan raky­at.

  CCTV Sahur: Rumah DPRD Bogor Nyaris Dibobol

Akun lain, m_khaf_khan, menulis den­gan nada lebih keras:
“DPR bubar raky­at GK bakalan demo LG, itu yg di inginkan raky­at saat ini.”

Perny­ataan terse­but mencer­minkan rasa frus­trasi seba­gian masyarakat ter­hadap insti­tusi per­wak­i­lan raky­at, yang diang­gap tidak lagi rel­e­van den­gan kebu­tuhan pub­lik.

Semen­tara itu, akun luk­manuf menam­bahkan komen­tar yang men­gaitkan situ­asi Tegal den­gan dinami­ka poli­tik di daer­ah lain:
“Beraw­al dari pati, tun­tu­tan raky­at tak dipenuhi, malah bupati dibela pusat, semakin aro­gan den­gan joget2 dpr, raky­at makin muak.”

Komen­tar ini mengindikasikan bah­wa gejo­lak masyarakat tidak hanya ter­ja­di di Tegal, tetapi juga di daer­ah lain seper­ti Pati, Jawa Ten­gah, di mana masyarakat merasa suaranya tidak diden­gar.

Ada pula komen­tar singkat dari akun afendi.akhmad. “DPR yg mem­bi­ayai raky­at inih.”

Mes­ki singkat, kali­mat itu menim­bulkan perde­batan, sebab banyak pihak jus­tru meni­lai seba­liknya, yakni raky­at­lah yang mem­bi­ayai DPR lewat pajak.

Sedan­gkan akun buden­gasirhasa menuliskan. “Good­lah klo DPR mah…biar tang­gung jawab Induknya.”

Perny­ataan ini seakan menyindir lem­ba­ga DPR pusat yang diang­gap harus bertang­gung jawab ter­hadap kegaduhan yang melu­as di tingkat daer­ah.

Berdasarkan infor­masi yang dihim­pun dari berba­gai sum­ber, aksi mas­sa di Tegal bermu­la dari kemara­han pub­lik sete­lah salah seo­rang penge­mu­di ojek online tewas dalam sebuah insi­d­en yang hing­ga kini masih menim­bulkan tan­da tanya. Rasa sol­i­dar­i­tas antar-dri­ver ojol dan dukun­gan masyarakat mem­bu­at mas­sa berg­er­ak menu­ju Gedung DPRD Kota Tegal.

Mas­sa yang mema­dati hala­man gedung mem­bawa span­duk, poster, dan seru­an tun­tu­tan. Aksi mere­ka berlang­sung den­gan suara orasi yang lan­tang, menun­tut kead­i­lan atas peri­s­ti­wa terse­but. Situ­asi semakin mem­anas keti­ka sejum­lah orang mulai menyalakan api di depan gedung. Dari video yang beredar. kobaran api tam­pak cukup besar, dis­er­tai sorakan mas­sa yang semakin riuh.

Hing­ga kini belum ada keteran­gan res­mi dari aparat kepolisian maupun pemer­in­tah daer­ah terkait penye­bab tewas­nya dri­ver ojol yang men­ja­di pemicu aksi. Namun, fak­ta bah­wa demon­strasi berakhir ricuh den­gan adanya pem­bakaran mem­bu­at per­ha­t­ian pub­lik semakin ter­tu­ju pada kasus ini.

  Sidang Kampus Berujung Serangan, Mahasiswi UIN SUSKA Jadi Korban

Fenom­e­na unjuk rasa di Tegal menun­jukkan bah­wa keper­cayaan pub­lik ter­hadap lem­ba­ga leg­is­latif, baik di tingkat pusat maupun daer­ah, ten­gah bera­da di titik kri­tis.

Komen­tar war­ganet yang meni­lai DPR “tidak ter­lalu nga­pa-nga­pain” mencer­minkan persep­si umum bah­wa lem­ba­ga per­wak­i­lan raky­at belum benar-benar hadir dalam mem­per­juangkan kepentin­gan masyarakat.

Sejum­lah kri­tik juga diarahkan pada gaya hidup dan aktiv­i­tas para anggota DPR yang dini­lai tidak peka ter­hadap pen­der­i­taan raky­at. Isu sep­utar “joget-joget DPR” yang dise­butkan oleh salah satu komen­tar, mis­al­nya, men­gacu pada aktiv­i­tas anggota leg­is­latif yang ker­ap tampil dalam kegiatan hibu­ran, semen­tara di saat yang sama raky­at meng­hadapi berba­gai per­soalan berat.

Kema­t­ian seo­rang dri­ver ojol mungkin tam­pak seba­gai insi­d­en tung­gal, tetapi reak­si pub­lik yang begi­tu besar mem­per­li­hatkan adanya aku­mu­lasi keke­ce­waan masyarakat ter­hadap pemer­in­tah dan DPR.

Bagi para penge­mu­di ojol, peker­jaan mere­ka bukan sekadar men­cari nafkah, melainkan juga ben­tuk per­juan­gan di ten­gah sulit­nya ekono­mi. Saat salah seo­rang rekan mere­ka tewas, sol­i­dar­i­tas pun ter­ban­gun secara spon­tan.

Namun, aksi sol­i­dar­i­tas itu kemu­di­an mele­bar men­ja­di kri­tik ter­hadap DPRD seba­gai sim­bol kekuasaan yang diang­gap gagal menden­garkan aspi­rasi masyarakat. Gedung DPRD yang men­ja­di sasaran pem­bakaran hanyalah rep­re­sen­tasi dari kemara­han raky­at ter­hadap sis­tem poli­tik yang dini­lai penuh keti­dakadi­lan.

Hing­ga beri­ta ini dit­ulis, belum ada perny­ataan res­mi dari pihak kepolisian terkait jum­lah mas­sa yang ter­li­bat dalam aksi terse­but maupun keru­gian mate­r­i­al aki­bat kebakaran.

Namun, sejum­lah penga­mat meni­lai bah­wa pemer­in­tah daer­ah dan aparat kea­manan per­lu segera meredam kete­gan­gan den­gan melakukan dia­log ter­bu­ka bersama per­wak­i­lan masyarakat dan komu­ni­tas ojek online. Transparan­si men­ge­nai kasus tewas­nya dri­ver ojol juga men­ja­di hal mende­sak agar tidak menim­bulkan speku­lasi liar.

  Sidang Kampus Berujung Serangan, Mahasiswi UIN SUSKA Jadi Korban

Beber­a­pa penga­mat poli­tik meni­lai, insi­d­en di Tegal adalah alarm bagi DPR maupun DPRD. Masyarakat semakin kri­tis dan tidak segan turun ke jalan keti­ka suara mere­ka tidak diden­gar.

Seo­rang akademisi yang tidak ingin dise­butkan namanya meny­atakan. “DPRD harus­nya men­ja­di rep­re­sen­tasi suara raky­at di daer­ah. Jika yang muncul jus­tru keke­ce­waan, maka itu tan­da fungsi rep­re­sen­tasi sedang gagal. Per­lu ada eval­u­asi menyelu­ruh.”

Semen­tara itu, aktivis masyarakat sip­il meni­lai aksi ini wajar ter­ja­di keti­ka kead­i­lan sulit diak­ses. “Sol­i­dar­i­tas ojol ini luar biasa. Tetapi harus­nya negara segera hadir den­gan mem­beri jawa­ban, bukan malah mem­biarkan kon­flik mem­be­sar,” ujarnya.

Per­an media sosial dalam menye­barkan infor­masi terkait aksi ini san­gat besar. Ung­ga­han video dan komen­tar war­ganet mem­per­li­hatkan bagaimana pub­lik meng­gu­nakan plat­form dig­i­tal seba­gai ruang ekspre­si sekali­gus alat kon­trol sosial.

Mes­ki demikian, arus infor­masi yang cepat juga men­gan­dung risiko hoaks dan pro­vokasi. Oleh sebab itu, ver­i­fikasi fak­ta men­ja­di san­gat pent­ing agar pub­lik tidak salah mener­i­ma infor­masi.

Aksi demon­strasi di Tegal menun­jukkan bah­wa masyarakat tidak akan ting­gal diam keti­ka ada keti­dakadi­lan yang menim­pa. Tewas­nya seo­rang dri­ver ojol telah men­ja­di sim­bol pen­der­i­taan raky­at kecil yang berjuang men­cari nafkah di ten­gah kon­disi ekono­mi sulit.

DPRD seba­gai lem­ba­ga rep­re­sen­tasi raky­at di daer­ah dihadap­kan pada tan­ta­n­gan besar untuk mengem­ba­likan keper­cayaan pub­lik. Respons cepat, transparan, dan berpi­hak pada raky­at men­ja­di kun­ci agar kete­gan­gan tidak semakin melu­as.

Lebih jauh, kasus ini seharus­nya men­ja­di reflek­si nasion­al bah­wa DPR di semua tingkatan per­lu mere­for­masi diri, bek­er­ja lebih nya­ta, dan tidak ter­je­bak pada cit­ra negatif di mata raky­at.

Den­gan demikian, insi­d­en di Tegal tidak hanya men­ja­di catatan kelam, tetapi juga momen­tum untuk mem­per­bai­ki hubun­gan antara wak­il raky­at den­gan masyarakat yang mere­ka rep­re­sen­tasikan. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *