Terupdate

Pagelaran senibudaya, balai desa sidorukun ,kecamatan pangkatan, kab labuhanbatu

677
×

Pagelaran senibudaya, balai desa sidorukun ,kecamatan pangkatan, kab labuhanbatu

Sebarkan artikel ini

Labuhanbatu snipernew.id Pemerintah Desa sidorukun,kecamatan pangkatan , Kabupaten Labuhanbatu, kembali menggelar pertunjukan wayang kulit dalam rangka temu ramah puja kesuma (putra Jawa kelahiran sumatra) mengisi Tahun Baru Islam Muharram 1446 Hijriah atau yang sering disebut Suro oleh masyarakat suku jawa, di aula Desa setempat 28/7/2024.

  Giat Pemuda Desa Tatakarya Adakan Besih-Bersih Mushola

Acara sakral budaya kejawen ini dihadiri Ketua puja kesuma kabupaten labuhanbatu beserta rombongan, dan kepala desa sidorukun berserta rombongan,

Hadir juga zamri Ketua puja kesuma kecamatan pangkatan, dan , Tokoh agama, Tokoh masyarakat, Tokoh kepemudaan SFS(sidorukun family sekitar) yudi selaku Ketua dan masyarakat sekitar.

Sebelum dilakukannya pertunjukan acara dirangkai dengan do’a bersama dan makan bersama tradisi suku jawa.

  Pengamat perdesaan mengatakan pemberhentian perangkat desa itu adalah hak kepala desa. Dengan ketentuan yang lengkap

Pada kesempatan ini hadir juga calon wakil bupati labuhannatu dari pujakesuma “zambri” .

Wayang kulit memiliki sejarah yang panjang di Indonesia, dengan akar yang mencapai ribuan tahun yang lalu. Meskipun ada berbagai teori tentang asal-usulnya, banyak yang setuju bahwa wayang kulit pertama kali muncul di pulau Jawa dan Bali. Wayang berasal dari bahasa Jawa yang berarti “bayangan” atau “gambar,” dan kulit mengacu pada bahan kulit yang digunakan untuk membuat figur dalam pertunjukan ini. Ujarnya.ucap Ketua pujakesuma

  Pjs Bupati Labuhanbatu Pimpin Apel Gabungan di Lapangan BKPP

Sejarah wayang kulit sangat terkait dengan agama Hindu dan Buddha, yang masuk ke Indonesia pada abad ke-1 Masehi. Pertunjukan wayang kulit awalnya digunakan sebagai sarana penyampaian ajaran agama dan cerita epik seperti Mahabharata dan Ramayana. Namun, seiring waktu, wayang kulit juga memasukkan elemen-elemen lokal dan mitologi pribumi, menciptakan paduan seni (abdullah) .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *