Di hari yang suci ini, Pimpinan dan seluruh jajaran PT SNIPERNEW MEDIA PERS serta PT Karya Gemilang Pemburu Fakta bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Banner SNIPERNEW
Keluarga Besar PT SNIPERNEW MEDIA PERS dan PT Karya Gemilang Pemburu Fakta
bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Berita Lifestyle

Dunia Maya Lebih Suka Ilusi? Fenomena “Balon Jumbo” di Media Sosial

310
×

Dunia Maya Lebih Suka Ilusi? Fenomena “Balon Jumbo” di Media Sosial

Sebarkan artikel ini

Jakar­ta, SniperNew.id - Era ser­ba dig­i­tal saat ini, pop­u­lar­i­tas sese­o­rang di media sosial ker­ap men­ja­di uku­ran kesuk­sesan baru. Jum­lah pengikut (fol­low­ers), jum­lah suka (likes), hing­ga inter­ak­si komen­tar diang­gap seba­gai tolok ukur seber­a­pa menarik atau berpen­garuh­nya sese­o­rang di dunia maya. Namun, apakah pop­u­lar­i­tas itu lahir dari karya, ide, atau pemiki­ran yang men­dalam?, Rabu (27/08).

Ung­ga­han seo­rang peng­gu­na media sosial di plat­form Threads, den­gan nama akun @daeng_asih, baru-baru ini menggeli­tik banyak orang. Ia meny­oroti fenom­e­na yang ser­ing ter­ja­di di jagat maya: untuk men­ja­di selebri­tas dunia dig­i­tal terny­a­ta tidak selalu mem­bu­tuhkan karya atau ide besar. Cukup den­gan “jualan” sesu­atu yang dise­but­nya seba­gai “balon jum­bo made by aplikasi”, sese­o­rang bisa den­gan cepat men­da­p­at sorotan, per­ha­t­ian, bahkan kete­naran.

Dalam tulisan­nya, ia meny­ing­gung bah­wa kon­ten den­gan balu­tan syar’i sekalipun tetap bisa laris man­is, begi­tu pula kon­ten tan­pa bungkus yang lebih ter­bu­ka. Bagi pub­lik maya, hal itu tetap sama-sama men­datangkan ban­jir per­ha­t­ian. Bahkan komen­tar yang seder­hana dan receh, mis­al­nya den­gan menuliskan kali­mat “indah banget, kan?” atau per­tanyaan ringan “mau pepaya atau nang­ka?”, bisa lang­sung mengikat ribuan pasang mata.

Fenom­e­na ini menu­rut­nya mem­bu­at banyak orang ter­her­an-her­an. Dunia maya terny­a­ta lebih ter­tarik pada “gun­dukan ilusi” ketim­bang isi kepala yang penuh ide. Ia menuliskan den­gan nada getir bah­wa kon­disi terse­but terasa “geli sekali­gus miris”.

Ung­ga­han terse­but dis­er­tai dua foto perem­puan berhi­jab mer­ah marun den­gan sorot mata tajam, seakan men­ja­di ilus­trasi nya­ta bagaimana kecan­tikan visu­al lebih cepat menyi­ta per­ha­t­ian ketim­bang gagasan dalam ben­tuk tulisan.

  Kucing di Atas Genteng: Simbol Keberanian Mengejar Mimpi di Tengah Keterbatasan

Psikolog sosial dan penga­mat media dig­i­tal sudah lama meny­ing­gung fenom­e­na ini. Visu­al memang lebih mudah dicer­na otak ketim­bang teks atau ide rumit. Foto, video pen­dek, atau sekadar ges­tur wajah mam­pu men­gir­imkan pesan emo­sion­al den­gan san­gat cepat.

“Manu­sia adalah makhluk visu­al. Otak kita mem­pros­es gam­bar 60.000 kali lebih cepat dari­pa­da teks. Jadi wajar kalau kon­ten visu­al lebih mudah viral,” ujar seo­rang penga­mat media dig­i­tal dalam sebuah diskusi dar­ing.

Tak her­an bila banyak orang memil­ih jalan pin­tas den­gan menampilkan sisi fisik atau manip­u­lasi visu­al yang memikat. Bahkan keti­ka pesan yang dibawa san­gat seder­hana atau malah receh, tetap saja hal itu mam­pu menarik per­ha­t­ian lebih besar diband­ingkan den­gan kon­ten berisi gagasan men­dalam.

Sebelum era media sosial, pop­u­lar­i­tas pub­lik fig­ur biasanya lahir dari karya nya­ta: buku, lagu, film, atau prestasi lain. Namun kini, semua orang memi­li­ki pelu­ang yang sama untuk men­ja­di terke­nal hanya lewat gawai di gengga­man­nya.

Kebi­asaan audi­ens yang lebih suka meli­hat ketim­bang mem­ba­ca mem­bu­at budaya instan semakin men­guat. “Karya” dalam arti kon­ven­sion­al bukan lagi syarat uta­ma untuk tampil di layar jutaan orang. Yang dibu­tuhkan hanyalah sedik­it keberan­ian menampilkan diri, dikom­bi­nasikan den­gan sen­tuhan aplikasi yang mem­per­can­tik visu­al.

Fenom­e­na ini bukan berar­ti tidak ada sisi posi­tifnya. Banyak pula kreator yang benar-benar meman­faatkan teknolo­gi untuk menye­barkan ide, edukasi, atau kreativ­i­tas. Namun sayangnya, suara mere­ka ser­ing kalah oleh gelom­bang besar kon­ten visu­al yang meng­go­da mata.

Ung­ga­han @daeng_asih menye­butkan bah­wa dunia maya terny­a­ta lebih menyukai “gun­dukan ilusi” dari­pa­da “otak berisi”. Kali­mat itu terasa meno­hok, kare­na seakan mene­gaskan bah­wa pub­lik lebih mudah ter­hibur oleh penampi­lan ketim­bang isi piki­ran.

Di sini­lah batas tip­is antara hibu­ran dan ilusi. Media sosial memang menawarkan ruang ekspre­si yang luas, tetapi juga meny­im­pan jebakan: orang bisa ter­buai oleh tampi­lan yang sesung­guh­nya tidak selalu nya­ta. Fil­ter kam­era, edi­tan aplikasi, hing­ga penci­traan ter­ten­tu bisa men­cip­takan per­sona yang berbe­da jauh dari keny­ataan.

  Revolusi Acara Virtual: Apa Itu Crowdcast dan Mengapa Semua Orang Mulai Pindah ke Sana?

Hal ini menim­bulkan per­tanyaan men­dasar: apakah audi­ens media sosial benar-benar menyukai sang kreator, atau hanya ter­pes­ona pada ilusi visu­al yang ditawarkan?

Con­toh yang diberikan dalam ung­ga­han Threads tadi san­gat rel­e­van. Komen­tar-komen­tar seder­hana seper­ti “indah banget, kan?” atau “mau pepaya atau nang­ka?” mungkin ter­den­gar sepele. Namun, di jagat maya yang haus akan inter­ak­si, kali­mat ringan semacam itu jus­tru bisa men­ja­di “pancin­gan” efek­tif.

Ribuan orang den­gan cepat mere­spons, baik den­gan tan­da suka, komen­tar balik, maupun sekadar ikut meli­hat. Fenom­e­na ini seakan menun­jukkan bah­wa algo­rit­ma media sosial lebih meng­har­gai jum­lah inter­ak­si diband­ing kual­i­tas per­caka­pan.

Pada akhirnya, semakin banyak komen­tar, semakin besar pula kemu­ngk­i­nan ung­ga­han terse­but viral. Dari sini­lah ter­ben­tuk lingkaran yang men­guatkan fenom­e­na: kon­ten receh men­datangkan banyak inter­ak­si, dan banyak inter­ak­si mem­bu­at kon­ten receh semakin men­dom­i­nasi.

Tak bisa dipungkiri, apa yang diungkap­kan oleh akun @daeng_asih mewak­ili kege­lisa­han banyak peng­gu­na media sosial. Mere­ka yang men­gan­dalkan ide, tulisan, atau karya kre­atif ser­ing merasa kalah ber­saing den­gan kon­ten instan berba­sis tampi­lan fisik.

Kon­disi ini bisa memu­nculkan rasa miris. Dunia maya yang dihara­p­kan men­ja­di ruang berba­gi ide jus­tru berubah men­ja­di are­na jualan ilusi. Para kreator yang bek­er­ja keras men­go­lah gagasan kadang merasa hanya men­ja­di “penghias time­line” yang kurang men­da­p­at per­ha­t­ian.

Namun, pada sisi lain, fenom­e­na ini juga mengin­gatkan bah­wa dunia maya hanyalah reflek­si dari dunia nya­ta. Kecen­derun­gan manu­sia yang menyukai hal-hal menarik secara visu­al memang sudah ada sejak lama. Bedanya, kini ia diperku­at oleh algo­rit­ma plat­form yang mengede­pankan kon­ten den­gan inter­ak­si ting­gi.

Apakah ini berar­ti tidak ada hara­pan bagi kon­ten berba­sis ide dan karya? Tidak juga. Banyak kreator yang berhasil menyi­asati algo­rit­ma den­gan cara memadukan visu­al yang menarik den­gan pesan bermak­na.

  Ngopi Pagi, Gaya Hidup Modern Penuh Makna

Mis­al­nya, menya­jikan info­grafis yang indah sekali­gus berisi data pent­ing, atau mem­bu­at video pen­dek den­gan narasi yang men­gin­spi­rasi. Den­gan begi­tu, pub­lik tetap ter­pikat oleh tampi­lan, sekali­gus mener­i­ma isi pesan yang berni­lai.

Strate­gi ini­lah yang bisa men­ja­di jalan ten­gah: tidak melawan arus, tetapi meng­gu­nakan­nya untuk menyam­paikan sesu­atu yang lebih sub­stan­sial.

Ung­ga­han singkat dari akun @daeng_asih men­ja­di pengin­gat bah­wa kita per­lu lebih bijak saat berse­lan­car di dunia maya. Apakah kita hanya ingin ter­hibur oleh ilusi, atau mau melu­angkan wak­tu mencer­na ide dan gagasan yang lebih dalam?

Tidak ada yang salah den­gan men­cari hibu­ran. Namun, jika dunia maya hanya diisi oleh kon­ten instan tan­pa mak­na, maka kita akan kehi­lan­gan kesem­patan untuk mem­perkaya piki­ran.

Fenom­e­na “balon jum­bo made by aplikasi” hanyalah sim­bol dari kecen­derun­gan yang lebih luas: manu­sia cen­derung memil­ih yang mudah dan menye­nangkan, mes­ki terkadang menut­up pelu­ang untuk bela­jar hal baru.

Kisah yang dit­ulis oleh @daeng_asih di Threads mungkin ter­li­hat sepele, bahkan bernu­ansa satir. Namun, di balik itu ter­sim­pan kri­tik sosial yang dalam: media sosial kini lebih gemar men­jual ilusi ketim­bang ide.

Foto-foto perem­puan berhi­jab mer­ah yang dis­er­takan dalam ung­ga­han­nya men­ja­di semacam metafo­ra: kein­da­han visu­al memang mam­pu menawan, tetapi apakah cukup hanya sam­pai di sana?

Pada akhirnya, pil­i­han ada di tan­gan peng­gu­na. Apakah kita ingin men­ja­di sekadar penikmat ilusi, atau turut men­dorong lahirnya ruang maya yang lebih kaya gagasan?

Dunia dig­i­tal ibarat cer­min: ia meman­tulkan apa yang kita sukai. Jika kita hanya mem­berikan aten­si pada “balon jum­bo”, maka kon­ten semacam itu akan terus men­dom­i­nasi. Namun bila kita mulai meng­har­gai karya dan ide, bukan mus­tahil dunia maya akan bertrans­for­masi men­ja­di ruang yang lebih berni­lai. (Lin­da)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *