Berita Lifestyle

“Cinta di Ujung Senja” Viral di Threads: Unggahan Daeng_Asih Banjir Respons Hangat dan Lucu dari Warganet

608
×

“Cinta di Ujung Senja” Viral di Threads: Unggahan Daeng_Asih Banjir Respons Hangat dan Lucu dari Warganet

Sebarkan artikel ini

Jagat media sosial kem­bali dira­maikan oleh ung­ga­han bernu­ansa puitis dari salah satu peng­gu­na Threads berna­ma @daeng_asih. Dalam wak­tu kurang dari sehari, ung­ga­han terse­but sudah diton­ton lebih dari 2.120 kali dan men­u­ai beragam respons dari war­ganet — mulai dari komen­tar roman­tis hing­ga jena­ka.

Ung­ga­han terse­but berisi ungka­pan perasaan yang ken­tal den­gan nuansa sen­ja, cin­ta, dan keheningan. Kali­mat­nya yang lem­but dan penuh mak­na mem­bu­at banyak peng­gu­na Threads merasa tersen­tuh, bahkan seba­gian menang­gapinya den­gan bal­asan berisi puisi balik dan can­daan ringan.

Dalam ung­ga­han yang dibu­at sek­i­tar 14 jam lalu, @daeng_asih menulis. “Aku jatuh cin­ta pada war­na lan­git di ujung sore, dan cara­mu menat­ap­ku tan­pa kata.

Diantara lem­bayung yg per­la­han memu­dar, aku bela­jar bah­wa cin­ta tak selalu harus diu­cap­kan, cukup dirasakan dalam hen­ing yg tulus.
Seper­ti lan­git yg tak per­nah menun­tut mata­hari untuk tetap bersi­nar, namun selalu setia menan­ti kein­da­han per­pisa­han yg lem­but.
Begi­tu pula cin­ta, ia tak memak­sa tuk dim­i­li­ki, hanya berharap untuk dimenger­ti.”

Ung­ga­han itu dis­er­tai den­gan foto perem­puan berhi­jab war­na pas­tel yang ten­gah tersenyum lem­but. Foto terse­but mem­perku­at nuansa hangat dan damai dari tulisan yang ia bagikan.

Kali­mat terse­but men­gan­dung pesan men­dalam ten­tang mak­na cin­ta — bah­wa perasaan tidak selalu harus diny­atakan den­gan kata-kata, cukup dipa­ha­mi melalui ketu­lu­san. Ujaran itu meny­ing­gung bagaimana cin­ta yang sejati tidak menun­tut kepemi­likan, melainkan cukup den­gan sal­ing pengert­ian dan kete­nan­gan hati.

  Frimpong dan Wirtz Liburan Bareng

Akun @daeng_asih, yang dike­nal aktif mem­bagikan tulisan reflek­tif dan bernu­ansa sas­tra, adalah pem­bu­at ung­ga­han terse­but. Gaya tulisan­nya yang puitis dan kon­tem­platif ker­ap menarik per­ha­t­ian peng­gu­na Threads lain­nya.

Tak lama sete­lah diung­gah, kolom komen­tar pun dipenuhi berba­gai tang­ga­pan. Salah satu komen­tar yang pal­ing men­colok datang dari akun @stewart.laiyadi, yang mem­balas ung­ga­han itu den­gan tulisan pan­jang berna­da roman­tis:

“Aku kira kamu jatuh cin­ta padaku, tau²nya war­na lan­git di ufuk sana.
Memang jika aku menat­ap­mu ten­tu dgn penuh seju­ta rasa tan­pa kata, tapi tak sama dgn lem­bayung yg memu­dar.
Tapi spt mata­hari sore yg tetap men­gan­dung kehangatan sam­pai ter­be­nam di ufuk barat.
Diam² men­gatakan aku per­gi dulu ya sayang, teta­plah bersama kehangatan ini jelang tidur­mu ya!
Kamu tersenyum sim­pul aja menikmatinya, ya iya pergi­lah asal jgn lama² nan­ti rinduku tam­bah parah.
Nan­ti cium man­is ya cup cup, kok bun­yi??”

Bal­asan berna­da jena­ka sekali­gus roman­tis itu son­tak mem­bu­at war­ganet lain tertawa. Tak ingin ter­lalu serius menang­gapi, @daeng_asih kemu­di­an mem­balas komen­tar terse­but den­gan kali­mat yang mene­gaskan batas inter­ak­si secara sopan. “Salam buat istri dan anak² di rumah.”

Bal­asan itu dis­am­but posi­tif oleh banyak peng­gu­na lain, kare­na menun­jukkan kete­gasan tan­pa menim­bulkan perde­batan atau kesalah­pa­haman.

Selain komen­tar itu, ada juga tang­ga­pan dalam bahasa daer­ah Makas­sar dari akun @abdjalil1132 yang menulis:

“Nya­man­na kapang pun­na kat­te pare kopi tea­ma­ki sarei gol­la di, te, ne dudui sal­lang masyaal­lah.”

Komen­tar terse­but, jika diter­jemahkan secara bebas, menggam­barkan suasana akrab dan rasa kagum ter­hadap ung­ga­han yang diang­gap mene­nangkan. War­ganet lain­nya men­duga kali­mat itu meru­pakan ekspre­si kek­agu­man yang dis­am­paikan den­gan dialek lokal khas Bugis-Makas­sar.

  Anak Tukang Jamu Buktikan Kesuksesan, Tolak Kembali Mantan yang Pernah Menolaknya

Ung­ga­han ini dibu­at di plat­form Threads, aplikasi sosial berba­sis teks yang ter­hubung den­gan Insta­gram, sek­i­tar 14 jam lalu dari wak­tu tangka­pan layar beredar. Meskipun tidak dise­butkan lokasi spe­si­fiknya, berdasarkan gaya bahasa dan dialek dalam beber­a­pa komen­tar, banyak yang mem­perki­rakan peng­gu­na berasal dari wilayah Sulawe­si Sela­tan atau seti­daknya memi­li­ki kedekatan budaya den­gan daer­ah terse­but.

Threads sendiri semakin pop­uler di kalan­gan peng­gu­na Indone­sia seba­gai ruang berba­gi tulisan singkat, renun­gan, maupun kuti­pan sas­tra ringan. Ung­ga­han seper­ti yang dibu­at oleh @daeng_asih menun­jukkan bagaimana plat­form terse­but kini men­ja­di ruang baru bagi ekspre­si perasaan dan karya sas­tra mini.

Beber­a­pa alasan mem­bu­at ung­ga­han ini viral dan banyak dibagikan ulan­gU. ngga­han @daeng_asih men­gan­dung dik­si yang lem­but, penuh metafo­ra, dan dekat den­gan perasaan banyak orang — teruta­ma mere­ka yang per­nah menc­in­tai dalam diam.

Foto perem­puan berhi­jab yang tersenyum dalam nuansa lem­but seo­lah men­ja­di rep­re­sen­tasi nya­ta dari kehangatan yang dit­ulis dalam cap­tion.

Respons dari @stewart.laiyadi yang pan­jang, penuh humor roman­tis, mem­bu­at ung­ga­han ini tidak hanya menyen­tuh tetapi juga men­gun­dang tawa.

Bal­asan dari @daeng_asih yang meny­ing­gung “salam buat istri dan anak di rumah” mem­per­li­hatkan sikap dewasa dan men­ja­ga eti­ka dalam berin­ter­ak­si di ruang pub­lik dig­i­tal.

Adanya komen­tar berba­hasa daer­ah menam­bah war­na tersendiri dalam inter­ak­si terse­but, mem­per­li­hatkan kekayaan ekspre­si neti­zen Indone­sia yang multi­ba­hasa dan hangat.

Ung­ga­han ini kini ramai diung­gah ulang di beber­a­pa plat­form lain seper­ti Insta­gram Sto­ry dan Face­book. Banyak yang memu­ji kete­nan­gan gaya penulisan @daeng_asih, dan men­gang­gap tulisan­nya menggam­barkan “rasa cin­ta yang dewasa.”

  Ngopi Pagi, Gaya Hidup Modern Penuh Makna

Sejum­lah war­ganet menuliskan komen­tar seper­ti:

“Bahasanya indah banget, kayak puisi sen­ja yang hidup.”

“Kali­mat ter­akhirnya nyen­tuh banget, cin­ta memang cukup dimenger­ti.”

“Bal­asan ‘salam buat istri dan anak di rumah’ itu classy banget. Salut!”

Tak sedik­it pula yang men­jadikan poton­gan tulisan terse­but seba­gai sta­tus prib­a­di atau cap­tion foto. Hal ini menun­jukkan bah­wa ung­ga­han seder­hana namun tulus seper­ti itu masih memi­li­ki keku­atan besar di media sosial yang ser­ing kali penuh dra­ma.

Tulisan @daeng_asih bukan sekadar rangka­ian kata puitis, tetapi juga reflek­si ten­tang kede­wasaan dalam menc­in­tai.
Ia menggam­barkan bah­wa cin­ta yang sejati tidak menun­tut kepemi­likan atau pen­gakuan pub­lik, melainkan tum­buh dalam keheningan dan ketu­lu­san hati.

Semen­tara itu, inter­ak­si di kolom komen­tar mem­per­li­hatkan dua sisi kehidu­pan dig­i­tal: roman­tisme yang ser­ing kali berlebi­han, dan kecer­dasan sosial untuk menang­gapinya den­gan ele­gan.

Ung­ga­han ini juga mene­gaskan bah­wa media sosial bukan hanya tem­pat berba­gi kabar atau hibu­ran, tetapi juga wadah untuk mengek­spre­sikan rasa dan pemiki­ran dalam ben­tuk yang indah dan bereti­ka.

Fenom­e­na viral ung­ga­han @daeng_asih di Threads men­ja­di con­toh menarik bagaimana sas­tra mini dan inter­ak­si posi­tif bisa men­curi per­ha­t­ian pub­lik.
Den­gan gaya tulisan yang lem­but, foto bernu­ansa hangat, ser­ta bal­asan yang bijak, ung­ga­han ini mem­buk­tikan bah­wa dunia maya masih bisa men­ja­di ruang untuk kein­da­han kata dan sikap yang berke­las.

Dalam deras­nya arus kon­ten pro­vokatif di media sosial, ung­ga­han ini seper­ti jeda sore yang mene­nangkan — mengin­gatkan bah­wa cin­ta, layaknya lan­git sen­ja, tak selalu per­lu bersuara keras. Kadang cukup dipa­ha­mi, dan diam-diam dirayakan dalam ketu­lu­san yang seder­hana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *