Di hari yang suci ini, Pimpinan dan seluruh jajaran PT SNIPERNEW MEDIA PERS serta PT Karya Gemilang Pemburu Fakta bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Banner SNIPERNEW
Keluarga Besar PT SNIPERNEW MEDIA PERS dan PT Karya Gemilang Pemburu Fakta
bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Berita Peristiwa

Banjir Bandang Guci Tegal Picu Perdebatan Publik di Media Sosial

426
×

Banjir Bandang Guci Tegal Picu Perdebatan Publik di Media Sosial

Sebarkan artikel ini

TEGAL, SNIPERNEW.id — Kawasan wisata Guci, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, kembali menjadi sorotan publik setelah dilanda banjir bandang. Peristiwa tersebut ramai diperbincangkan usai diunggah oleh akun Instagram @daionlineofficial, yang menampilkan sejumlah video kondisi arus air deras di kawasan wisata serta potongan dokumentasi kegiatan budaya masyarakat setempat, Senin (22/12/2025).


Dalam ung­ga­han terse­but, ter­tulis keteran­gan “Ban­jir ban­dang kawasan Guci – apa sebab uta­manya?” yang memicu beragam respons dari war­ganet. Video per­ta­ma mem­per­li­hatkan kon­disi air sun­gai yang melu­ap dan men­galir deras di sek­i­tar area per­muki­man dan fasil­i­tas wisa­ta. Ter­can­tum pula penan­da wak­tu “Sab­tu, 10/12/2025”, yang menun­jukkan wak­tu ter­jadinya peri­s­ti­wa terse­but.

  Didorong ke Sekolah, Pelajar Bolos Dibina Satpol PP dan Babinsa

Ung­ga­han lain dari akun yang sama menampilkan doku­men­tasi kegiatan budaya berta­juk “Sedekah Bumi Guci – Tegal” ser­ta “rit­u­al ruwatan di pan­cu­ran 13 wisa­ta Guci, khusyuk dan sakral”. Dalam video terse­but ter­li­hat masyarakat mengiku­ti pros­esi adat den­gan mem­bawa sesaji, obor, dan iringan doa, yang menu­rut tra­disi lokal telah dilakukan secara turun-temu­run seba­gai bagian dari kear­i­fan budaya masyarakat setem­pat.

Respons dan Perde­batan War­ganet
Kolom komen­tar pada ung­ga­han terse­but dipenuhi beragam tang­ga­pan dari masyarakat.

Seba­gian war­ganet men­gaitkan ben­cana alam den­gan sudut pan­dang keaga­maan, semen­tara lain­nya mengin­gatkan pent­ingnya men­ja­ga aki­dah.

Di sisi lain, tidak sedik­it pula peng­gu­na media sosial yang meni­lai peri­s­ti­wa ban­jir ban­dang terse­but per­lu dil­i­hat dari aspek alam, lingkun­gan, dan tata kelo­la kawasan wisa­ta, bukan sema­ta-mata dari sudut pan­dang keyak­i­nan.

  Travel Terguling di Pacet, Rem Blong Jadi Dugaan

Perbe­daan pan­dan­gan terse­but menun­jukkan dinami­ka ruang dig­i­tal yang ter­bu­ka, di mana seti­ap indi­vidu memi­li­ki hak menyam­paikan pen­da­p­at. Namun demikian, sesuai prin­sip jur­nal­is­tik dan hukum yang berlaku, penye­bab ben­cana alam tidak dap­at dis­im­pulkan secara sepi­hak tan­pa kajian ilmi­ah dan keteran­gan res­mi dari pihak berwe­nang.

Per­spek­tif Sejarah dan Budaya Lokal
Tra­disi sedekah bumi dan ruwatan meru­pakan bagian dari warisan budaya masyarakat Jawa yang telah ada sejak lama. Kegiatan terse­but umum­nya dimak­nai seba­gai ungka­pan rasa syukur atas hasil alam dan hara­pan akan kese­la­matan.

Hing­ga saat ini, pros­esi budaya terse­but masih dilak­sanakan di berba­gai daer­ah den­gan tafsir dan pen­dekatan yang berbe­da-beda.

  Dikabarkan! Debit Sungai Naik, Jembatan Aek Puli Terancam Putus

Pemer­in­tah daer­ah maupun pen­gelo­la wisa­ta sebelum­nya juga ker­ap menekankan bah­wa kegiatan budaya dilakukan seba­gai bagian dari pelestar­i­an adat, bukan untuk meng­gan­tikan keyak­i­nan aga­ma masyarakat.

Hing­ga beri­ta ini dis­usun, belum ada perny­ataan res­mi yang men­gaitkan lang­sung antara kegiatan budaya den­gan peri­s­ti­wa ban­jir ban­dang di kawasan Guci. Para ahli keben­canaan sela­ma ini mene­gaskan bah­wa fak­tor uta­ma ban­jir ban­dang umum­nya meliputi curah hujan ekstrem, kon­disi topografi, alih fungsi lahan, ser­ta sis­tem drainase dan pen­gelo­laan lingkun­gan.

Masyarakat diim­bau untuk menyikapi infor­masi di media sosial secara bijak, tidak mudah meny­im­pulkan, ser­ta menung­gu keteran­gan res­mi dari instan­si terkait guna mence­gah kesalah­pa­haman dan poten­si kon­flik di ruang pub­lik dig­i­tal.

Penulis: [Iskan­dar]


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *