LAMPUNG, SNIPERNEW.id — Sabtu pagi, 25 Oktober 2025, menjadi salah satu hari yang paling berkesan dalam hidup iskandar. Setelah tiga hari penuh tanggal 22 sampai 24 Oktober 2025, menjalani Uji Kompetensi Wartawan (UKW) di Megamendung, Kota Bogor, ia akhirnya bersiap pulang ke Kabupaten Pringsewu, Lampung, Senin [08/12/2025].
Namun siapa sangka, perjalanan pulang itu justru menghadirkan cerita campuran antara kesabaran, perjuangan, dan komedi kehidupan yang sulit dilupakan.
Drama Mobil Travel Gran Max Lama: Sekitar pukul 10.00 WIB, mobil travel jenis Gran Max lawas yang ditumpangi Iskandar tiba-tiba berhenti mendadak. Penyebabnya: fanbelt (panbel) putus, membuat mobil tak bisa melanjutkan perjalanan.
Perbaikan memakan waktu sekitar “Tiga jam lebih”. Dalam teriknya siang dan rasa lelah perjalanan, saya hanya bisa menunggu sambil berdo’a agar mobil itu segera kembali hidup.
Saya…sadar, perjalanan pulangnya akan tertunda cukup lama, dan saya kemungkinan baru sampai rumah jauh dari jadwal yang diharapkan. Namun justru di situlah saya menemukan hikmah.
“Pesanan Travel yang Tak Sesuai Harapan“
Selama masa itu, Ayuk Rolla Mutiara lah yang mengurus dan menanggung seluruh kebutuhan makan dan minum saya serta kami semua hingga UKW selesai dilaksanakan.
Pada malam Sabtu 25 Oktober 2025 Saya menelpon seorang pemilik travel di kecamatan Sukamulya, seorang bernama “Asep” untuk memesan kendaraannya.
Namun saat itu “Asep” berkata:
“Mobil penuh, Bang. Ini Abang naik mobil teman saya ya. Sudah saya arahkan.”
Sayangnya, mobil yang datang tidak sesuai harapan: sudah penuh sesak, dan saya terpaksa duduk di kursi depan yang sempit, bahkan sampai merasa seperti “patung” karena tak bisa banyak bergerak.
Meski begitu, saya tetap memilih naik, sebab perjalanan harus dilanjutkan.
Hikmah dari Perjalanan Penuh Ujian:
Dalam perjalanan yang terhenti tiga jam karena kerusakan, ditambah rasa tak nyaman selama perjalanan, saya justru menemukan pelajaran berharga:
“Menjadi jurnalis profesional tidaklah mudah. Perjuangannya bukan hanya soal belajar teori atau menghafal kode etik, tetapi juga tentang kesabaran menghadapi situasi tak terduga.”
Saya menyadari bahwa setiap kesulitan justru membentuk karakter dan keteguhan seseorang dalam menjalani profesi kewartawanan.
Kepada rekan-rekan jurnalis yang belum mengikuti UKW, saya menyampaikan pesan penuh semangat. UKW adalah gerbang menuju profesionalisme.
Bukan hanya soal lulus atau tidak, tetapi soal keberanian untuk menguji kemampuan diri. Prosesnya mungkin melelahkan, tetapi hasilnya adalah peningkatan kualitas dan kepercayaan diri dalam bekerja.
Jangan takut menghadapi tantangan. Jika perjalanan pulang saja bisa penuh ujian, apalagi perjalanan menuju profesionalisme. Setiap wartawan hebat lahir dari perjuangan, bukan kenyamanan.
Peristiwa di Sabtu pagi itu, mulai dari mobil penuh, duduk sempit seperti patung, hingga panbel putus, menjadi rangkaian pengalaman yang memperkaya perjalanan hidup saya.
Bagi diri saya, ini bukan sekadar cerita pulang dari UKW, tetapi pengingat bahwa profesi mulia ini menuntut ketabahan, dedikasi, dan semangat pantang menyerah. Semoga pengalaman ini menginspirasi rekan-rekan jurnalis.
Penulis/Pencipta: [Iskandar], Cerita ini ditulis, Senin [08/12/2025] Pukul 17:11 WIB.












