LAMPUNG, SNIPERNEW.id — Pada 19 Oktober 2025, saya memulai sebuah perjalanan yang bukan sekadar perpindahan dari satu pulau ke pulau lain, tetapi perpindahan menuju jenjang profesionalisme sebagai seorang wartawan, Senin [08/12/2025]
Saat melintasi Bakauheni – Merak, tiket kecil berwarna kuning ini yang saya pegang menjadi saksi awal dari langkah besar tersebut, Bertuliskan:
“KMP. AMADEA
MERAK – BAKAUHENI
06771
TIKET TAMBAHAN
LESEHAN / VIP ANAK
Rp. 5.000
BERLAKU SEKALI JALAN
Barang Hilang atau Rusak Resiko Penumpang”
Tulisan sederhana ini terasa seperti simbol perjalanan panjang menuju peningkatan kompetensi. Tiket yang biasanya hanya dianggap formalitas, kali ini seolah memiliki makna emosional tersendiri: tiket menuju peningkatan kualitas diri sebagai jurnalis.
Tujuan saya adalah Villa Ivan, Megamendung, Kota Bogor, tempat dilaksanakannya Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Jenjang Muda pada Kamis 22 Sampai dengan Jumat 23 Oktober 2025. Kegiatan ini diselenggarakan oleh lembaga penguji dari Jurusan/Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Dr. Moestopo Beragama, institusi yang telah lama dipercaya dalam melahirkan jurnalis berkompeten di Indonesia.
Megamendung kala itu diselimuti udara sejuk, namun suasana di dalam diri saya justru menghangat oleh campuran gugup dan antusias. UKW bukan sekadar ujian; ia adalah cermin untuk melihat apakah kita benar-benar bekerja sesuai Kode Etik Jurnalistik, apakah kita layak disebut sebagai jurnalis profesional.

Di….villa itu, sejarah kecil terjadi dalam hidup saya. Kami mengikuti berbagai simulasi, ujian praktik, wawancara, penulisan cepat, hingga analisis kasus etik. Semua dilakukan dengan disiplin, objektivitas, dan tekanan waktu seperti dunia kerja yang sesungguhnya.
Tidak jarang, para penguji menantang kami untuk berpikir kritis dalam hitungan menit, memilih diksi yang tepat, serta mempertanggungjawabkan setiap keputusan jurnalistik.
UKW bukan hanya tentang lulus atau tidak. Ia tentang memahami kembali esensi profesi wartawan: Menyampaikan fakta apa adanya, Memegang teguh integritas, Tidak menyalahgunakan profesi, Mengutamakan kepentingan publik, Menghindari konflik kepentingan, Menjaga akurasi, keberimbangan, dan etika. Di sanalah saya melihat jurnalisme bukan sekadar pekerjaan, tetapi amanah.
Untuk teman-teman wartawan yang belum pernah mengikuti UKW, ketahuilah: UKW bukan penghalang, tetapi tangga.
Tiket kuning seharga Rp 5.000 itu menjadi pengingat bahwa langkah kecil bisa membawa kita pada peningkatan besar.
Jika kita mengaku jurnalis, maka kompetensilah yang membedakan antara yang hanya menulis dan yang benar-benar memahami bagaimana menulis dengan tanggung jawab. UKW membantu kita melihat posisi diri, memperkuat praktik kerja, dan membuka peluang lebih luas sebagai jurnalis profesional yang diakui Dewan Pers.
Sebuah pepatah jangan takut diuji.
Takutlah jika kita berhenti belajar. Dan ingatlah, setiap perjalanan besar selalu dimulai dari sesuatu yang sederhana. Bahkan dari sebuah tiket kecil bertuliskan “KMP. AMADEA — MERAK BAKAUHENI” yang bagi saya telah berubah menjadi simbol komitmen.
Semoga cerita ini menjadi pemantik semangat, agar semakin banyak jurnalis Indonesia melangkah menuju profesionalisme sejati.
Penulis/Pencipta: [iskandar].












