Berita Daerah

Siswa SD di Padanglawas Utara Hadapi Kesulitan Menyebrang untuk Sekolah

282
×

Siswa SD di Padanglawas Utara Hadapi Kesulitan Menyebrang untuk Sekolah

Sebarkan artikel ini

Padang lawas, SniperNew.id – Sejumlah murid Sekolah Dasar (SD) di Desa Simaninggir, Kecamatan Dolok Sigompulon, Kabupaten Padanglawas Utara, Sumatera Utara, menghadapi tantangan besar setiap hari ketika berangkat sekolah. Berdasarkan laporan yang diunggah akun mediagramindo melalui platform Threads, terlihat puluhan siswa berseragam merah putih harus melewati jalanan dan kondisi penyebrangan yang tidak layak demi menempuh pendidikan, Kamis (25/09).

Dalam video yang diunggah, anak-anak tampak berjalan bersama-sama didampingi seorang guru. Mereka mengenakan seragam lengkap, sebagian dengan peci dan jilbab, serta membawa tas sekolah. Latar belakang yang terlihat adalah pepohonan rimbun, jalan setapak, dan kondisi lingkungan yang tampak jauh dari pusat kota.

Tulisan dalam unggahan tersebut menyebutkan:

> “Ini yang kami kabarkan. Kondisi murid Sekolah Dasar di Padanglawas Utara, Desa Simaninggir Kecamatan Dolok Sigompulon Sumatera Utara. Permohonan guru Sekolah Dasar di Padanglawas Utara.”

Anak-anak sekolah dasar di Desa Simaninggir, Kecamatan Dolok Sigompulon, Kabupaten Padanglawas Utara, setiap hari harus menghadapi kesulitan ketika berangkat dan pulang sekolah. Mereka harus menyebrangi jalanan sempit, medan yang licin, serta akses penyebrangan yang tidak memadai. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran dari para guru dan orang tua murid, karena berpotensi membahayakan keselamatan anak-anak.

  Evakuasi Penumpang dari Jembatan Kuta Blang Tiba dengan Aman Menggunakan Hiace

Selain itu, unggahan tersebut juga menyampaikan adanya permohonan dari para guru sekolah dasar kepada pemerintah maupun pihak terkait agar segera memperhatikan kondisi ini dan memberikan solusi.

Pihak yang terlibat dalam persoalan ini adalah. Murid SD di Desa Simaninggir, Dolok Sigompulon, Padanglawas Utara. Mereka adalah pihak yang paling terdampak karena harus berjuang setiap hari demi bersekolah.

Guru-guru Sekolah Dasar setempat. Mereka ikut mendampingi siswa, menyampaikan keluhan, sekaligus memohon bantuan melalui media agar kondisi ini diketahui publik.

Orang tua murid. Meski tidak tampak dalam unggahan, mereka juga merasakan kecemasan terhadap keselamatan anak-anak.

Pemerintah Kabupaten Padanglawas Utara. Sebagai pihak yang bertanggung jawab atas infrastruktur daerah, pemerintah diharapkan segera mengambil langkah nyata.

Masyarakat luas. Publik, terutama pengguna media sosial, kini mengetahui kondisi ini setelah unggahan viral dan ikut memberi perhatian.

Peristiwa ini berlangsung di Desa Simaninggir, Kecamatan Dolok Sigompulon, Kabupaten Padanglawas Utara, Provinsi Sumatera Utara. Lokasi tersebut merupakan salah satu wilayah pedesaan yang masih memiliki keterbatasan akses infrastruktur, terutama dalam hal sarana jalan dan penyebrangan.

Unggahan di akun mediagramindo muncul sekitar 50 menit sebelum tangkapan layar diambil, dengan jumlah tayangan mencapai 849 kali. Meski tanggal pasti peristiwa di lapangan tidak disebutkan, dapat dipastikan bahwa kondisi ini merupakan permasalahan aktual dan masih berlangsung hingga kini.

  Keluarga Besar PKK BRI KC Perdagangan Gelar Perayaan Natal 2025 Penuh Khidmat dan Kebersamaan

Kondisi sulit yang dialami anak-anak tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya:

Kurangnya infrastruktur penyebrangan yang memadai. Anak-anak tidak memiliki jembatan atau sarana aman untuk menyeberang menuju sekolah.

Kondisi geografis desa. Desa Simaninggir berada di wilayah pedesaan dengan akses terbatas, sehingga jalur menuju sekolah harus melewati medan sulit.

Minimnya perhatian terhadap kebutuhan pendidikan di daerah pelosok. Infrastruktur dasar di sekitar sekolah belum diprioritaskan secara optimal.

Kondisi ini membuat guru merasa perlu menyampaikan permohonan resmi melalui media agar mendapat perhatian publik dan pemerintah.

Setiap pagi, para siswa berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Mereka melintasi jalanan yang curam, sempit, dan berisiko. Karena ketiadaan fasilitas penyebrangan yang layak, guru harus ikut serta mengawasi dan mendampingi anak-anak.

Dalam video, anak-anak tampak berdiri berjejer di pinggir jalan setapak sambil menunggu giliran. Beberapa murid terlihat memegang alas kaki mereka, tanda bahwa jalan yang ditempuh cukup sulit. Guru yang ikut mendampingi tampak berusaha menenangkan murid, sekaligus merekam kondisi ini untuk dijadikan dokumentasi.

Unggahan tersebut lalu diberi narasi dan caption yang menegaskan adanya permohonan guru sekolah dasar di Padanglawas Utara agar pemerintah segera memberikan solusi nyata terhadap permasalahan akses pendidikan ini.

Kasus di Desa Simaninggir ini menjadi salah satu potret nyata bagaimana akses pendidikan di daerah pelosok masih menghadapi tantangan besar.

Guru-guru berharap agar pemerintah daerah maupun pusat segera turun tangan. Pembangunan jembatan, perbaikan jalan, atau penyediaan sarana transportasi sekolah dianggap sebagai solusi jangka pendek dan jangka panjang.

  Tinjau Huntara, Bobby Nasution Pastikan Relokasi Segera Tuntas

Selain itu, masyarakat luas juga diajak untuk turut peduli, baik melalui perhatian, advokasi, maupun dukungan material.

Kondisi penyebrangan yang berbahaya dapat menimbulkan berbagai dampak:

1. Keselamatan siswa terancam. Risiko tergelincir, jatuh, atau mengalami kecelakaan meningkat karena akses tidak layak.

2. Kehadiran siswa berkurang. Jika hujan deras atau medan semakin sulit, ada kemungkinan siswa enggan berangkat ke sekolah.

3. Kualitas pendidikan menurun. Ketidaknyamanan akses bisa memengaruhi semangat belajar anak-anak.

4. Kesenjangan pendidikan makin nyata. Anak-anak di daerah pelosok seperti Simaninggir harus berjuang lebih keras dibanding siswa di perkotaan.

Kondisi murid sekolah dasar di Desa Simaninggir, Kecamatan Dolok Sigompulon, Kabupaten Padanglawas Utara, Sumatera Utara, menjadi perhatian setelah unggahan mediagramindo di Threads menyebar. Video yang menampilkan anak-anak SD berjuang menuju sekolah itu sekaligus menjadi permohonan terbuka dari para guru agar pemerintah segera memberikan solusi atas akses penyebrangan yang membahayakan.

Peristiwa ini mengingatkan bahwa pendidikan bukan hanya soal kurikulum dan pengajar, tetapi juga menyangkut akses dan keselamatan. Anak-anak di pelosok Indonesia berhak mendapatkan sarana aman untuk belajar, sebagaimana anak-anak di kota besar.

Pemerintah, masyarakat, dan pihak swasta diharapkan dapat bersinergi agar anak-anak di Desa Simaninggir dan daerah pelosok lainnya dapat menempuh pendidikan dengan selamat dan penuh semangat. (abd/Ahm)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *