Pesawaran, SniperNew.id — Pemerintah Kabupaten Pesawaran, Lampung, terus menunjukkan keseriusan untuk merealisasikan janji kampanye pasangan Bupati Nanda Indira dan Wakil Bupati Antonius Muhammad Ali. Salah satu janji utama mereka adalah pembangunan rumah sakit di wilayah pesisir, yang selama ini menjadi keluhan masyarakat akibat sulitnya akses layanan kesehatan, Jumat (12/09/25).
Langkah konkret terbaru dilakukan Wakil Bupati Pesawaran, Antonius Muhammad Ali, yang secara langsung menemui Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, di Jakarta pada Kamis (11/9). Pertemuan tersebut berlangsung produktif dan menjadi momentum penting untuk mendorong percepatan realisasi pembangunan fasilitas kesehatan baru itu.
Masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir Kabupaten Pesawaran selama ini menghadapi kendala jarak yang cukup jauh untuk mendapatkan layanan kesehatan di RSUD Pesawaran. Rumah sakit tersebut berada di pusat kabupaten, sehingga warga pesisir harus menempuh perjalanan panjang, yang dalam kondisi darurat bisa mengancam keselamatan pasien.
Situasi ini sering menimbulkan keluhan dari masyarakat, terutama ketika harus menangani kasus kegawatdaruratan medis seperti ibu melahirkan, kecelakaan kerja nelayan, atau penyakit yang memerlukan tindakan cepat. Wabup Antonius menegaskan bahwa masalah ini menjadi perhatian utama pemerintah daerah.
“Pembangunan rumah sakit di pesisir Pesawaran adalah kebutuhan mendesak. Letak RSUD yang jauh membuat warga kesulitan saat membutuhkan layanan darurat. Kami ingin memastikan semua warga, tanpa terkecuali, mendapatkan akses kesehatan yang adil,” ujar Antonius usai pertemuan.
Dalam pertemuan dengan Menteri Kesehatan, Antonius memaparkan data dan analisis kebutuhan fasilitas kesehatan di wilayah pesisir. Ia menyampaikan bahwa jumlah penduduk di daerah tersebut terus bertambah, sementara fasilitas kesehatan primer seperti puskesmas tidak selalu mampu menangani kasus serius.
Menanggapi hal itu, Menkes Budi Gunadi memberikan apresiasi atas upaya Pemkab Pesawaran yang proaktif mengajukan usulan pembangunan rumah sakit baru. Ia menegaskan bahwa dari sisi teknis maupun administratif, proposal yang diajukan sudah memenuhi persyaratan.
“Dari sisi kebutuhan dan syarat teknis, usulan ini sangat layak. Tinggal bagaimana kita mencari solusi pendanaan di tengah kebijakan efisiensi agar bisa segera terealisasi,” kata Menkes.
Budi Gunadi juga menjelaskan bahwa tantangan utama yang dihadapi saat ini adalah keterbatasan anggaran pemerintah pusat. Dengan adanya kebijakan efisiensi, pemerintah perlu mencari skema pendanaan kreatif agar pembangunan rumah sakit dapat segera dimulai.
Salah satu opsi yang sedang dipertimbangkan adalah kerja sama dengan pemerintah provinsi, skema pembiayaan berbasis Dana Alokasi Khusus (DAK), atau kolaborasi dengan pihak swasta melalui skema KPBU (Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha).
Antonius menegaskan bahwa Pemkab Pesawaran siap berkoordinasi dengan semua pihak, termasuk Kemenkes, Pemprov Lampung, dan DPRD, untuk menemukan solusi terbaik. “Kami ingin langkah ini tidak hanya berhenti pada tataran rencana. Kami akan kawal terus agar segera ada kepastian pembangunan, karena ini menyangkut keselamatan dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Pembangunan rumah sakit pesisir merupakan salah satu program unggulan pasangan Bupati Nanda Indira dan Wakil Bupati Antonius Muhammad Ali. Dalam masa kampanye, pasangan ini berkomitmen menghadirkan layanan kesehatan yang lebih merata dan terjangkau, termasuk memperbaiki infrastruktur dan sarana kesehatan.
Sejak dilantik, Pemkab Pesawaran telah melakukan pemetaan lokasi strategis untuk pembangunan rumah sakit baru, sekaligus mengkaji kebutuhan tenaga medis, peralatan kesehatan, dan dukungan infrastruktur penunjang seperti akses jalan dan jaringan listrik.
“Kami tidak ingin setengah-setengah. Rumah sakit ini nantinya harus memenuhi standar pelayanan minimal dan mampu menangani kasus darurat tanpa perlu dirujuk terlalu jauh. Artinya, SDM dan fasilitasnya harus lengkap,” kata Antonius.
Masyarakat pesisir menyambut baik kabar rencana pembangunan rumah sakit ini. Sejumlah warga mengaku lega jika janji kampanye ini benar-benar terealisasi, karena selama ini perjalanan panjang menuju RSUD kerap menjadi hambatan.
Salah seorang tokoh masyarakat, Ahmad Yani, mengungkapkan, “Kami sudah lama menginginkan rumah sakit yang dekat dengan wilayah pesisir. Selama ini kalau ada yang sakit parah, kami harus buru-buru membawa ke RSUD dengan jarak yang jauh. Harapannya, rencana ini cepat terealisasi.”
Jika rumah sakit baru berhasil dibangun, manfaat yang dirasakan masyarakat akan sangat signifikan. Akses layanan kesehatan akan lebih cepat, angka kematian akibat keterlambatan penanganan medis bisa ditekan, serta pemerataan pelayanan kesehatan akan tercapai.
Selain itu, pembangunan rumah sakit akan membuka lapangan kerja baru bagi tenaga medis maupun nonmedis. Hal ini berpotensi meningkatkan perekonomian lokal, terutama di sektor jasa dan perdagangan di sekitar rumah sakit.
Pemkab Pesawaran bersama Kementerian Kesehatan akan membentuk tim teknis untuk mengawal proses perencanaan hingga realisasi pembangunan. Tim ini akan fokus pada penyelesaian Detail Engineering Design (DED), analisis dampak lingkungan, serta penyusunan skema pendanaan.
Antonius menargetkan, pada awal tahun depan sudah ada kepastian anggaran agar pembangunan bisa dimulai pada semester kedua 2026. “Kami ingin rumah sakit ini menjadi bukti nyata bahwa janji kampanye bukan sekadar retorika. Ini adalah wujud komitmen pemerintah daerah untuk melayani masyarakat,” tegasnya.
Pertemuan antara Wabup Pesawaran Antonius Muhammad Ali dan Menkes Budi Gunadi Sadikin menjadi langkah penting dalam mewujudkan pemerataan layanan kesehatan di Kabupaten Pesawaran. Meski menghadapi tantangan keterbatasan anggaran, pemerintah daerah optimistis pembangunan rumah sakit pesisir akan segera terwujud dengan dukungan semua pihak.
Jika realisasi pembangunan berjalan lancar, rumah sakit ini akan menjadi tonggak sejarah bagi masyarakat pesisir Pesawaran — sekaligus bukti bahwa pemerintah daerah menepati janji kampanye dengan kerja nyata. (Sufiyawan)













