Berita Peristiwa

Aksi Unjuk Rasa di Pandeglang Warnai Protes dengan Kotoran Sapi

210
×

Aksi Unjuk Rasa di Pandeglang Warnai Protes dengan Kotoran Sapi

Sebarkan artikel ini

Pandeglang, SniperNew.id – Ratusan warga yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Sobang-Panimbang, didampingi mahasiswa serta pemuda, melakukan aksi unjuk rasa dengan cara tak biasa di Pandeglang, Banten. Aksi ini berlangsung pada Kamis siang, 4 September 2025, di depan Pendopo Bupati Pandeglang, Jalan Bhayangkara. Massa menyuarakan protes mereka dengan membawa karung berisi kotoran sapi dan menumpahkannya di depan kantor pemerintahan, Minggu (07/09).

Aksi ini digerakkan oleh kelompok masyarakat dari wilayah Sobang-Panimbang, mahasiswa, dan sejumlah pemuda. Mereka menamakan diri sebagai bagian dari Aliansi Masyarakat Sobang-Panimbang. Jumlah massa mencapai ratusan orang. Kehadiran mereka menarik perhatian banyak pihak, termasuk aparat keamanan dari Satpol PP Pandeglang yang langsung berjaga dan mengawal jalannya aksi agar tetap kondusif.

Dalam foto yang beredar di media sosial, tampak seorang petugas Satpol PP berusaha menghalau massa agar tidak semakin ricuh ketika kotoran sapi ditumpahkan di lantai pendopo. Wajah tegas aparat terlihat mencoba menenangkan situasi, sementara massa terlihat terus menyuarakan aspirasi mereka.

Aksi unjuk rasa ini ditandai dengan tindakan simbolis: menumpahkan kotoran sapi di Pendopo Bupati Pandeglang. Tak berhenti di sana, massa juga melakukan hal serupa di pintu masuk Gedung DPRD Pandeglang. Bahkan, menurut informasi, sebagian kotoran sapi yang dibawa dalam karung itu menempel di pintu kaca gedung.

  Banjir Rendam Perumahan Pondok Gede Housing 1 Bekasi Usai Hujan Deras Sore Hari

Bagi massa, aksi ini dianggap sebagai bentuk protes keras atas kondisi yang mereka nilai tidak sesuai harapan. Dengan menumpahkan kotoran sapi, mereka ingin menunjukkan kekecewaan mendalam terhadap kinerja pemerintah daerah. Meski tindakan ini cukup ekstrem, mereka menegaskan bahwa itu hanyalah simbol ketidakpuasan rakyat.

Aksi unjuk rasa terjadi pada Kamis (4/9/2025) siang. Lokasinya berada di dua titik penting pemerintahan Kabupaten Pandeglang:

1. Pendopo Bupati Pandeglang di Jalan Bhayangkara.

2. Gedung DPRD Pandeglang, tepatnya di pintu masuk utama.

Kedua tempat itu menjadi simbol kekuasaan eksekutif dan legislatif di Pandeglang. Dengan menumpahkan kotoran sapi di sana, massa ingin menyampaikan pesan keras bahwa aspirasi mereka tidak bisa diabaikan.

Walaupun dalam unggahan media sosial tersebut tidak dijelaskan secara rinci tuntutan massa, aksi semacam ini biasanya dipicu oleh ketidakpuasan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah daerah. Kelompok masyarakat dari Sobang-Panimbang, bersama mahasiswa dan pemuda, kemungkinan besar merasa aspirasinya selama ini belum didengar atau ditindaklanjuti secara memadai.

Menumpahkan kotoran sapi, yang memiliki makna simbolik sebagai sesuatu yang dianggap “kotor” atau “tidak berharga”, menjadi cara ekstrem untuk menyampaikan rasa muak dan kecewa. Dengan begitu, massa berharap pemerintah daerah segera mendengar dan bertindak nyata atas persoalan yang mereka hadapi.

  Posting Kondisi Hutan Gundul, Warga Buleleng Didatangi Petugas Kehutanan

Massa mendatangi lokasi dengan membawa karung berisi kotoran sapi. Setibanya di depan Pendopo Bupati, mereka langsung menumpahkan isi karung ke lantai. Kotoran sapi itu berserakan di pelataran pendopo dan menimbulkan reaksi aparat yang sigap menghalau agar situasi tidak semakin memanas.

Setelah itu, massa melanjutkan aksi ke Gedung DPRD Pandeglang. Di pintu masuk gedung, mereka kembali melakukan hal serupa dengan menumpahkan kotoran sapi. Saking banyaknya, bahkan ada kotoran yang menempel di pintu kaca gedung.

Dalam foto yang beredar, tampak aparat Satpol PP dan TNI berjaga di lokasi. Salah satu petugas perempuan Satpol PP tampak berada di depan massa, mengangkat tangan seolah meminta agar peserta aksi tidak semakin ricuh. Suasana terlihat tegang, namun tidak dilaporkan adanya bentrokan fisik yang berarti.

Hingga berita ini ditulis, pihak Pemerintah Kabupaten Pandeglang maupun DPRD Pandeglang belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait aksi tersebut. Aparat Satpol PP yang berada di lokasi hanya berfokus untuk menjaga ketertiban dan memastikan aksi tidak berujung pada kerusuhan besar.

Namun demikian, aksi simbolik yang menggunakan kotoran sapi ini dipastikan akan menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Sebab, penggunaan simbol yang ekstrem biasanya menjadi sorotan media dan publik secara luas.

Menumpahkan kotoran sapi di kantor pemerintahan memiliki makna yang sangat keras. Dalam budaya protes, tindakan semacam ini dimaksudkan untuk mempermalukan pihak yang diprotes sekaligus memberi pesan bahwa kinerja mereka dinilai tidak memuaskan.

Bagi massa, simbol itu adalah ungkapan rasa frustasi. Mereka ingin pemerintah segera memberikan solusi nyata, bukan hanya janji atau retorika.

  Kebakaran Hebat Landa Permukiman di Jalan Cilentah Bandung

Berdasarkan dokumentasi yang beredar, massa terlihat membawa poster, spanduk, dan meneriakkan yel-yel. Namun, yang paling mencolok adalah momen ketika karung berisi kotoran sapi dituangkan di lantai pendopo. Aparat yang berusaha menahan terlihat kewalahan karena massa begitu antusias menyampaikan protes.

Aksi ini juga menjadi perhatian warga sekitar. Beberapa di antara mereka merekam kejadian tersebut dengan ponsel, sehingga kemudian tersebar luas di media sosial.

Unggahan tentang aksi ini cepat viral dan memunculkan beragam komentar. Ada yang mendukung langkah masyarakat karena dianggap berani dan tegas dalam menyuarakan aspirasi. Namun ada juga yang mengkritik cara penyampaian protes yang dinilai kurang etis.

Terlepas dari pro dan kontra, aksi ini telah berhasil menarik perhatian publik, bukan hanya di Pandeglang, tetapi juga secara nasional.

Aksi unjuk rasa yang dilakukan Aliansi Masyarakat Sobang-Panimbang bersama mahasiswa dan pemuda di Pandeglang menjadi sorotan karena menggunakan cara tak biasa: menumpahkan kotoran sapi di kantor pemerintahan.

Aksi yang berlangsung pada Kamis, 4 September 2025, ini menunjukkan adanya ketidakpuasan mendalam masyarakat terhadap pemerintah daerah. Dengan simbol yang keras, mereka menuntut perubahan nyata.

Meski penuh kontroversi, peristiwa ini menegaskan bahwa ruang aspirasi publik masih terbuka lebar. Pemerintah daerah diharapkan segera memberikan jawaban konkret agar tidak terjadi eskalasi aksi serupa di kemudian hari. (Red/abd)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *