Makassar, SniperNew.id – Suasana halaman dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Makassar sore itu berbeda dari biasanya. Belasan warga binaan pemasyarakatan (WBP) tampak berbaris rapi sambil memegang sepasang bendera berwarna kuning dan merah, Selasa 26 Agustus 2025.
Mereka bergerak serentak mengikuti aba-aba instruktur dari Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Sulawesi Selatan. Suara lantang instruktur berpadu dengan semangat para peserta yang berusaha menirukan setiap gerakan.
Bukan sekadar latihan baris-berbaris atau permainan biasa, kegiatan ini merupakan bagian dari pembinaan kepramukaan yang digelar Lapas Makassar bekerja sama dengan Kwarda Sulsel.
Salah satu materi yang diajarkan adalah semaphore, yaitu teknik komunikasi menggunakan bendera. Di balik latihan sederhana itu, tersimpan misi besar, membentuk karakter, menanamkan disiplin, sekaligus menjaga kesehatan fisik dan mental warga binaan.
Kepala Lapas Kelas I Makassar, Sutarno, menegaskan bahwa pembinaan pramuka bukan sekadar kegiatan pengisi waktu. Ia menyebut kegiatan ini sebagai strategi pemasyarakatan yang menyehatkan jiwa dan raga.
“Kami berterima kasih kepada Kwarda Sulsel yang telah bersedia membimbing para WBP. Melalui pramuka, kami ingin menanamkan nilai-nilai kedisiplinan, kemandirian, kerja sama tim, serta menjaga kesehatan mental mereka,” ungkapnya.
Menurut Sutarno, kesehatan di dalam lapas tidak hanya diukur dari kondisi fisik semata, melainkan juga dari kesehatan psikologis dan sosial. Warga binaan yang sedang menjalani masa hukuman sering menghadapi tekanan mental, rasa terasing, dan hilangnya motivasi hidup. Dengan adanya kegiatan pramuka, mereka memiliki wadah untuk berinteraksi positif, menyalurkan energi, sekaligus meningkatkan rasa percaya diri.
Kegiatan pramuka yang melibatkan gerakan fisik seperti semaphore, baris-berbaris, dan permainan kelompok ternyata memberikan manfaat kesehatan jasmani. Gerakan mengangkat tangan, melambaikan bendera, dan berpindah posisi dilakukan berulang kali, sehingga secara tidak langsung melatih keseimbangan, kekuatan otot, dan koordinasi tubuh.
Instruktur dari Kwarda Sulsel, Andi Rahmat, menjelaskan bahwa metode pelatihan sengaja dibuat menyenangkan sekaligus menyehatkan.
“Warga binaan tidak hanya diajak memahami kode semaphore, tetapi juga dilatih menggerakkan tubuh secara teratur. Meski sederhana, latihan ini bisa memperlancar peredaran darah, melatih pernapasan, dan menjaga kebugaran,” jelasnya.
Dalam kondisi lapas yang terbatas, kegiatan fisik seperti ini sangat penting. Olahraga ringan melalui metode pramuka dapat mengurangi risiko penyakit tidak menular, seperti hipertensi, diabetes, dan obesitas yang rentan menyerang karena kurangnya aktivitas fisik.
Salah satu tantangan besar bagi warga binaan adalah tekanan psikologis akibat terpisah dari keluarga dan lingkungan sosialnya. Banyak dari mereka mengalami stres, depresi, bahkan gangguan kecemasan.
Program pramuka diyakini menjadi terapi mental yang efektif. Dalam setiap latihan, peserta harus bekerja sama, saling memberi semangat, dan belajar komunikasi. Hal ini membantu mereka mengurangi rasa terisolasi dan membangun kembali keterampilan sosial.
Psikolog klinis Dr. Nurul Hidayah, yang dimintai pendapat mengenai program ini, menyebut pramuka sebagai bentuk terapi kelompok.
> “Interaksi dalam kelompok pramuka bisa menumbuhkan rasa memiliki dan solidaritas. Kesehatan mental warga binaan akan lebih stabil ketika mereka merasa dihargai, dilibatkan, dan diberi kesempatan untuk belajar hal baru,” jelasnya.
Disiplin adalah kunci dalam kehidupan pramuka, dan hal itu sangat relevan dengan pembinaan warga binaan. Disiplin bukan hanya soal mengikuti aturan, tetapi juga tentang menata gaya hidup sehat.
Dalam pramuka, peserta diajarkan untuk tidur cukup, menjaga kebersihan diri, makan teratur, dan menghargai waktu. Semua itu adalah pola hidup sehat yang sebenarnya bisa diaplikasikan di dalam lapas.
Sutarno menambahkan bahwa pembinaan disiplin lewat pramuka diharapkan dapat menular ke perilaku sehari-hari. Dengan begitu, setelah bebas, WBP bisa menerapkan pola hidup sehat dan disiplin di masyarakat.
Semaphore, teknik komunikasi menggunakan bendera, mungkin terlihat kuno di era digital. Namun, bagi warga binaan, belajar semaphore memiliki makna lebih dalam.
Setiap kode yang dipelajari mengasah konsentrasi, daya ingat, dan koordinasi otak. Aktivitas ini bermanfaat bagi kesehatan kognitif, terutama dalam menjaga ketajaman daya pikir.
Selain itu, latihan ini mengajarkan pentingnya komunikasi sehat: menyampaikan pesan dengan jelas, tepat, dan penuh tanggung jawab.
Sebanyak 15 orang WBP yang terlibat dalam latihan terlihat antusias. Dengan pakaian seragam sederhana berwarna merah marun, mereka bergerak mengikuti instruksi dengan penuh semangat.
Meski sebagian masih canggung mengibaskan bendera, senyum dan tawa mereka menunjukkan adanya perubahan suasana hati.
Salah seorang peserta, sebut saja Budi, mengaku senang mengikuti kegiatan ini.
“Awalnya saya kira hanya main-main. Tapi ternyata belajar semaphore bikin saya lebih fokus. Saya merasa lebih sehat karena tubuh juga bergerak. Yang paling penting, saya merasa punya teman lagi,” ujarnya.
Kegiatan pramuka di Lapas Makassar tidak berhenti di pelatihan semaphore. Rencananya, program ini akan dilanjutkan dengan materi lain, seperti pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K), keterampilan tali-temali, dan kegiatan outdoor terbatas. Semua materi itu tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga mengajarkan keterampilan kesehatan dasar.
Kwarda Sulsel berkomitmen untuk terus mendampingi warga binaan. Dengan pendekatan pramuka, diharapkan mereka dapat menjadi pribadi yang sehat, produktif, dan siap kembali ke masyarakat.
Kesehatan yang ditanamkan lewat program pramuka di Lapas Makassar memiliki tujuan jangka panjang: reintegrasi sosial. Warga binaan diharapkan tidak hanya pulih dari sisi hukum, tetapi juga dari sisi fisik, mental, dan sosial.
Melalui disiplin pramuka, mereka belajar mengatur hidup. Melalui interaksi kelompok, mereka mengasah kesehatan mental. Melalui keterampilan fisik, mereka menjaga kesehatan jasmani. Semua itu menjadi bekal penting ketika mereka kembali ke masyarakat.
Kegiatan pramuka di Lapas Kelas I Makassar adalah contoh nyata bahwa kesehatan tidak melulu berasal dari obat atau rumah sakit. Aktivitas sosial, kedisiplinan, dan keterampilan sederhana pun dapat menjadi terapi yang menyehatkan jiwa dan raga.
Dengan menggandeng Kwarda Pramuka Sulsel, Lapas Makassar telah membuka jalan baru: pembinaan warga binaan berbasis kesehatan holistik.
Jika program ini konsisten dijalankan, bukan tidak mungkin warga binaan yang keluar dari lapas kelak akan membawa pulang lebih dari sekadar kebebasan mereka juga akan membawa tubuh yang bugar, pikiran yang sehat, dan karakter yang lebih kuat.
Editor: (Redaksi)


















