Bandar Lampung, SniperNew.id – Pesan singkat yang beredar melalui media sosial belakangan ini kembali mengetuk kesadaran publik, khususnya para orang tua. Dalam unggahan akun sosial media Treands “yerry_pattinasarany”, tersampaikan peringatan keras agar orang tua lebih memperhatikan kondisi sekolah anak-anak, terutama dalam kaitannya dengan maraknya kasus bullying, Selasa (19/08/2025).
Pesan tersebut berbunyi:
“Perhatikan kondisi sekolah anak-anak kita, pastikan mereka tidak menjadi korban bully terutama karena iman dan kepercayaan kita. Jika sudah tidak kondusif, jangan ragu untuk memindahkan atau homeschooling anak kita sehingga tidak ada trauma. Bekali mereka dengan iman sedini mungkin sehingga mampu bertahan dalam tekanan.”
Unggahan ini mendapat banyak tanggapan publik, terutama dari kalangan orang tua, pendidik, hingga pemerhati anak. Isu bullying yang bernuansa iman, agama, atau keyakinan dinilai berbahaya dan berpotensi menimbulkan luka psikologis yang dalam bagi anak-anak.
Fenomena bullying bukanlah hal baru dalam dunia pendidikan. Bullying tidak hanya berupa kekerasan fisik, tetapi juga ejekan, intimidasi, dan diskriminasi yang bisa berlangsung terus-menerus. Yang paling mengkhawatirkan adalah jika perundungan itu terjadi karena faktor identitas, termasuk perbedaan iman dan kepercayaan.
Psikolog pendidikan, dr. Siti Rahmaniah, M.Psi, menjelaskan bahwa bullying yang bernuansa agama lebih sulit disembuhkan dibandingkan bentuk bullying lain.
“Anak yang menjadi korban biasanya merasa dirinya ditolak secara total. Mereka bukan hanya direndahkan secara personal, tetapi juga dihubungkan dengan keyakinan yang dianut keluarganya. Dampaknya bisa meluas hingga mempengaruhi harga diri dan perkembangan sosial anak,” ujarnya.
Pesan dari unggahan tersebut menekankan pentingnya kewaspadaan orang tua. Menurut data KPAI, kasus perundungan di sekolah terus meningkat dalam lima tahun terakhir. Di antaranya, kasus yang bernuansa agama juga ikut dilaporkan, meski sering kali sulit dibuktikan karena dianggap sebagai “bercanda” oleh pelaku.
Praktisi pendidikan, Yusuf Hendrawan, menilai langkah untuk memindahkan anak dari sekolah yang tidak kondusif adalah pilihan realistis. “Jika sekolah tidak mampu memberikan lingkungan aman, maka orang tua berhak mencari alternatif lain, termasuk homeschooling. Yang terpenting adalah kesehatan mental anak tetap terjaga,” jelasnya.
Orang tua, menurut Yusuf, harus proaktif. “Jangan hanya percaya pada laporan sekolah. Dengarkan cerita anak, cermati perubahan sikapnya. Anak yang sering murung, enggan ke sekolah, atau kehilangan semangat belajar bisa jadi sedang mengalami tekanan di lingkungan sekolah.”
Unggahan itu juga menyebutkan homeschooling sebagai jalan keluar. Homeschooling atau sekolah rumah, kini semakin banyak dipilih orang tua di Indonesia. Data Asosiasi Sekolah Rumah dan Pendidikan Alternatif (Asah Pena) mencatat kenaikan signifikan peserta homeschooling sejak pandemi hingga saat ini.
Alasan memilih homeschooling beragam, mulai dari fleksibilitas, lingkungan belajar yang lebih aman, hingga alasan perlindungan terhadap kasus bullying.
“Homeschooling bukan sekadar memindahkan anak belajar di rumah. Ini juga tentang membangun ruang aman, membekali anak dengan nilai-nilai iman, serta menanamkan karakter sejak dini,” kata Lidya Mariani, penggiat homeschooling di Jakarta.
Menurut Lidya, meski masih ada stigma bahwa homeschooling mengisolasi anak dari lingkungan sosial, faktanya banyak komunitas homeschooling yang justru aktif membangun interaksi sosial sehat melalui kegiatan bersama, kelas komunitas, hingga outing edukatif.
Meski homeschooling bisa menjadi solusi, para ahli menekankan bahwa tanggung jawab utama sebenarnya ada di pihak sekolah. Sekolah harus mampu menciptakan lingkungan inklusif dan aman bagi seluruh siswa tanpa membedakan latar belakang agama atau keyakinan.
Pakar kebijakan pendidikan, Dr. Ahmad Fathoni, menilai pemerintah juga harus turun tangan serius. “Bullying bernuansa agama tidak boleh dianggap sepele. Harus ada mekanisme pengawasan, sanksi, serta program pendidikan multikultural yang kuat di sekolah. Anak-anak perlu diajarkan sejak dini tentang toleransi, saling menghargai, dan empati,” tegasnya.
Menurutnya, jika sekolah gagal menegakkan prinsip ini, maka generasi muda berpotensi tumbuh dalam budaya intoleransi yang merugikan bangsa.
Trauma akibat bullying bukanlah hal remeh. Banyak penelitian menyebutkan bahwa korban bullying berisiko mengalami depresi, kecemasan, bahkan gangguan kepribadian saat dewasa.
Psikolog anak, Dewi Kurniasih, mengingatkan bahwa pencegahan adalah langkah terbaik. “Orang tua harus membekali anak dengan iman, kepercayaan diri, dan kemampuan menghadapi tekanan. Tapi yang paling penting, anak harus merasa bahwa mereka punya tempat aman untuk bercerita – baik di rumah maupun di sekolah.”
Ia juga menekankan pentingnya literasi digital bagi orang tua agar lebih cepat mendeteksi jika ada indikasi anaknya jadi korban perundungan. “Saat ini bullying tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga di dunia maya. Cyberbullying bernuansa agama makin sering muncul. Ini lebih berbahaya karena bisa menyebar cepat dan sulit dihapus,” ujarnya.
Pendidikan seharusnya menjadi ruang pertumbuhan yang aman, bukan sumber ketakutan. Oleh karena itu, pesan dari unggahan “yerry_pattinasarany” dianggap relevan untuk kembali mengingatkan masyarakat.
Setiap orang tua diimbau untuk tidak menutup mata. Jika sekolah tidak kondusif, langkah memindahkan anak bukan berarti bentuk kekalahan, melainkan usaha melindungi mereka dari luka batin berkepanjangan.
Sementara itu, bagi lembaga pendidikan, isu ini harus menjadi refleksi. Guru, kepala sekolah, hingga pemerintah daerah wajib memperketat pengawasan, membangun budaya sekolah yang sehat, dan mengedepankan nilai toleransi.
Bullying, terutama yang bernuansa iman dan kepercayaan, adalah ancaman serius yang bisa merusak generasi. Pesan singkat yang sempat viral di media sosial tersebut layak dijadikan peringatan bagi semua pihak.
Anak-anak adalah masa depan bangsa. Mereka berhak tumbuh dalam lingkungan pendidikan yang aman, ramah, dan menghargai keberagaman. Jangan sampai trauma akibat perundungan membuat mereka kehilangan semangat belajar dan kepercayaan diri.
Orang tua, sekolah, dan pemerintah harus bahu membahu. Karena melindungi anak dari bullying bukan sekadar tanggung jawab individu, tetapi juga tanggung jawab bersama sebagai bangsa.
Editor (Ahmad)












