Sumatera Utara, SniperNew.id — Sebuah unggahan di media sosial ramai diperbincangkan setelah muncul dugaan praktik pungutan liar (pungli) yang dialami rombongan wisatawan saat berkunjung ke objek wisata Air Terjun Dua Warna, kawasan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.
Dalam unggahan yang diposting akun media sosial Threads “Andi Wibowo Journey” dan diunggah ulang oleh akun “Folk Konoha”, terlihat sekelompok wisatawan berjumlah tujuh orang dihentikan seorang pria di tengah perjalanan menuju lokasi wisata. Mereka diminta membayar Rp30.000 per orang. Kejadian itu menimbulkan keresahan sekaligus kecaman warganet, karena dianggap merusak citra pariwisata daerah.
Rombongan wisatawan awalnya berniat melakukan perjalanan santai atau sekadar “healing” ke kawasan Air Terjun Dua Warna yang dikenal sebagai salah satu destinasi alam unggulan di Deli Serdang. Namun, di tengah perjalanan menuju lokasi, mereka diduga dipalak oleh seorang pria yang meminta uang dengan alasan tidak jelas.
Dalam video! yang beredar, pria tersebut tampak berbicara dengan rombongan wisatawan, sementara beberapa anggota rombongan terlihat kebingungan. Wisatawan kemudian menyampaikan pengalaman mereka ke media sosial, dan unggahan itu dengan cepat menyebar luas.
Unggahan tersebut menuai beragam komentar warganet. Beberapa menilai praktik seperti ini bukan hal baru di sejumlah destinasi wisata alam, terutama di Sumatera Utara.
Seorang pengguna menuliskan komentar, “Itu kan mereka ber-7, preman cuma satu, kenapa takut? Tapi ya kalau ada yang hilang di hutan, siapa yang mau nyari? Jadi pelajaran juga kalau ke hutan harus siap-siap.”
Ada pula komentar dari pengguna lain yang menyoroti dampak buruk praktik pungli terhadap pariwisata daerah. “Lama kelamaan Brastagi dan sekitarnya hanya jadi perlintasan wisatawan saja. Wisatawan akan lebih memilih ke Danau Toba, Samosir, atau Aceh. Kalau pungli seperti ini dibiarkan, warga lokal hanya jadi penonton,” tulis akun bernama dr.m.giri.a.

Warganet lainnya menyebutkan bahwa praktik serupa sudah lama terjadi. “Udah dari dulu ada pungli, bahkan sejak tahun 2012 waktu saya kuliah. Di salah satu tempat wisata di Binjai juga begitu, sepanjang jalan bisa tiga orang lebih yang narik,” tulis seorang pengguna.
Komentar-komentar serupa juga banyak bermunculan. Sebagian besar mengeluhkan bahwa hampir semua wisata alam di Indonesia tidak luput dari pungutan liar, mulai dari wilayah Deli Serdang, Binjai, hingga Bogor.
Kasus dugaan pungli di Air Terjun Dua Warna ini memunculkan kembali diskusi serius mengenai masalah keamanan dan kenyamanan wisatawan. Banyak pihak menilai jika masalah ini tidak ditangani, citra pariwisata Sumatera Utara bisa merosot dan berdampak pada menurunnya minat wisatawan untuk berkunjung.
Wisatawan tentu menginginkan pengalaman yang menyenangkan, bukan sebaliknya merasa terintimidasi oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Apalagi Air Terjun Dua Warna dikenal sebagai destinasi yang indah dengan daya tarik warna air yang unik—perpaduan biru dan putih yang jarang ditemukan di lokasi lain.
Kondisi ini dinilai bisa menghambat potensi wisata yang sebenarnya besar. Jika praktik pungli terus berlangsung, wisatawan mungkin akan memilih tujuan lain yang lebih aman dan nyaman.
Meski belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai insiden ini, sejumlah warganet mendesak agar aparat keamanan dan pemerintah daerah turun tangan. Penertiban dianggap perlu dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang.
Sejumlah komentar juga menyarankan agar wisatawan lebih berhati-hati dan tidak bersikap naif saat menjelajahi alam. “Jadi explorer jangan naif, tidak semua tempat wisata itu friendly,” tulis seorang pengguna dengan nada mengingatkan.
Selain itu, beberapa pengguna mengaitkan praktik pungli dengan tingginya angka pengangguran. “Ini efek terlalu banyak pengangguran atau faktor lain ya? Hampir semua tempat wisata ada punglinya. Bagaimana pariwisata bisa maju kalau banyak tukang palak,” tulis akun rezaregoz.
Untuk menyelesaikan persoalan ini, dibutuhkan kolaborasi antara masyarakat, pelaku wisata, pengelola objek wisata, dan pemerintah. Pemerintah daerah bersama aparat keamanan perlu memperketat pengawasan di kawasan wisata.
Di sisi lain, masyarakat lokal juga didorong untuk lebih aktif menjaga keamanan dan kenyamanan wisatawan. Sebab, jika pariwisata maju, masyarakat sekitar juga akan mendapatkan manfaat ekonomi. Praktik pungli justru merugikan semua pihak, termasuk warga lokal sendiri.
Kasus dugaan pungli di Air Terjun Dua Warna menjadi pengingat bahwa pariwisata tidak hanya soal keindahan alam, tetapi juga soal keamanan, kenyamanan, dan rasa aman wisatawan.
Jika persoalan ini segera ditangani dengan serius, bukan tidak mungkin kepercayaan wisatawan akan kembali pulih. Namun, jika dibiarkan berlarut-larut, potensi besar pariwisata di Sumatera Utara bisa tergerus oleh citra buruk yang sebenarnya bisa dicegah.
Editor: (redaksi).


















