Berita Daerah

Lapas Sukamiskin Perkuat Ketahanan Pangan Lewat Pembinaan WBP

240
×

Lapas Sukamiskin Perkuat Ketahanan Pangan Lewat Pembinaan WBP

Sebarkan artikel ini

Ban­dung, SniperNew.id — Lem­ba­ga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Sukamiskin terus mem­perku­at pro­gram pem­bi­naan kemandiri­an war­ga binaan pemasyarakatan (WBP) melalui kegiatan keta­hanan pan­gan. Pro­gram ini tak hanya berman­faat bagi kebu­tuhan inter­nal lapas, tetapi juga berkon­tribusi pada keta­hanan pan­gan nasion­al dan mem­berikan nilai tam­bah ekono­mi.

Ket­ua Pre­sid­i­um Forum Pers Inde­pen­dent Indone­sia (FPII) Dra. Kasi­h­hati bersama Pen­gawas Dewan Pers Inde­pen­den (DPI) Adv. Lilik Adi Gunawan, S.H., melakukan kun­jun­gan ke Lapas Sukamiskin, Rabu (13/8/2025). Rom­bon­gan dis­am­but lang­sung oleh Kepala Lapas (Kala­pas) Fajar Nur Cahy­ono dan Kepala Kesat­u­an Penga­manan Lapas (Ka KPLP) Prayo­go Mubarak.

Kasi­h­hati men­gapre­si­asi penuh langkah Lapas Sukamiskin yang meman­faatkan lahan kosong untuk budi­daya per­tan­ian den­gan teknolo­gi mod­ern. Pro­gram ini men­cakup penana­man sayu­ran kangkung den­gan sis­tem hidro­ponik dan budi­daya mel­on berba­sis smart farm­ing meng­gu­nakan green­house den­gan pen­gawasan otoma­tis suhu, kelem­ba­ban, dan nutrisi.

“Pro­gram keta­hanan pan­gan ini men­ja­di con­toh nya­ta pem­bi­naan kemandiri­an yang mem­berikan man­faat gan­da: mem­bekali WBP den­gan keter­ampi­lan sekali­gus berkon­tribusi bagi masyarakat dan negara,” ujar Kasi­h­hati.

  Sikat Tambang Ilegal, Pemkab Pringsewu Tak Main-Main

Kala­pas Fajar Nur Cahy­ono, yang men­ja­bat sejak 23 Jan­u­ari 2025 meng­gan­tikan Wachid Wibowo, men­je­laskan bah­wa pem­bi­naan WBP di Lapas Sukamiskin men­cakup dua aspek uta­ma: pem­bi­naan keprib­a­di­an dan pem­bi­naan kemandiri­an.

Pem­bi­naan keprib­a­di­an diarahkan untuk mem­ben­tuk men­tal dan karak­ter agar WBP bertang­gung jawab ter­hadap diri sendiri, kelu­ar­ga, dan masyarakat. Semen­tara itu, pem­bi­naan kemandiri­an diarahkan pada pengem­ban­gan bakat dan keter­ampi­lan, sehing­ga sete­lah bebas WBP mam­pu berper­an kem­bali di masyarakat secara posi­tif.

“Hasil panen bukan hanya memenuhi kebu­tuhan pan­gan di dalam lapas, tetapi juga berpoten­si dis­alurkan ke masyarakat dan meng­hasilkan pener­i­maan negara bukan pajak (PNBP),” kata Fajar.

Ia menam­bahkan bah­wa peman­faatan teknolo­gi dalam per­tan­ian mem­ban­tu men­gu­ran­gi keter­gan­tun­gan pada pasokan luar dan men­dukung pro­gram keta­hanan pan­gan nasion­al.

Selain pro­gram per­tan­ian, Lapas Sukamiskin juga men­gelo­la Bengkel Ker­ja yang men­ja­di wadah pem­bi­naan keter­ampi­lan WBP. Ka KPLP Prayo­go Mubarak men­je­laskan bah­wa bengkel ker­ja ini men­cakup kegiatan perc­etakan buku reg­is­ter, budi­daya jamur tiram, per­tan­ian, hing­ga bar­ber­shop.

Bengkel ker­ja Lapas Sukamiskin memi­li­ki sejarah pan­jang sejak pen­jara ini berdiri pada 1924 den­gan sebu­tan Unit Perc­etakan. Pres­i­den per­ta­ma RI Soekarno bahkan per­nah men­g­op­erasikan salah satu mesin cetak garis pada tahun 1927 saat men­ja­di tahanan poli­tik. Peruba­han nomen­klatur dari Pen­jara Sukamiskin men­ja­di Lem­ba­ga Pemasyarakatan Khusus Dewasa Muda melalui SK Dir­jen Pemasyarakatan No. J.H.I.1091 kemu­di­an meng­gan­ti nama unit terse­but men­ja­di Bengkel Ker­ja.

  Klarifikasi Kacabdin Soal Chat Tipikor

“Bengkel ker­ja bukan sekadar pengisi wak­tu, tetapi sarana pen­didikan dan lati­han keter­ampi­lan agar WBP bisa mandiri dan bergu­na bagi kelu­ar­ga, masyarakat, dan negara,” jelas Prayo­go.

Ia mene­gaskan bah­wa prin­sip dasar bengkel ker­ja men­cakup ori­en­tasi pada pem­bi­naan (treat­ment ori­ent­ed) dan keun­tun­gan (prof­it ori­ent­ed), pemil­i­han WBP secara selek­tif, ser­ta pem­bi­naan yang ter­in­te­grasi den­gan pro­gram lapas. Selain itu, usa­ha bengkel ker­ja diarahkan agar mam­pu beror­i­en­tasi pada pasar.

Pen­gawas DPI Adv. Lilik Adi Gunawan, S.H., yang juga men­ja­bat Dewan Pakar FPII, menekankan pent­ingnya kolab­o­rasi antara Lapas Sukamiskin dan media pers. Menu­rut­nya, keter­bukaan infor­masi pub­lik dap­at mem­ban­gun pema­haman masyarakat bah­wa pem­bi­naan di lapas bukan sekadar huku­man, melainkan upaya nya­ta mengem­ba­likan WBP ke masyarakat den­gan bekal keter­ampi­lan dan karak­ter yang lebih baik.

“FPII berkomit­men mem­ban­gun sin­er­gi den­gan Lapas Sukamiskin untuk mengabarkan pro­gram pem­bi­naan ini agar dike­tahui luas oleh masyarakat,” ujar Lilik, yang juga Founder Fir­na Kasi­h­hati Law Firm.

  Seragam Lapangan, Semangat Gotong Royong di Pasie Laweh

Ia menam­bahkan, den­gan banyaknya uru­san pelayanan pub­lik di lingkun­gan lapas, ker­ja sama den­gan media men­ja­di kebu­tuhan yang tidak bisa dihin­dari.

Pro­gram keta­hanan pan­gan di Lapas Sukamiskin men­da­p­at dukun­gan dari berba­gai pihak, ter­ma­suk Ombuds­man Repub­lik Indone­sia, Direk­torat Jen­der­al Pemasyarakatan, dan Kan­tor Wilayah Dit­jen PAS Jawa Barat. Hasil panen mel­on dan kangkung yang dihasilkan war­ga binaan bukan hanya memenuhi kebu­tuhan inter­nal, tetapi juga memi­li­ki poten­si pen­jualan ke masyarakat luas.

Fajar Nur Cahy­ono mene­gaskan bah­wa tujuan uta­ma pro­gram ini adalah men­didik dan mem­ber­dayakan WBP melalui pem­bi­naan kemandiri­an di bidang per­tan­ian, agar sete­lah bebas mere­ka memi­li­ki keter­ampi­lan yang berman­faat. Selain itu, keber­hasi­lan pro­gram ini juga mem­ban­tu men­gubah stig­ma masyarakat bah­wa man­tan WBP tidak selalu iden­tik den­gan per­i­laku negatif.

“Kami ingin menun­jukkan bah­wa bekas WBP bisa berubah men­ja­di prib­a­di yang lebih baik dan berkon­tribusi bagi negara,” kata Fajar.

Pro­gram ini men­ja­di con­toh nya­ta bagaimana pem­bi­naan di lapas dap­at mem­beri man­faat gan­da: mem­ban­gun kual­i­tas indi­vidu sekali­gus mem­perku­at keta­hanan pan­gan nasion­al. Selain itu, kon­tribusi ekono­mi dari pen­jualan hasil panen beru­pa PNBP menun­jukkan bah­wa pem­bi­naan ini tidak hanya bersi­fat sosial tetapi juga pro­duk­tif.

 

Sum­ber: Forum Pers Inde­pen­dent Indone­sia (FPII)

Respon (1)

  1. Apakah ada jenis sayu­ran atau komod­i­tas lain selain kangkung dan mel­on yang ditanam den­gan teknolo­gi mod­ern terse­but, dan apakah hasil­nya bisa men­cukupi kebu­tuhan inter­nal selu­ruh war­ga binaan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *