Berita Sejarah

Jejak Prabu Tawang Alun dan Misteri Rowo Bayu: Antara Legenda, Pohon Kembar, dan Macan Putih

370
×

Jejak Prabu Tawang Alun dan Misteri Rowo Bayu: Antara Legenda, Pohon Kembar, dan Macan Putih

Sebarkan artikel ini

Di ten­gah lebat­nya hutan bam­bu dan bisikan angin yang menya­pu daun-daun, berdiri sebuah tem­pat yang tidak hanya sakral, namun juga meny­im­pan jejak sejarah kuno yang mengge­tarkan. Lokasinya bera­da di Rowo Bayu, sebuah desa yang ter­letak di Keca­matan Song­gon, Kabu­pat­en Banyuwan­gi, Jawa Timur. Di tem­pat ini­lah, konon Prabu Tawang Alun men­jalani tapa brata—sebuah laku spir­i­tu­al nan sakral yang hing­ga kini masih meng­gu­gah rasa penasaran para peziarah dan peneli­ti sejarah.

Sebuah ung­ga­han dari akun Face­book Petung Sewu mem­bagikan potret ban­gu­nan seder­hana berdind­ing bam­bu dan berat­ap seng, dike­lilin­gi rerim­bunan bam­bu yang men­ju­lang ting­gi. Dalam keteran­gan ung­ga­han terse­but, dise­butkan:

“TEMPAT PERTAPAAN PRABU TAWANGALUN. Lokasi Rowo Bayu Banyuwan­gi ini ter­letak di Ken­tan­gan alias Desa Rowo Bayu, Song­gon, Kabu­pat­en Banyuwan­gi Jawa Timur.”

 

Ung­ga­han ini segera men­u­ai respons beragam dari para peng­gu­na Face­book. Banyak yang ter­tarik, beber­a­pa menyangsikan, namun seba­gian besar larut dalam nos­tal­gia dan kenan­gan lama yang ter­tanam dalam mem­o­ri kolek­tif masyarakat sek­i­tar.

Salah satu komen­tar menarik datang dari akun berna­ma BankSayur Zal­ma. Ia menulis. ”Kalau dalam ceri­ta terke­nal, raja/prabu Tawang Alun yang mem­pun­yai adik laki-laki berna­ma Mas Wilabra­ta, dike­nal seba­gai Adi­pati Wilabrati. Wilabra­ta sem­pat men­ja­di raja di Kedawung sebelum akhirnya meny­atukan kem­bali wilayah Kedawung den­gan macan putih.”

  Uang Kuno Kesultanan Banten Jadi Sorotan, Simbol Sejarah dan Budaya Nusantara

Sebuah narasi penuh ima­ji­nasi yang mem­bawa pem­ba­ca melin­tasi lorong wak­tu ke masa di mana raja-raja Jawa hidup berdampin­gan den­gan mitos dan makhluk gaib. Nama-nama seper­ti Kedawung, Macan Putih, dan Mas Wilabra­ta seo­lah men­ja­di pin­tu ger­bang ke dunia masa lalu yang penuh intrik, per­juan­gan, dan spir­i­tu­al­i­tas.

Menang­gapi komen­tar terse­but, Moham­mad Nurk­hoiri menuliskan. “Kedawung mana? Di desaku ada juga. Kalau 1 Muharam ada tra­disi takir sewu.”

Komen­tar ini mengindikasikan bah­wa lokasi dan ceri­ta-ceri­ta semacam ini mungkin tidak hanya hidup di satu tem­pat, melainkan men­ja­di bagian dari budaya yang lebih luas, terse­bar dan men­gala­mi adap­tasi sesuai den­gan tra­disi lokal mas­ing-mas­ing daer­ah.

Namun tidak semua menyetu­jui narasi terse­but. Arya Acarya, salah satu peng­gu­na lain, menulis den­gan nada skep­tis. “Ahhh ndak benar ini.”

Di sisi lain, Hari Pra­noyo jus­tru men­gon­fir­masi keber­adaan lokasi terse­but. “Bukan­nya ada di tepi­an Rowo Bayu dan sudah diban­gun indah + dipa­gar.”

Komen­tar ini seakan meny­o­dor­kan fak­ta bah­wa tem­pat per­ta­paan terse­but bukan sekadar mitos atau don­geng raky­at, melainkan situs nya­ta yang dap­at dikun­jun­gi, dil­i­hat, dan dirasakan atmos­fer spir­i­tu­al­nya.

Mem­bubuhkan sen­tuhan per­son­al, Wira Bhu­mi menam­bahkan. ”Aku tau lokasi itu… Pasti lewat ten­gah pohon kem­bar.”

Perny­ataan ini bukan hanya menam­bah keau­t­en­tikan infor­masi, namun juga mem­beri nuansa magis. Pohon kem­bar dalam banyak budaya lokal ser­ing dihubungkan den­gan ger­bang spir­i­tu­al atau pen­ja­ga alam gaib. Bila sese­o­rang harus “lewat ten­gah pohon kem­bar” untuk menu­ju tem­pat per­ta­paan, itu mengisyaratkan bah­wa lokasi ini bukan sekadar titik geografis, tapi juga pin­tu menu­ju alam kebati­nan.

  Rahasia Nanas Hias Langka yang Dipercaya Menyembuhkan

Nama Prabu Tawang Alun bukan­lah asing bagi masyarakat Banyuwan­gi dan sek­i­tarnya. Ia meru­pakan tokoh leg­en­daris yang konon per­nah memimpin Blam­ban­gan, ker­a­jaan Hin­du ter­akhir di Jawa Timur. Sosoknya ser­ing dikaitkan den­gan kebi­jak­sanaan, keku­atan spir­i­tu­al ting­gi, dan kemam­puan meny­atukan wilayah yang ter­cerai-berai.

Menu­rut beber­a­pa ver­si ceri­ta raky­at, adik beli­au, Mas Wilabra­ta (atau Wilabrati), per­nah memimpin daer­ah Kedawung dan akhirnya meny­atukan kem­bali wilayah terse­but den­gan ban­tu­an keku­atan gaib berwu­jud macan putih. Macan putih sendiri dalam kebu­dayaan Jawa ker­ap melam­bangkan pen­ja­ga raja atau sim­bol kesu­cian yang turun dari alam gaib.

Semen­tara itu, Rowo Bayu bukan hanya sebuah desa, tapi juga kawasan yang dike­nal memi­li­ki aura mist­is kuat. Selain seba­gai tem­pat per­ta­paan, Rowo Bayu juga dike­nal seba­gai tem­pat berlang­sungnya tra­disi takir sewu, sebuah rit­u­al sedekah bumi yang dilak­sanakan seti­ap 1 Muharam oleh war­ga sek­i­tar.

Tra­disi ini sarat akan nilai spir­i­tu­al dan budaya. Takir, yaitu wadah dari daun pisang yang berisi makanan, dis­usun dan dibagikan seba­gai ben­tuk syukur kepa­da Yang Maha Kuasa ser­ta peng­hor­matan kepa­da leluhur. Rit­u­al ini menun­jukkan bah­wa warisan Prabu Tawang Alun dan nilai-nilai luhur yang dibawanya masih dija­ga secara turun-temu­run oleh masyarakat Banyuwan­gi.

Apa yang muncul dalam ung­ga­han dan komen­tar-komen­tar terse­but bukan­lah sema­ta debat sejarah atau valid­i­tas ceri­ta. Melainkan cer­min dari bagaimana masyarakat memeli­hara warisan budaya lewat mem­o­ri kolek­tif, narasi lisan, dan jejak-jejak spir­i­tu­al yang menye­beran­gi batas antara dunia nya­ta dan gaib.

  Bukan Horor, Ini Ciamis: Makam Keramat dengan Jejak Sejarah Panjang

Bagi seba­gian orang, lokasi seper­ti tem­pat per­ta­paan Prabu Tawang Alun bukan hanya situs sejarah, tapi juga ruang kon­tem­plasi. Sebuah tem­pat di mana kita dap­at mere­nung ten­tang sia­pa kita, dari mana kita berasal, dan warisan apa yang ingin kita tinggalkan.

Seper­ti yang dit­ulis oleh Wira Bhumi—“Pasti lewat ten­gah pohon kembar”—kalimat ini bisa dimak­nai secara sim­bo­lik. Bah­wa untuk sam­pai pada pema­haman sejarah dan kear­i­fan lokal, kita harus mele­wati ‘pin­tu kem­bar’ antara dunia mod­ern dan tra­disi leluhur, antara logi­ka dan keper­cayaan, antara fak­ta dan leg­en­da.

Mungkin benar apa yang diyaki­ni seba­gian masyarakat, bah­wa Prabu Tawang Alun per­nah berta­pa di Rowo Bayu. Atau mungkin hanya bagian dari mitos yang dicer­i­takan turun-temu­run. Namun yang pasti, warisan seper­ti ini adalah bagian pent­ing dari iden­ti­tas budaya.

Banyuwan­gi bukan hanya ten­tang pan­tai dan fes­ti­val. Di balik hijaun­ya hutan dan sun­yinya Rowo Bayu, ada suara masa lalu yang masih berge­ma hing­ga hari ini—mengajak kita untuk men­ge­nal lebih dalam akar sejarah, dan meng­hor­mati ceri­ta yang mem­ben­tuk wajah daer­ah ini.

“Dan bila engkau mele­wati pohon kem­bar itu, jan­gan hanya gunakan mata­mu… gunakan pula hatimu.”

Jika Anda menyukai kisah ini, mungkin sudah wak­tun­ya untuk berkun­jung kem­bali ke Rowo Bayu — tem­pat leg­en­da dan kenan­gan lama sal­ing berpelukan dalam sun­yi.

Edi­tor: (Ahmad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *