Berita Pendidikan

Ospek Ramah: Wajah Baru Pendidikan Indonesia yang Patut Dicontoh

249
×

Ospek Ramah: Wajah Baru Pendidikan Indonesia yang Patut Dicontoh

Sebarkan artikel ini

Yogyakarta, SniperNew.id – Pemandangan berbeda tersaji dalam kegiatan penyambutan mahasiswa baru di salah satu perguruan tinggi ternama di Indonesia. Tidak ada teriakan, tidak ada hukuman fisik, apalagi aksi perploncoan yang menakutkan. Sebaliknya, sambutan penuh senyum dan semangat dari para senior menggantikan budaya ospek keras yang selama ini sering menuai kontroversi, Selasa 05 Agustus 2025.

Dalam unggahan video yang ramai diperbincangkan di media sosial, tampak para mahasiswa senior menyambut adik-adik juniornya dengan tepuk tangan, sorakan semangat, dan ekspresi bahagia. Mereka berdiri berbaris di pinggir jalan, melambaikan tangan dan memberikan semangat kepada mahasiswa baru yang melintas. Momen ini mendapat banyak apresiasi warganet karena mencerminkan wajah baru dunia pendidikan yang lebih manusiawi dan bermartabat.

Salah satu akun yang mengunggah video tersebut, @yosi_lifes, menulis, “Memang sudah seharusnya wajah pendidikan di negeri ini seperti ini, tidak perlu ospek yang mempermalukan dan ada kekerasan fisik lagi.” Unggahan ini pun langsung ramai dikomentari oleh ratusan pengguna media sosial yang menyambut positif perubahan ini.

Budaya ospek (orientasi studi dan pengenalan kampus) di Indonesia selama ini identik dengan kegiatan yang keras, tidak jarang bahkan mengarah pada perundungan dan kekerasan fisik. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kesadaran kolektif dari mahasiswa, kampus, dan masyarakat perlahan mulai menggeser paradigma tersebut.

  Dapur Sekolah Panas, Netizen Ikut Gerah

Salah satu komentar warganet menyebutkan, “Udah seharusnya ospek dihapuskan. Udah gak zamannya. Gak bermanfaat! Dulu kita masuk SMA, kuliah, ospek melulu. Bikin kita jadi gede rasa sama senior.”

Pendapat ini mewakili keresahan banyak pihak tentang praktik ospek yang justru menciptakan trauma dan relasi senior-junior yang tidak sehat. Beberapa kasus kekerasan bahkan sempat merenggut nyawa mahasiswa baru di sejumlah kampus di Indonesia.

Perubahan yang terekam dalam video tersebut merupakan angin segar bagi dunia pendidikan. Mahasiswa baru disambut layaknya tamu kehormatan, bukan objek perintah. Tidak ada intimidasi, hanya semangat dan dukungan yang membangkitkan antusiasme mereka dalam memulai masa perkuliahan.

Meskipun sempat terjadi perdebatan mengenai kampus mana yang ada dalam video tersebut antara UNY, UGM, atau Universitas Airlangga pengunggah menegaskan bahwa fokus utamanya adalah pada nilai dan pesan dari kegiatan itu, bukan soal lokasi.

“Pointnya adalah, mau PTN atau PTS mana pun, yang penting wajah dunia pendidikan sudah mulai berubah menuju hal yang lebih baik,” tulis Yosi dalam kolom komentar.

Diskusi yang berkembang dari unggahan tersebut memperlihatkan bahwa publik memiliki kesadaran yang semakin tinggi terhadap pentingnya pendekatan yang lebih humanis dalam pendidikan. Beberapa pengguna bahkan berbagi pengalaman pribadi mereka saat mengikuti ospek di masa lalu.

  Damkar Dampingi Siswi SMP Terima Rapor, Publik Terharu

Seorang pengguna bernama @luka.sihanto menulis, “Saya ospek di PTN di Jogja tahun 2003. Saat itu memang tidak ada makian atau kekerasan, hanya hukuman push up saja. Tapi kalau sekarang bisa tanpa hukuman fisik, kenapa tidak?”

Menanggapi hal itu, Yosi menyatakan bahwa tidak semua bentuk disiplin harus dihapus, selama tidak mengarah pada kekerasan atau perundungan. “Kalau disiplin sih oke-oke aja, tapi kalau sudah mengarah ke kekerasan fisik, itu yang harus dicegah,” tegasnya.

Seorang warganet lain menyebut bahwa ospek yang keras tidak menciptakan rasa hormat, justru memupuk dendam. “Ospek = kegiatan perploncoan yang gak ada gunanya. Cuma bikin dendam. Gak ada hormatnya sama senior. Kalau di dunia kerja juga gak bakal kepake,” tulis akun @combro.lezat.

Pernyataan ini menegaskan pentingnya perubahan pendekatan dalam dunia pendidikan. Rasa hormat bukan dibentuk dari ketakutan, tapi dari keteladanan, pembinaan karakter, dan rasa saling menghargai antar generasi dalam satu institusi.

Tak sedikit orang tua yang juga ikut angkat suara. Salah satunya adalah akun @niniekbas yang bercerita tentang anaknya di fakultas teknik yang masih mengalami ospek, meskipun dalam format yang lebih ringan. Ia menyebut bahwa ospek sekarang lebih banyak berisi kegiatan administratif atau simbolik seperti meminta tanda tangan senior, menulis esai, dan lain-lain.

“Selama masih dalam batas normal, ya anggap saja lucu-lucuan,” komentarnya.

  Satu Murid Satu Kelas! SDN 1 Kendalrejo Tetap Semangat Meski Hanya Dapat Satu Siswa Baru

Namun demikian, para orang tua tetap berharap agar kampus lebih selektif dan berhati-hati dalam menyusun agenda penyambutan mahasiswa baru. Tujuannya bukan sekadar untuk disiplin, tetapi juga membangun rasa nyaman dan aman bagi para mahasiswa.

Perubahan wajah ospek seperti dalam video tersebut semestinya bisa menjadi contoh nyata dan inspiratif bagi kampus-kampus lain di seluruh Indonesia. Apalagi di era digital saat ini, citra institusi pendidikan menjadi sorotan publik, dan kegiatan ospek tidak lagi menjadi urusan internal kampus semata.

Penting bagi dunia pendidikan untuk menciptakan lingkungan yang kondusif, aman, dan inklusif. Pendidikan bukanlah ruang untuk menanamkan rasa takut, tetapi ruang untuk menumbuhkan keberanian, kreativitas, dan solidaritas.

Seperti yang ditulis oleh akun @bangatokwellgud: “Keren sudah bisa berpikir dewasa sesuai perkembangan zaman, tanpa perlu aksi perploncoan.”

Wajah pendidikan Indonesia mulai berubah. Dari ospek penuh tekanan menjadi sambutan penuh kehangatan. Dari ketakutan menjadi rasa aman. Dari budaya perploncoan menjadi budaya penghargaan.

Langkah ini adalah sinyal positif bahwa masa depan pendidikan Indonesia tengah menapaki jalur yang lebih bermartabat. Saatnya semua pihak mendukung transformasi ini, demi terciptanya generasi penerus yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berjiwa besar dan saling menghormati.

Dan seperti harapan dalam unggahan itu, “Selamat datang di Jogja, adik-adikku. Semangat menempuh ilmu, dan semoga kelak menjadi penerus bangsa yang bisa kami banggakan.”

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *