Di hari yang suci ini, Pimpinan dan seluruh jajaran PT SNIPERNEW MEDIA PERS serta PT Karya Gemilang Pemburu Fakta bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Banner SNIPERNEW
Keluarga Besar PT SNIPERNEW MEDIA PERS dan PT Karya Gemilang Pemburu Fakta
bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Berita Viral

Putar Suara Alam di Kafe Tetap Kena Royalti, LMKN Tuai Respons Warganet

224
×

Putar Suara Alam di Kafe Tetap Kena Royalti, LMKN Tuai Respons Warganet

Sebarkan artikel ini

Jakar­ta, SniperNew.id — Ket­ua Lem­ba­ga Man­a­je­men Kolek­tif Nasion­al (LMKN), Dhar­ma Orat­man­gun, kem­bali men­ja­di sorotan pub­lik sete­lah perny­ataan­nya terkait roy­alti musik di kafe dan restoran memanc­ing kon­tro­ver­si di media sosial. Dalam ung­ga­han akun Threads @folkKonoha, Dhar­ma mem­berikan klar­i­fikasi bah­wa peng­gu­naan reka­man suara alam atau kicauan burung seba­gai peng­gan­ti musik tetap dap­at dike­nai kewa­jiban mem­ba­yar roy­alti apa­bi­la suara terse­but meru­pakan hasil reka­man yang dipro­duk­si dan memi­li­ki hak terkait, Selasa (05/08).

Menu­rut Dhar­ma, para pelaku usa­ha seper­ti kafe, restoran, dan tem­pat pub­lik lain­nya per­lu mema­ha­mi bah­wa reka­man suara ter­ma­suk yang ter­den­gar seper­ti suara alam masih ter­ma­suk dalam karya reka­man yang memi­li­ki hak ekono­mi bagi pro­dusen­nya. Ini berar­ti, walau bukan lagu pop­uler atau musik main­stream, peng­gu­naan audio reka­man tetap harus melalui per­iz­inan jika digu­nakan untuk kepentin­gan komer­sial.

Dalam ung­ga­han terse­but, akun folkKono­ha meny­er­takan kuti­pan visu­al berbun­yi:

  Scoopy Mblebeb Saat Gas Awal dan Menyalip? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya, Viral di Facebook Bang Tian

“Kafe Put­er Musik Harus Bayar, Suara Alam atau Burung di Restoran Tetep Kena Roy­alti Kata LMKN.”

Diiku­ti juga den­gan video Dhar­ma yang sedang men­je­laskan hal ini secara lang­sung, lengkap den­gan ele­men grafis seper­ti karak­ter ani­me dan ekspre­si serius yang menam­bah nuansa sindi­ran dalam penyam­pa­ian infor­masi.

Tak butuh wak­tu lama, ung­ga­han ini memicu gelom­bang komen­tar dari war­ganet yang kebanyakan bersikap satir, lucu, hing­ga sinis ter­hadap perny­ataan LMKN. Beber­a­pa komen­tar bahkan mem­per­tanyakan logi­ka kebi­jakan ini.

Seo­rang peng­gu­na berna­ma fran.zhengch menulis: “Kalo rekam sendiri gimana tuh?. Banyak loh yang pun­ya burung. Btw burung Jav di put­er boleh gak?”

Komen­tar ini menyi­ratkan kebin­gun­gan pub­lik: apakah jika sese­o­rang merekam burung peli­haraan­nya sendiri, mere­ka tetap harus mem­ba­yar roy­alti?

Peng­gu­na lain, zulfikar.abualhaitham, menim­pali den­gan nada humor:“Maasya Allah. Bapak ini pen­gen buat Indone­sia bebas dari musik. Wkwk”

Semen­tara itu, riplove.rip menulis: “Mau putar suara burung, tapi burungku gak bersuara.. mala­han wak­tu masuk sangkar, yang pun­ya sangkar yang bersuara..”

Komen­tar berikut­nya dari rian_alquena jus­tru men­yarankan: “Put­er jan­ji-jan­ji pres­i­den dan wapres­nya aja gimana?”

Beber­a­pa komen­tar lain jus­tru mem­berikan masukan kon­struk­tif. Mis­al­nya, akun frmn.dc men­yarankan agar LMKN bisa bek­er­ja sama den­gan layanan stream­ing: “Min­i­mal kasih solusi laa, entah pihak resto/mall/hotel dikasi opsi untuk sub­scrip­tion lisen­si² itu kaya Spo­ti­fy mis­al­nya..”

  Lawrence Taylor Tersandung Skandal Seks, Terdaftar Sebagai Pelaku Kejahatan Seksual

Ia menekankan bah­wa para pelaku usa­ha sebaiknya diberikan opsi legal agar tidak terke­na masalah hak cip­ta, bukan sekadar diwa­jibkan mem­ba­yar.

Namun, sen­ti­lan juga datang dari akun muhammad_ruslaan, yang mem­per­tanyakan: “Ter­ma­suk lagu INDONESIA RAYA yg selalu di putar keti­ka upacara di istana .dan keti­ka tim olahra­ga bertand­ing mewak­ili Indone­sia harus kena juga?”

seif_guitar168 dan el_mukl juga meny­oroti hal ini secara sinis: “Mend­ing di semua kafe put­er reka­man jan­ji kam­pa­nye aja deh”

“Kri­tis sekali ya bapak ini, sampe masuk IGD”

Tak sedik­it pula yang menyuarakan frus­trasi secara lang­sung, seper­ti akun _risky21:“Terus kita harus gimana ngen­tod?”

 

Kemu­di­an 9un4d1 menyindir:“Harus di pan­tau, roy­alti harus sampe ke burung yang bersuara…”

Dan hando_noa meny­im­pulkan: “Burung asli di sangkar…”

Ada pula komen­tar berna­da religius dari k.o.lovers: “Mend­ing putar kajian biar pada tobat 😁”

Polemik Lama yang Kem­bali Terangkat

Per­soalan roy­alti musik untuk tem­pat pub­lik bukan hal baru. LMKN memang diberi wewe­nang untuk menarik roy­alti dari peng­gu­naan musik reka­man secara komer­sial. Namun, kasus ter­baru ini menun­jukkan adanya kesen­jan­gan pema­haman dan komu­nikasi antara reg­u­la­tor dan masyarakat, teruta­ma soal defin­isi “karya reka­man” dan bagaimana itu diber­lakukan.

  Demi Mekkah!, Alvin Gowes Ribuan Kilometer, Semangat Bikin Netizen Merinding!

Banyak masyarakat yang belum mema­ha­mi bah­wa reka­man suara alam yang digu­nakan di ruang pub­lik bisa ter­go­long seba­gai karya den­gan hak terkait, jika direkam, dipro­duk­si, dan dijual secara komer­sial oleh sese­o­rang atau perusa­haan. Hal ini berbe­da jika pelaku usa­ha merekam sendiri secara lang­sung dan meng­gu­nakan suara terse­but tan­pa melalui media yang dilin­dun­gi hak cip­ta.

Perny­ataan Dhar­ma Orat­man­gun dan LMKN terkait kewa­jiban roy­alti atas peng­gu­naan reka­man suara alam atau kicauan burung di ruang pub­lik men­u­ai polemik luas. Meskipun secara hukum hal itu sah kare­na menyangkut hak terkait, pub­lik meni­lai pen­dekatan ini kurang sen­si­tif ter­hadap real­i­tas pelaku usa­ha kecil dan terke­san tidak prak­tis.

Komen­tar-komen­tar war­ganet di Threads mencer­minkan keke­salan, humor, ser­ta kri­tik yang menyen­til sisi kebi­jakan pemer­in­tah soal roy­alti musik. Hal ini menun­jukkan bah­wa jika pemer­in­tah ingin mem­ber­lakukan kebi­jakan ini secara luas, maka sosial­isasi, transparan­si, dan solusi tek­nis yang mudah diak­ses oleh pelaku usa­ha men­ja­di hal yang mut­lak diper­lukan.

Jika tidak, bukan tidak mungkin suara-suara satir war­ganet seper­ti “put­er jan­ji kam­pa­nye aja deh” akan men­ja­di ben­tuk per­lawanan sim­bo­lik ter­hadap reg­u­lasi yang diang­gap tidak adil.

Reporter: (Ahm)
Sum­ber: Threads (@folkKonoha,) komen­tar war­ganet


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *