Berita Hukum

Supir Resign, Tiba-Tiba Nuntut! PT Sarana Sukses ‘Disetir’ Denda Rp12 Juta

903
×

Supir Resign, Tiba-Tiba Nuntut! PT Sarana Sukses ‘Disetir’ Denda Rp12 Juta

Sebarkan artikel ini

Medan, SniperNew.id – Dunia kete­na­gak­er­jaan digem­parkan oleh manu­ver menge­jutkan dari seo­rang man­tan sopir. Suri­a­di, eks sopir PT. Sarana Suk­ses Bogata­ma, yang sebelum­nya telah men­ga­jukan surat pen­gun­duran diri secara res­mi, kini malah meny­erang balik man­tan tem­pat ker­janya den­gan tun­tu­tan den­da kelebi­han jam ker­ja, Jumat 18 Juli 2025.

  Pujian di Tengah Perkara: Momen Sowan Eggi Sudjana ke Jokowi Jadi Sorotan Publik

Iro­nis­nya, tun­tu­tan fan­tastis ini baru muncul sete­lah dirinya resign. Pub­lik pun bertanya-tanya: benarkah ini murni soal kead­i­lan, atau ada agen­da tersem­bun­yi di balik setir?

Suri­a­di mela­porkan PT. Sarana Suk­ses Bogata­ma ke Dinas Tena­ga Ker­ja UPTD Pen­gawasan Kete­na­gak­er­jaan Wilayah 1. Lapo­ran terse­but beru­jung pada kelu­arnya surat pene­ta­pan den­da sebe­sar Rp12.263.606, angka yang cukup bikin dahi mengerny­it, apala­gi bagi perusa­haan yang ten­gah fokus memulihkan ekono­mi pas­capan­de­mi.

Yang mem­bu­at kasus ini semakin viral, adalah pros­es pene­ta­pan yang diang­gap ter­lalu cepat dan tan­pa klar­i­fikasi men­dalam. Pihak kuasa hukum perusa­haan dari kan­tor hukum Hen­ry R.A Pak­pa­han, S.H & Rekan secara tegas menye­but langkah Dinas Tena­ga Ker­ja seba­gai ter­bu­ru-buru, sepi­hak, dan tidak adil.

  Unggahan Viral Soroti Narasi Positif Seragam Program MBG

Seba­gai respons atas putu­san terse­but, PT. Sarana Suk­ses Bogata­ma lang­sung men­ga­jukan band­ing res­mi ter­tang­gal 25 Juni 2025 (No. 110/SSB/VI/2025) kepa­da Kementer­ian Tena­ga Ker­ja RI. Dalam surat itu, perusa­haan mem­inta agar dilakukan penghi­tun­gan ulang sesuai keten­tu­an dalam Per­me­naker No. 1 Tahun 2020, teruta­ma Pasal 28 Ayat 3 yang men­jamin hak ked­ua pihak untuk meng­gu­gat pene­ta­pan apa­bi­la dirasa tidak sesuai.

Namun, dra­ma belum usai. Pada 15 Juli 2025, UPTD malah kem­bali men­gelu­arkan Nota Pemerik­saan II, yang men­gin­struk­sikan perusa­haan untuk segera melak­sanakan isi dari Nota Pemerik­saan I —  seo­lah tidak ada pros­es band­ing yang sedang ber­jalan. Perusa­haan pun meni­lai tin­dakan ini seba­gai ben­tuk aro­gan­si birokrasi dan pele­ce­han ter­hadap pros­es hukum.

  Helm Berpindah Tangan, Ceritanya Keburu Viral

Perusa­haan kini mem­inta Kementer­ian Tena­ga Ker­ja RI segera turun tan­gan dan menghen­tikan langkah sewe­nang-wenang UPTD yang diang­gap dap­at merusak iklim inves­tasi dan dunia usa­ha, khusus­nya di Suma­tra Utara.

Kasus “supir resign lalu nun­tut” ini bukan hanya meng­gun­cang ruang kan­tor, tapi juga menyu­lut diskusi luas ten­tang keje­lasan hukum kete­na­gak­er­jaan, pro­fe­sion­al­isme pen­gawas, dan urgen­si pem­be­na­han tata kelo­la birokrasi kete­na­gak­er­jaan di Indone­sia. (Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *