Berita Pendidikan

72 Siswa SMAN 5 Bengkulu Diberhentikan Karena Tidak Terdaftar di Dapodik

158
×

72 Siswa SMAN 5 Bengkulu Diberhentikan Karena Tidak Terdaftar di Dapodik

Sebarkan artikel ini

Bengku­lu, SniperNew.id – Dunia pen­didikan di Bengku­lu ten­gah dira­maikan oleh kabar yang cukup menge­jutkan. Sebanyak 72 siswa Seko­lah Menen­gah Atas Negeri (SMAN) 5 Bengku­lu ter­pak­sa diber­hen­tikan sete­lah mere­ka mengiku­ti pros­es bela­jar sela­ma sek­i­tar satu bulan. Pem­ber­hent­ian terse­but dilakukan lan­taran para siswa tidak ter­catat dalam Data Pokok Pen­didikan (Dapodik), sebuah sis­tem nasion­al yang wajib dim­i­li­ki oleh seti­ap peser­ta didik di Indone­sia, Jumat (22/08).

Infor­masi ini per­ta­ma kali men­cu­at sete­lah sejum­lah orang tua siswa menyam­paikan keluhan mere­ka kepa­da pihak seko­lah. Mere­ka men­gaku kebin­gun­gan keti­ka anak-anak mere­ka tiba-tiba diny­atakan tidak dap­at melan­jutkan pen­didikan di SMAN 5 Bengku­lu. Pada­hal, para siswa terse­but sudah sem­pat mengiku­ti pros­es pem­be­la­jaran sejak tahun ajaran baru dim­u­lai.

Kepala SMAN 5 Bengku­lu, Bihan, dalam keteran­gan­nya men­je­laskan bah­wa kepu­tu­san pem­ber­hent­ian ini tidak diam­bil secara sepi­hak. Menu­rut­nya, seko­lah hanya men­jalankan atu­ran yang telah dite­tap­kan oleh pemer­in­tah melalui Per­at­u­ran Menteri Pen­didikan Dasar dan Menen­gah (Per­me­ndik­das­men) ser­ta diperku­at den­gan Per­at­u­ran Guber­nur (Per­gub).

  SMKN 1 Pekanbaru Gelar Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan untuk Perkuat Semangat Generasi Muda

“Kepu­tu­san ini memang berat, tetapi harus dilakukan kare­na tidak adanya Data Pokok Pen­didikan (Dapodik) yang meru­pakan syarat sah bagi seo­rang siswa untuk ter­catat seba­gai peser­ta didik res­mi. Jika Dapodik tidak ada, maka keber­adaan siswa terse­but tidak bisa diakui dalam sis­tem pen­didikan nasion­al,” jelas Bihan.

Apa Itu Dapodik?, Dapodik atau Data Pokok Pen­didikan adalah sis­tem data yang dikelo­la oleh Kementer­ian Pen­didikan, Kebu­dayaan, Riset, dan Teknolo­gi (Kemendik­bu­dris­tek). Sis­tem ini men­catat selu­ruh infor­masi pent­ing ten­tang peser­ta didik, tena­ga pen­didik, hing­ga sarana prasarana seko­lah.

Dapodik men­ja­di dasar bagi pemer­in­tah untuk menyusun berba­gai kebi­jakan, ter­ma­suk penyalu­ran dana Ban­tu­an Opera­sion­al Seko­lah (BOS), pro­gram afir­masi pen­didikan, hing­ga data kelu­lu­san. Tan­pa ter­catat di Dapodik, seo­rang siswa diang­gap tidak terdaf­tar secara res­mi dan berpoten­si kehi­lan­gan hak-haknya dalam mengiku­ti ujian maupun men­da­p­atkan ban­tu­an pen­didikan.

Kepala seko­lah meni­lai bah­wa per­soalan ini ter­ja­di kare­na adanya kelala­ian dalam pros­es pendaf­taran. Ia menye­but bah­wa oper­a­tor seko­lah dan pihak terkait kewala­han meng­hadapi mem­blu­daknya calon peser­ta didik yang mendaf­tar pada masa pener­i­maan siswa baru.

“Banyaknya war­ga yang datang secara bersamaan mem­bu­at oper­a­tor kesuli­tan dalam melakukan input data ke sis­tem. Hal ini kemu­di­an berim­bas pada tidak terdaf­tarnya seba­gian siswa di Dapodik,” ujar Bihan.

Pihak seko­lah juga mene­gaskan bah­wa meskipun ada niat baik untuk menam­pung selu­ruh siswa, atu­ran pemer­in­tah tetap harus dipatuhi. Jika siswa tidak ter­da­ta di Dapodik, maka keber­adaan mere­ka diang­gap tidak sah secara admin­is­trasi.

  Menteri Datang, Bully Hilang? SMA 3 Jakarta Makin Adem Sejak Dapat ‘Wejangan Mantan Anak Tiga’

Kepu­tu­san pem­ber­hent­ian 72 siswa ini menim­bulkan keke­ce­waan yang men­dalam di kalan­gan orang tua. Banyak dari mere­ka merasa dirugikan kare­na anak-anak mere­ka sudah berseko­lah sela­ma sebu­lan, namun akhirnya harus berhen­ti.

Dalam sebuah reka­man video yang beredar, sejum­lah orang tua tam­pak men­datan­gi seko­lah untuk mem­inta keje­lasan. Mere­ka mem­per­tanyakan men­ga­pa per­soalan admin­is­trasi ini baru dike­tahui sete­lah anak-anak mere­ka men­jalani pros­es bela­jar sela­ma beber­a­pa ming­gu.

“Kena­pa tidak dari awal dis­am­paikan? Anak-anak sudah bela­jar, sudah merasa diter­i­ma, sekarang malah diber­hen­tikan. Kami orang tua ten­tu san­gat kece­wa,” ungkap salah seo­rang wali murid.

Per­masala­han ini mem­bu­ka diskusi yang lebih luas men­ge­nai pent­ingnya sin­er­gi antara seko­lah, orang tua, dan pemer­in­tah daer­ah dalam men­gelo­la admin­is­trasi pen­didikan. Banyak pihak meni­lai bah­wa koor­di­nasi yang kurang baik men­ja­di salah satu penye­bab muncul­nya per­soalan ini.

Beber­a­pa pemer­hati pen­didikan menekankan bah­wa hak anak untuk men­da­p­atkan pen­didikan tidak boleh ter­ham­bat oleh fak­tor tek­nis admin­is­trasi. Pemer­in­tah daer­ah dihara­p­kan bisa men­cari solusi agar siswa tetap dap­at berseko­lah, sem­bari menye­le­saikan per­soalan pen­dataan di Dapodik.

Selain itu, keber­adaan oper­a­tor seko­lah seba­gai ujung tombak input data juga men­ja­di sorotan. Den­gan jum­lah pendaf­tar yang banyak, dibu­tuhkan sum­ber daya manu­sia yang memadai agar tidak ter­ja­di kelala­ian yang merugikan siswa dan orang tua.

  Viral! Kisah Haru Ayah Pinjam Uang Demi Sekolahkan Anak Bikin Warganet Meneteskan Air Mata

Kasus di SMAN 5 Bengku­lu ini men­ja­di pela­jaran pent­ing bagi dunia pen­didikan di daer­ah lain. Ke depan, mekanisme pendaf­taran siswa baru per­lu diperku­at den­gan sis­tem yang lebih transparan dan ter­in­te­grasi. Sosial­isasi men­ge­nai pent­ingnya Dapodik juga harus dit­ingkatkan agar orang tua mema­ha­mi betul syarat dan prose­dur admin­is­trasi yang berlaku.

Dari sisi pemer­in­tah, per­lu ada kebi­jakan khusus yang mem­beri ruang bagi siswa yang sudah ter­lan­jur berseko­lah tetapi belum terdaf­tar di Dapodik. Mis­al­nya den­gan mem­bu­ka masa per­baikan data atau jalur khusus val­i­dasi, sehing­ga tidak ada siswa yang ter­an­cam kehi­lan­gan hak pen­didikan­nya hanya kare­na keter­lam­bat­an admin­is­trasi.

Kasus pem­ber­hent­ian 72 siswa di SMAN 5 Bengku­lu ini men­ja­di pengin­gat bah­wa admin­is­trasi pen­didikan adalah aspek yang tidak kalah pent­ing diband­ingkan kual­i­tas pem­be­la­jaran. Data yang aku­rat dan sis­tem yang tert­ib akan memas­tikan seti­ap anak men­da­p­at hak yang sama dalam mengenyam pen­didikan.

Mes­ki atu­ran harus dite­gakkan, pemer­in­tah, seko­lah, dan masyarakat tetap ditun­tut untuk men­em­patkan kepentin­gan siswa seba­gai pri­or­i­tas uta­ma. Sebab, pen­didikan bukan hanya ten­tang reg­u­lasi, melainkan ten­tang masa depan gen­erasi penerus bangsa.

Edi­tor: (Ahmad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *