Berita Peristiwa

Warga Sei Nagalawan Pertanyakan Sulitnya Bertemu Kepala Desa

314
×

Warga Sei Nagalawan Pertanyakan Sulitnya Bertemu Kepala Desa

Sebarkan artikel ini

Ser­dang Beda­gai, SniperNew.id - Sejum­lah war­ga Desa Sei Nagalawan, Keca­matan Per­baun­gan, Kabu­pat­en Ser­dang Beda­gai, men­gaku kesuli­tan untuk berte­mu den­gan Kepala Desa mere­ka. Keluhan ini men­cu­at sete­lah war­ga menung­gu hing­ga dua hari lamanya, namun sang Kepala Desa dise­but-sebut tidak kun­jung hadir, Rabu (27/08/2025)

Infor­masi terse­but sebelum­nya beredar di media sosial melalui ung­ga­han akun pub­lik yang meny­oroti kon­disi war­ga. Dalam ung­ga­han itu dise­butkan, war­ga merasa seakan-akan ingin berte­mu seo­rang pres­i­den keti­ka hen­dak men­e­mui Kepala Desa. War­ga pun mem­per­tanyakan alasan men­ga­pa sosok pemimpin desa yang seharus­nya dekat den­gan masyarakat jus­tru dini­lai menghin­dar.

“War­ga Sei Nagalawan hen­dak berte­mu den­gan kadesnya seper­ti hen­dak berte­mu den­gan pres­i­den. Sudah dua hari war­ga menung­gu untuk berte­mu, tapi kades selalu menghin­dar,” demikian isi ung­ga­han akun @pelawi07.

Ung­ga­han terse­but juga memu­nculkan per­tanyaan pub­lik men­ge­nai ada tidaknya per­soalan lain di balik sikap kepala desa. Muncul dugaan bah­wa ada kai­tan den­gan aktiv­i­tas seo­rang pen­gusa­ha yang diduga berusa­ha men­gua­sai kawasan hijau di ping­gir pan­tai setem­pat. Namun, dugaan terse­but masih mem­bu­tuhkan klar­i­fikasi lebih lan­jut dari pihak berwe­nang.

Dalam sebuah foto yang turut diung­gah, ter­li­hat sejum­lah war­ga sedang bera­da di dalam ruan­gan den­gan kur­si-kur­si plas­tik yang dis­usun seder­hana. Beber­a­pa orang tam­pak duduk di meja pan­jang berlapis kain mer­ah dan putih, seo­lah ten­gah memimpin rap­at atau forum kecil.

War­ga yang hadir dise­but berharap dap­at berdia­log lang­sung den­gan Kepala Desa Sei Nagalawan. Mere­ka ingin menyam­paikan aspi­rasi, keber­atan, ser­ta mem­inta keje­lasan terkait pen­gelo­laan wilayah desa, khusus­nya yang berhubun­gan den­gan kawasan hijau di sek­i­tar pan­tai.

  Kebakaran Hebat Landa Bangunan di Jalan Sei Bengawan Medan, Warga Diminta Tetap Waspada

Namun, upaya terse­but dise­but tidak mem­buahkan hasil. Kepala desa dik­abarkan tidak hadir, sehing­ga war­ga merasa kece­wa. Situ­asi ini­lah yang kemu­di­an meman­tik perbin­can­gan pub­lik, baik di kalan­gan masyarakat sek­i­tar maupun di media sosial.

Dalam ung­ga­han yang sama, dise­butkan pula nama seo­rang sekre­taris dari Asosi­asi Kepala Desa (Abde­si) di Keca­matan Per­baun­gan. War­ga mem­per­tanyakan apakah ada hubun­gan antara aparatur terse­but den­gan aktiv­i­tas yang meli­batkan oknum pen­gusa­ha.

Mes­ki demikian, hing­ga kini belum ada keteran­gan res­mi dari pihak keca­matan maupun asosi­asi terkait dugaan terse­but. Pub­lik diin­gatkan agar tidak berspeku­lasi berlebi­han tan­pa adanya buk­ti yang jelas. Infor­masi semacam ini pent­ing untuk diver­i­fikasi lebih lan­jut agar tidak menim­bulkan kesalah­pa­haman.

Pihak keca­matan, dalam hal ini Camat Per­baun­gan, juga dim­inta turun tan­gan untuk melakukan medi­asi antara masyarakat dan pemer­in­tah desa. Kehadi­ran camat dihara­p­kan dap­at men­jem­bat­ani komu­nikasi agar aspi­rasi war­ga ter­sam­paikan tan­pa menim­bulkan gejo­lak.

Salah satu isu uta­ma yang men­ja­di sorotan adalah terkait kawasan hijau di ping­gir pan­tai Desa Sei Nagalawan. War­ga khawatir jika lahan terse­but dikua­sai oleh oknum pen­gusa­ha ter­ten­tu, maka ruang pub­lik dan lingkun­gan yang seharus­nya bisa diman­faatkan bersama akan hilang.

Kawasan hijau memi­li­ki fungsi vital, bukan hanya seba­gai paru-paru desa, tetapi juga seba­gai ben­teng ala­mi dari abrasi pan­tai. Jika kawasan terse­but berubah fungsi tan­pa kajian lingkun­gan yang tepat, risiko kerusakan ekol­o­gis bisa meningkat.

Selain itu, kawasan hijau juga ker­ap men­ja­di ruang inter­ak­si sosial bagi war­ga. Banyak kegiatan masyarakat berlang­sung di sana, mulai dari aktiv­i­tas rekreasi, budaya, hing­ga ekono­mi kecil-kecilan. Kare­na itu­lah, masyarakat menaruh per­ha­t­ian besar pada sta­tus dan pen­gelo­laan wilayah ini.

  Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten serdang bedagai Menggelar Rapat Paripurna

War­ga berharap agar pemer­in­tah desa, khusus­nya kepala desa, dap­at lebih ter­bu­ka dalam berko­mu­nikasi. Transparan­si dalam pen­gelo­laan wilayah desa dini­lai pent­ing untuk menghin­dari kecuri­gaan ser­ta men­ja­ga keper­cayaan masyarakat.

Masyarakat juga mem­inta agar seti­ap kepu­tu­san yang menyangkut tanah atau kawasan pub­lik dibicarakan ter­lebih dahu­lu den­gan war­ga. Par­tisi­pasi masyarakat adalah salah satu prin­sip uta­ma dalam tata kelo­la pemer­in­ta­han desa.

Sejum­lah war­ga menyam­paikan bah­wa mere­ka tidak menginginkan kon­flik. Mere­ka hanya menginginkan pen­je­lasan yang terang dan keje­lasan sta­tus kawasan hijau yang kini men­ja­di perbin­can­gan.

Lem­ba­ga ser­ta komu­ni­tas pemer­hati sosial juga turut meny­oroti isu ini. Media lokal dan akun pub­lik masyarakat memegang per­an pent­ing dalam menyuarakan keluhan war­ga. Den­gan adanya pub­likasi, dihara­p­kan pihak-pihak terkait dap­at segera mem­berikan klar­i­fikasi.

Namun demikian, pub­likasi juga harus tetap mengede­pankan asas kehati-hat­ian. Infor­masi yang beredar sebaiknya diver­i­fikasi agar tidak men­ja­di hoaks yang jus­tru menim­bulkan kere­sa­han.

Lem­ba­ga swa­daya masyarakat (LSM) di bidang lingkun­gan dan hukum dise­but-sebut dap­at dili­batkan untuk mem­ban­tu meme­di­asi per­soalan. Keter­li­batan pihak inde­pen­den akan mem­berikan per­spek­tif obyek­tif bagi penye­le­sa­ian kon­flik.

Kasus ini mencer­minkan bagaimana relasi antara masyarakat den­gan pemer­in­tah desa masih meng­hadapi tan­ta­n­gan. Kepala desa seba­gai pemimpin pemer­in­ta­han di tingkat desa ide­al­nya men­ja­di gar­da ter­de­pan dalam menden­gar keluhan war­ganya.

Jika komu­nikasi tidak ber­jalan den­gan baik, poten­si kesalah­pa­haman hing­ga kon­flik sosial bisa meningkat. Pada­hal, UU Desa menga­manatkan bah­wa pemer­in­tah desa harus meli­batkan masyarakat dalam seti­ap pros­es pem­ban­gu­nan dan pen­gelo­laan sum­ber daya.

Keja­di­an di Sei Nagalawan hen­daknya men­ja­di bahan eval­u­asi, bukan hanya bagi kepala desa, tetapi juga bagi perangkat desa lain ser­ta keca­matan. Apa­bi­la ada isu strate­gis seper­ti pen­gelo­laan kawasan hijau, seharus­nya dibu­ka ruang dia­log yang transparan.

Dalam ung­ga­han terse­but, ter­da­p­at pula imbauan agar masyarakat tidak sam­pai ribut dalam menyikapi peri­s­ti­wa ini. “Camat Per­baun­gan pang­gil dan medi­asikan, masyarakat jan­gan sam­pai ribut,” tulis ung­ga­han itu.

  Diduga Keracunan Makanan, Sejumlah Siswa SDN Sri Wunggu Dilarikan ke Puskesmas: Waspada Jajanan Sekolah!

Imbauan ini san­gat pent­ing, kare­na penye­le­sa­ian kon­flik sebaiknya dilakukan melalui jalur dia­log dan musyawarah. Pemer­in­tah keca­matan dan instan­si terkait memi­li­ki kewe­nan­gan untuk menen­gahi dan memas­tikan per­soalan terse­le­saikan den­gan adil.

Den­gan medi­asi, semua pihak bisa menyam­paikan pan­dan­gan dan men­da­p­atkan keje­lasan. Hal ini akan men­gu­ran­gi poten­si ben­tu­ran antar­war­ga atau antara war­ga den­gan aparat desa.

Dalam mela­porkan isu seper­ti ini, pent­ing untuk mene­gaskan kem­bali prin­sip jur­nal­isme yang tidak berpi­hak tan­pa data. Infor­masi men­ge­nai dugaan keter­li­batan oknum pen­gusa­ha, mis­al­nya, masih mem­bu­tuhkan kon­fir­masi res­mi dari pihak berwe­nang.

Beri­ta ini menekankan pada fak­ta bah­wa war­ga merasa sulit berte­mu kepala desa, ser­ta adanya kere­sa­han masyarakat terkait kawasan hijau pan­tai. Semua pihak yang dise­but dalam infor­masi pub­lik berhak untuk mem­berikan klar­i­fikasi.

Den­gan demikian, pub­likasi ini bertu­juan bukan untuk meng­haki­mi, tetapi untuk menyam­paikan aspi­rasi war­ga agar ditin­dak­lan­ju­ti oleh pihak yang berwe­nang.

Peri­s­ti­wa di Desa Sei Nagalawan menggam­barkan adanya kesen­jan­gan komu­nikasi antara pemer­in­tah desa dan war­ganya. War­ga yang ingin berte­mu kepala desa untuk menyam­paikan aspi­rasi merasa kece­wa kare­na tidak men­da­p­at kesem­patan lang­sung.

Kawasan hijau di ping­gir pan­tai men­ja­di isu pent­ing yang memicu kekhawati­ran. Dugaan men­ge­nai keter­li­batan oknum pen­gusa­ha mem­perte­gas kebu­tuhan akan transparan­si dan medi­asi.

Pihak keca­matan, dalam hal ini Camat Per­baun­gan, dihara­p­kan segera memang­gil dan mem­perte­mukan ked­ua belah pihak. Den­gan begi­tu, masyarakat dap­at mem­per­oleh jawa­ban, semen­tara pemer­in­tah desa bisa men­je­laskan langkah-langkah yang diam­bil.

Pada akhirnya, seman­gat musyawarah harus dikede­pankan. War­ga tidak menginginkan kon­flik, melainkan keje­lasan dan keter­bukaan. Kepala desa seba­gai pemimpin di tingkat desa dihara­p­kan mam­pu hadir seba­gai penen­gah dan pen­gay­om, sesuai amanat undang-undang. (Ahmad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *