Palembang, SniperNew.id – Pasar tradisional kembali mendapat sorotan publik setelah Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, melakukan kunjungan ke Pasar 16 Ilir Palembang, salah satu sentra perdagangan terbesar di Sumatera Selatan, Kamis (25/09).
Dalam kunjungan yang berlangsung penuh keakraban itu, momen sederhana namun sarat makna terjadi ketika Wapres Gibran menyantap pempek khas Palembang dengan cara langsung menyeruput cuko (kuah pempek) bersama masyarakat, Gubernur Sumatera Selatan, dan Wali Kota Palembang.
Unggahan akun media sosial @palembang.eksis di platform Threads, yang memperlihatkan video momen tersebut, menjadi viral dengan ribuan interaksi warganet. Dalam unggahan itu tertulis:
“Men la ngirup cuko cak ini la sah berarti makan pempeknya mas wapres @gibran_rakabuming 😂👌🏻. Momen Wapres Gibran makan pempek tumpah di pasar 16 Ilir bareng Gubernur Sumsel dan Walikota Palembang.”
Selain teks, unggahan tersebut memperlihatkan suasana riuh masyarakat pasar yang antusias menyaksikan Wapres Gibran duduk lesehan di lapak pedagang, sembari menikmati pempek yang disajikan beralaskan daun pisang.
Kunjungan Wapres Gibran di Pasar 16 Ilir bukan sekadar agenda seremonial. Ia terlihat ingin merasakan langsung denyut nadi perekonomian rakyat melalui interaksi dengan pedagang dan masyarakat. Kehadirannya di lapak penjual pempek kuliner khas Palembang menjadi simbol penting: bahwa ekonomi kerakyatan tak bisa dilepaskan dari warisan kuliner yang menjadi identitas daerah.
Dengan menyeruput cuko pempek, Wapres secara simbolis menunjukkan dukungan terhadap UMKM kuliner. Apalagi, pempek bukan hanya makanan populer, melainkan juga produk yang memiliki rantai ekonomi panjang: dari petani sagu, nelayan ikan, hingga pedagang pasar.
Tokoh utama dalam peristiwa ini adalah Wapres Gibran Rakabuming Raka, yang baru saja menjalani agenda kerja di Palembang. Ia didampingi Gubernur Sumatera Selatan serta Wali Kota Palembang. Para pejabat daerah itu tampak menyambut dan mendampingi Gibran dengan penuh keakraban.
Selain pejabat, momen ini juga melibatkan masyarakat luas terutama pedagang Pasar 16 Ilir-yang merasa bangga sekaligus terbantu dengan hadirnya orang nomor dua di negeri ini. Kehadiran Wapres di lapak pempek membuat dagangan pedagang tersebut langsung menjadi pusat perhatian.
Lokasi kegiatan berada di Pasar 16 Ilir Palembang, pasar tradisional yang dikenal sebagai pusat perdagangan grosir dan eceran di ibu kota Sumatera Selatan. Pasar ini bukan hanya sekadar tempat jual beli, melainkan juga ikon sejarah dan budaya ekonomi Palembang.
Pasar 16 Ilir terletak di kawasan strategis dekat Sungai Musi dan Jembatan Ampera, menjadikannya salah satu urat nadi ekonomi masyarakat. Kehadiran Wapres di tempat ini menegaskan bahwa pemerintah pusat memberi perhatian serius pada keberlangsungan pasar rakyat.
Peristiwa berlangsung pada Kamis (25/09), sebagaimana ramai diberitakan oleh media sosial dan dikonfirmasi oleh unggahan akun lokal Palembang. Kunjungan dilakukan pada siang hari, ketika aktivitas pasar sedang ramai-ramainya.
Ada beberapa alasan mengapa momen ini dianggap penting, terutama dalam konteks ekonomi: Pempek merupakan produk UMKM yang menghidupi ribuan keluarga di Palembang. Kehadiran Wapres di pasar sekaligus menikmati kuliner khas rakyat memberi pesan moral bahwa pemerintah mendukung produk lokal.
Pasar tradisional kerap terpinggirkan oleh maraknya pusat perbelanjaan modern. Dengan kunjungan ini, pemerintah ingin menunjukkan komitmen menjaga eksistensi pasar rakyat sebagai pilar ekonomi.
Kehadiran pejabat tinggi negara di pasar tradisional memberi sinyal positif bagi investor maupun masyarakat luar daerah: bahwa Palembang memiliki potensi ekonomi berbasis kuliner dan perdagangan tradisional yang menjanjikan.
Dengan duduk di tikar dan menyeruput cuko pempek, Wapres menunjukkan kesederhanaan dan kedekatan dengan masyarakat kecil. Hal ini sekaligus meningkatkan kepercayaan publik terhadap pemerintah.
Berdasarkan video yang diunggah, Wapres Gibran datang ke pasar dengan pengawalan standar, namun suasana berlangsung cair dan penuh canda. Ia disambut ramah oleh pedagang dan warga.
Setelah menyapa beberapa pedagang, Gibran kemudian berhenti di lapak penjual pempek. Ia tampak mengambil pempek yang disajikan, mencelupkannya ke dalam mangkuk berisi cuka, lalu menyeruput langsung kuah khas tersebut. Aksi spontan ini disambut sorak gembira dan tawa warga yang menonton.
Unggahan media lokal menggambarkan peristiwa itu dengan kalimat jenaka berbahasa Palembang: “Men la ngirup cuka cak ini la sah berarti makan pempeknya mas wapres.” Artinya, makan pempek baru dianggap sah jika sudah menyeruput cuka-nya.
Momen ini menjadi promosi gratis bagi pempek Palembang. Video dan foto yang viral di media sosial membuat kuliner khas ini semakin dikenal, bahkan di kalangan masyarakat luar negeri. Bagi pedagang pempek, hal ini tentu memberi dampak positif pada penjualan.
Pasar 16 Ilir kini semakin dikenal luas. Publisitas dari kunjungan Wapres menjadi bentuk branding gratis, yang bisa meningkatkan jumlah pengunjung dan daya tarik wisata kuliner Palembang.
Dengan sorotan media, UMKM kuliner di Palembang berpeluang mendapat perhatian lebih dari pemerintah pusat, baik dalam bentuk bantuan modal, pelatihan, maupun promosi.
Palembang bisa mengembangkan wisata kuliner berbasis pempek dan cuko sebagai daya tarik ekonomi baru. Kehadiran Wapres menjadi momentum awal yang bisa dimanfaatkan pemerintah daerah untuk mengemas pasar sebagai destinasi wisata gastronomi.
Unggahan @palembang.eksis menuai ribuan komentar. Banyak warganet merasa bangga melihat Wapres mau duduk bersama rakyat kecil di pasar tradisional. Ada pula yang menilai momen ini sebagai langkah tepat untuk mengenalkan kuliner khas Indonesia ke level nasional dan internasional.
Komentar lain lebih santai, menyoroti keaslian cara Gibran makan pempek. “Kalau belum ngirup cuko, berarti belum sah makan pempek,” tulis seorang pengguna dengan nada bercanda.
Momen sederhana Wapres Gibran menyeruput cuko pempek di Pasar 16 Ilir Palembang ternyata menyimpan pesan ekonomi yang mendalam. Selain memperlihatkan dukungan pemerintah terhadap UMKM dan pasar rakyat, kejadian ini juga menjadi promosi besar-besaran bagi kuliner khas Palembang.
Dari sudut pandang ekonomi, peristiwa ini bukan hanya soal makan pempek, melainkan juga tentang bagaimana kuliner tradisional bisa menjadi motor penggerak ekonomi lokal, sekaligus identitas budaya yang membanggakan. (abd/ahh).












