Trinsing, SniperNew.id – Kamis 31 Juli 2025 Dalam suasana penuh kekeluargaan dan kehangatan adat, masyarakat Suku Dayak Bayan di Desa Trinsing, Kecamatan Teweh Selatan, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, kembali menghidupkan tradisi leluhur yang sarat makna.
Momen penting ini diabadikan oleh Ungaran Yohanes Karwilus dan dibagikan ke grup WhatsApp internal SniperNew.id pada Kamis malam, 31 Juli 2025, sebagai bentuk pelestarian warisan budaya untuk dikenang oleh anak cucu kelak.
Dalam sebuah video yang dibagikan, terlihat beberapa tokoh adat dan masyarakat berkumpul di dalam rumah kayu tradisional. Mereka duduk melingkar di atas tikar bermotif Dayak, dikelilingi oleh perlengkapan ritual khas: batang bambu, umbi-umbian, daun-daunan, telur, sirih pinang, dan air dalam wadah plastik sederhana.
Unsur-unsur ini merupakan bagian dari persembahan atau sesajen yang biasa digunakan dalam upacara adat, baik sebagai ungkapan syukur, permohonan keselamatan, atau penghormatan terhadap roh leluhur.
Ungaran Yohanes Karwilus mencatat momen ini dengan pesan singkat namun bermakna: “Selamat malam ibu senior, tolong bikin momen ini supaya jadi ingat anak cucu Suku Dayak Bayan di Desa Trinsing, Kecamatan Teweh Selatan, Kabupaten Barito Utara. Ungaran Yohanes Karwilus di grup WhatsApp internal SniperNew.id, Kamis 31 Juli 2025.”
Pesan tersebut mencerminkan harapan besar masyarakat Dayak agar adat dan budaya mereka tidak hilang ditelan zaman. Tradisi seperti ini bukan hanya sekadar seremoni, melainkan juga media untuk menjaga keharmonisan antarwarga dan mempererat hubungan antara manusia, alam, dan roh leluhur.
Kehadiran para lelaki yang duduk bersila dan berbincang santai juga menunjukkan pentingnya musyawarah dalam budaya Dayak. Tidak ada hiruk-pikuk modernitas yang mengganggu hanya canda, cerita, dan kesepakatan yang terjalin dalam keheningan malam dan cahaya lampu seadanya.
Rumah kayu yang menjadi tempat berkumpul pun menjadi simbol kekuatan budaya lokal. Bangunan seperti itu bukan hanya tempat tinggal, tapi juga pusat kehidupan adat, tempat berkumpul, berdiskusi, dan menjalankan ritual yang diwariskan turun-temurun.
Dalam konteks modernisasi yang semakin cepat, momen seperti ini adalah pengingat bahwa nilai-nilai adat, gotong royong, dan penghormatan terhadap leluhur tetap memiliki tempat yang penting dalam kehidupan masyarakat Dayak.
Dokumentasi ini, meski sederhana, menjadi jejak digital yang sangat berarti. Diharapkan, generasi muda Suku Dayak Bayan dapat melihat dan memahami akar budaya mereka sendiri, serta melanjutkannya dengan penuh rasa bangga.
Sebagaimana pesan Ungaran Yohanes Karwilus, dokumentasi ini bukan hanya untuk dibagikan di media sosial, tapi juga sebagai pengingat abadi bahwa identitas dan nilai luhur Dayak harus terus dijaga oleh anak cucu di masa depan.
Laporan ini disusun sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya Dayak dan upaya pelestariannya oleh masyarakat lokal di Trinsing, Kalimantan Tengah.
Laporan: (Yohanes Karwilus).
Editor: (Ahmad).







