Di hari yang suci ini, Pimpinan dan seluruh jajaran PT SNIPERNEW MEDIA PERS serta PT Karya Gemilang Pemburu Fakta bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Banner SNIPERNEW
Keluarga Besar PT SNIPERNEW MEDIA PERS dan PT Karya Gemilang Pemburu Fakta
bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Berita Peristiwa

Tambang Emas Ilegal Doyok Telan 3 Nyawa, Publik Geram: “Bongkar Mafia sampai ke Akar!

396
×

Tambang Emas Ilegal Doyok Telan 3 Nyawa, Publik Geram: “Bongkar Mafia sampai ke Akar!

Sebarkan artikel ini

Keta­pang, SniperNew.id – Tiga nyawa melayang di ham­paran tanah mer­ah lokasi tam­bang emas ile­gal Doyok, Desa Pematang Gadung, Kabu­pat­en Keta­pang, Kali­man­tan Barat. Tanah gem­bur yang dikeruk alat berat tiba-tiba run­tuh, menelan hidup-hidup oper­a­tor ekska­va­tor, oper­a­tor mesin domp­ing, dan seo­rang peker­ja tam­bang. Tidak ada sirine ambu­lans yang mam­pu mengem­ba­likan nyawa mere­ka hanya teri­akan panik rekan ker­ja yang men­ja­di sak­si bisu trage­di, Selasa (12/08/2025).

Lokasi Doyok bukan­lah wilayah baru di peta tam­bang ile­gal. Bertahun-tahun, lubang-lubang rak­sasa di sini bek­er­ja tan­pa hen­ti, siang-malam, men­galirkan emas bagi segelin­tir orang. War­ga dan aktivis menye­but, titik ini bera­da di bawah kendali seo­rang pen­gusa­ha lokal berin­isial A, yang namanya tak asing di lingkaran bis­nis per­tam­ban­gan tan­pa izin (PETI) di Keta­pang.

Bagi war­ga, peri­s­ti­wa ini tidak bisa dise­but sekadar kece­lakaan ker­ja. Mere­ka meni­lai trage­di ini adalah hasil dari pem­biaran pan­jang yang dilakukan aparat pene­gak hukum (APH) dan pemer­in­tah di semua lev­el.

“Jan­gan cuma duduk di kan­tor ter­i­ma lapo­ran. Turun ke lapan­gan, bongkar bos-bos besar yang bermain di balik PETI,” tegas seo­rang war­ga yang mem­inta namanya dira­hasi­akan.

  Truk Pengangkut Motor Terperosok di Sitinjau Lauik Akibat Rem Blong

War­ga juga menun­tut penin­dakan serius ter­hadap jalur pasokan bahan bakar minyak (BBM) ile­gal yang men­ja­di “urat nadi” tam­bang. “Sela­ma SPBU nakal dan mafia solar sub­si­di masih diberi napas, PETI akan terus hidup, dan kor­ban akan terus ber­jatuhan,” ujarnya.

Solar Sub­si­di Men­galir Lewat Jalur Belakang. Dari infor­masi yang dihim­pun, pasokan solar sub­si­di dan BBM indus­tri untuk PETI di Doyok diduga men­galir lewat jalur belakang, difasil­i­tasi oknum yang pun­ya konek­si lang­sung den­gan pemi­lik tam­bang. Modus­nya klasik: pem­be­lian BBM dalam jum­lah besar di SPBU meng­gu­nakan doku­men manip­u­latif, lalu dikir­im ke lokasi tam­bang den­gan truk tang­ki mod­i­fikasi.

Iro­nis­nya, aparat jus­tru ser­ing melakukan razia ter­hadap peker­ja kecil menyi­ta alat, mem­p­i­danakan oper­a­tor mesin semen­tara pemodal dan pen­gen­dali lapan­gan tetap bebas berg­er­ak. “Negara seakan kalah di tam­bang sendiri,” kata seo­rang aktivis lingkun­gan di Keta­pang.

Kor­ban Nyawa Sekadar Angka. Kema­t­ian tiga peker­ja ini menam­bah daf­tar pan­jang kor­ban PETI di Kali­man­tan Barat. Nyawa mere­ka seo­lah hanya men­ja­di angka di lapo­ran res­mi tan­pa ada per­baikan sis­tem. Tidak per­nah ada audit menyelu­ruh, tidak ada pen­gungka­pan jaringan besar, hanya kon­fer­en­si pers singkat dan jan­ji pene­gakan hukum yang beru­lang-ulang.

Aktivis tam­bang ile­gal di Kalbar men­catat, dalam lima tahun ter­akhir, sedik­it­nya puluhan peker­ja mening­gal di lokasi PETI, seba­gian besar aki­bat long­sor dan terseret ban­jir lumpur. Namun, pola penan­ganan­nya nyaris tidak berubah.

Tun­tu­tan Pub­lik Men­guat, Trage­di ini memicu kemara­han war­ga, aktivis lingkun­gan, dan pemer­hati hukum. Mere­ka mende­sak agar keja­di­an ini men­ja­di momen­tum bersih-bersih total ter­hadap PETI di Keta­pang.

  Meregang Nyawa, Pelajar SMPN 1 Cabangbungin Jadi Korban Tauran

Ada tiga tun­tu­tan uta­ma:

1. Menin­dak pemi­lik tam­bang dan jaringan per­modalan bukan hanya peker­ja lapan­gan.

2. Memu­tus jalur dis­tribusi BBM ile­gal dari SPBU nakal dan pema­sok gelap.

3. Men­gusut keter­li­batan oknum aparat atau peja­bat yang mem­bekin­gi operasi PETI.

“Kalau ini tidak dilakukan, trage­di seper­ti di Doyok akan terus teru­lang. Nyawa manu­sia tidak boleh jadi ‘biaya opera­sion­al’ dalam bis­nis haram ini,” kata seo­rang tokoh masyarakat.

Diamnya Aparat dan Pemer­in­tah,. Hing­ga beri­ta ini ditu­runk­an, belum ada keteran­gan res­mi dari kepolisian maupun pemer­in­tah daer­ah terkait trage­di ini. Pada­hal, ekska­va­tor di Doyok dila­porkan masih berop­erasi mes­ki tiga peker­ja sudah mening­gal.

Kon­disi ini mem­bu­at pub­lik semakin ger­am. “Apa harus menung­gu kor­ban keem­pat atau keli­ma baru aparat berg­er­ak?” kri­tik seo­rang war­ga Pematang Gadung.

Tam­bang ile­gal di Doyok hanyalah satu dari puluhan titik PETI yang terse­bar di Keta­pang. Lokasi-lokasi ini umum­nya bera­da di wilayah ter­pen­cil, sulit dijangkau, dan min­im pen­gawasan. Namun, jus­tru di sanalah alat-alat berat bek­er­ja tan­pa gang­guan, dan hasil tam­bangnya men­galir ke jalur dis­tribusi yang teror­gan­isir.

Prak­tik PETI bukan hanya merenggut nyawa manu­sia, tetapi juga merusak lingkun­gan. Lubang bekas tam­bang dib­iarkan men­gan­ga, men­ja­di perangkap maut bagi war­ga dan sat­wa. Air rak­sa (merkuri) yang digu­nakan dalam pros­es pemisa­han emas mence­mari sun­gai, merusak eko­sis­tem, dan men­gan­cam kese­hatan masyarakat.

  Dokter Keliling Terobos Banjir Dini Hari di Deli Serdang

Para pemer­hati ener­gi menye­but, memu­tus suplai BBM ile­gal adalah langkah pal­ing cepat untuk mematikan PETI. Tan­pa solar sub­si­di atau BBM indus­tri, alat berat dan mesin domp­ing di tam­bang tak akan berg­er­ak.

Namun, jalur BBM ile­gal ini dilin­dun­gi jaringan yang kom­pleks, mulai dari SPBU nakal, sopir tang­ki, pengepul, hing­ga pihak-pihak yang mem­bekin­gi secara poli­tis.

“Kalau pemer­in­tah serius, cukup bongkar satu demi satu jalur BBM ini, maka PETI akan lumpuh. Tapi kalau yang dis­en­tuh hanya peker­ja kecil, jan­gan harap ada peruba­han,” ujar seo­rang aktivis ener­gi di Pon­tianak.

Akhirnya, Semua Kem­bali pada Keberan­ian Negara. Kasus Doyok men­ja­di ujian nya­ta bagi komit­men negara dalam mem­ber­an­tas tam­bang ile­gal. Pub­lik menung­gu apakah trage­di ini hanya akan berakhir den­gan beri­ta singkat dan jan­ji pene­gakan hukum, atau benar-benar men­ja­di titik balik penin­dakan jaringan besar.

Bagi kelu­ar­ga kor­ban, kehi­lan­gan ini bukan sekadar beri­ta di media. Mere­ka kehi­lan­gan tulang pung­gung kelu­ar­ga, kehi­lan­gan masa depan yang telah diren­canakan.

“Nyawa itu tidak bisa digan­ti uang. Tapi yang pal­ing menyak­itkan, mere­ka mening­gal kare­na negara mem­biarkan tam­bang itu tetap hidup,” ujar ker­abat salah satu kor­ban.

Jika negara kem­bali diam, pub­lik tidak akan terke­jut bila beber­a­pa bulan ke depan muncul kabar seru­pa di lubang yang sama, den­gan pola yang sama, hanya nama kor­ban yang bergan­ti.

Lapo­ran: (Sufiyawan). Edi­tor: (tim Red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *