Berita Peristiwa

Super Topan Ragasa Hantam Filipina Utara, Ribuan Dievakuasi dan Kerugian Miliaran Peso

410
×

Super Topan Ragasa Hantam Filipina Utara, Ribuan Dievakuasi dan Kerugian Miliaran Peso

Sebarkan artikel ini

Mani­la, SniperNew.id – Super Topan Ragasa, badai tro­pis den­gan keku­atan dah­sy­at, meng­han­tam wilayah utara Fil­ip­ina pada Senin (22/9) den­gan kecepatan angin yang men­ca­pai 215 kilo­me­ter per jam. Ben­cana alam ini memak­sa ribuan war­ga mening­galkan rumah mere­ka dan menye­babkan keru­gian besar di sek­tor per­tan­ian. Dampaknya terasa hing­ga meng­gang­gu aktiv­i­tas pen­didikan, pemer­in­ta­han, ser­ta trans­portasi udara dan laut.

Ribuan war­ga di Cagayan, Apayao, dan Kepu­lauan Babuyan telah dievakuasi untuk menghin­dari risiko ben­cana yang lebih besar. Pemer­in­tah daer­ah dan aparat tang­gap daru­rat setem­pat menger­ahkan segala upaya untuk memindahkan masyarakat dari zona berba­haya. Tidak hanya itu, seko­lah dan kan­tor pemer­in­ta­han di Metro Mani­la ser­ta 29 provin­si lain ditut­up semen­tara. Penu­tu­pan ini dilakukan demi kese­la­matan masyarakat ser­ta untuk men­gan­tisi­pasi poten­si dampak lebih lan­jut aki­bat badai.

Data semen­tara dari otori­tas setem­pat menye­butkan satu orang telah mening­gal dunia aki­bat topan ini, semen­tara sem­bi­lan orang lain­nya men­gala­mi luka-luka. Otori­tas masih melakukan ver­i­fikasi di lapan­gan untuk memas­tikan jum­lah kor­ban dan dampak yang lebih luas.

Topan Ragasa tidak hanya mem­bawa angin ken­cang, tetapi juga curah hujan ekstrem yang meningkatkan risiko ban­jir dan tanah long­sor. Di Pulau Calayan, listrik padam aki­bat tiu­pan angin ekstrem. Kon­disi ini mem­per­bu­ruk situ­asi bagi pen­duduk yang sudah dievakuasi. Reuters mela­porkan bah­wa layanan pener­ban­gan dan feri dibatalk­an, menyusul peringatan res­mi terkait gelom­bang badai set­ing­gi tiga meter yang berpoten­si men­gan­cam jalur pela­yaran dan ban­dara di kawasan terse­but.

  Remaja Jalan Kaki Dua Hari Dua Malam: Bukan Pendakian, Tapi Tetap Drama!

Keru­gian awal yang ter­catat di sek­tor per­tan­ian Fil­ip­ina telah men­ca­pai lebih dari ₱648 juta peso Fil­ip­ina. Angka ini diperki­rakan akan meningkat seir­ing lapo­ran tam­ba­han dari wilayah ter­dampak. Petani di daer­ah-daer­ah rawan ben­cana meng­hadapi tan­ta­n­gan berat, mengin­gat tana­man pan­gan dan infra­struk­tur per­tan­ian mere­ka rusak aki­bat ter­paan angin dan ban­jir.

Topan Ragasa meng­han­tam Fil­ip­ina utara pada Senin, 22 Sep­tem­ber 2025. Dampak awal dirasakan di wilayah utara Fil­ip­ina, ter­ma­suk Cagayan, Apayao, dan Kepu­lauan Babuyan. Metro Mani­la, mes­ki tidak men­ja­di pusat han­ta­man badai, tetap mengam­bil langkah pence­ga­han den­gan menut­up seko­lah dan kan­tor. Selain itu, 29 provin­si lain di Fil­ip­ina juga ter­dampak penu­tu­pan kegiatan pub­lik untuk men­gan­tisi­pasi risiko lan­ju­tan.

Seir­ing berg­er­ak ke arah utara, badai ini kini men­garah ke Tai­wan dan Chi­na bagian sela­tan. Malay Mail mela­porkan bah­wa ribuan war­ga Tai­wan telah dievakuasi dari pesisir timur. Pemer­in­tah Chi­na, di sisi lain, menyi­ap­kan langkah-langkah daru­rat di provin­si Fujian, Guang­dong, dan Hainan. The Weath­er Chan­nel menam­bahkan bah­wa sisa dampak Ragasa diperki­rakan juga akan men­ca­pai Viet­nam utara den­gan curah hujan ting­gi.

Ragasa, yang dikat­e­gorikan seba­gai super topan, meru­pakan salah satu badai terku­at yang melan­da kawasan Asia Teng­gara tahun ini. Kecepatan angin men­ca­pai 215 km/jam adalah indikasi jelas bah­wa badai ini ter­go­long san­gat berba­haya. Fil­ip­ina, seba­gai negara kepu­lauan di jalur “Pacif­ic Typhoon Belt,” ser­ing kali men­ja­di sasaran badai besar seti­ap tahun­nya. Fenom­e­na alam ini didorong oleh peruba­han iklim dan pola cua­ca ekstrem yang semakin ser­ing ter­ja­di dalam beber­a­pa tahun ter­akhir.

  Warga Riau Babak Belur di Hakimi Masa Daerah Pringsewu, Gegara Ini

Para ahli cua­ca mem­peringatkan bah­wa pen­ingkatan suhu laut dan keti­dak­sta­bi­lan atmos­fer dap­at mem­perku­at badai tro­pis men­ja­di super topan seper­ti Ragasa. Kon­disi geografis Fil­ip­ina yang rentan, dita­m­bah padat­nya pen­duduk di wilayah pesisir, mem­bu­at dampak badai semakin parah.

Pemer­in­tah Fil­ip­ina segera men­gak­tifkan pro­tokol tang­gap daru­rat, ter­ma­suk mengevakuasi war­ga dari daer­ah pesisir, menut­up seko­lah dan kan­tor, ser­ta menyi­ap­kan tem­pat penam­pun­gan semen­tara. Petu­gas tang­gap daru­rat dik­er­ahkan ke wilayah yang pal­ing ter­dampak untuk mem­berikan ban­tu­an medis dan logis­tik.

Di Pulau Calayan, tim pemuli­han bek­er­ja keras untuk memulihkan jaringan listrik yang padam aki­bat tiu­pan angin ekstrem. Badan cua­ca nasion­al terus mem­per­barui infor­masi terkait perg­er­akan badai dan mengim­bau war­ga agar tetap was­pa­da ter­hadap poten­si ban­jir dan tanah long­sor.

Tidak hanya Fil­ip­ina, pemer­in­tah Tai­wan dan Chi­na juga telah mengu­mumkan sta­tus daru­rat di wilayah pesisir. Ribuan war­ga Tai­wan dievakuasi dari kawasan timur yang berisiko ting­gi. Di Chi­na, provin­si Fujian, Guang­dong, dan Hainan telah bersi­ap meng­hadapi dampak lan­ju­tan Ragasa, ter­ma­suk kemu­ngk­i­nan ban­jir ban­dang dan angin ken­cang.

  Sigap Polisi Lakukan Penyelidikan Intensive Adanya Kasus Suami Gantung Diri, Usai Coba Bakar Istri

Selain itu, The Weath­er Chan­nel mem­peringatkan bah­wa sisa keku­atan Ragasa berpoten­si mem­bawa hujan lebat ke Viet­nam utara, yang dap­at menim­bulkan risiko ban­jir ban­dang dan long­sor di wilayah pegu­nun­gan.

Penu­tu­pan layanan pener­ban­gan dan feri menim­bulkan gang­guan besar bagi aktiv­i­tas ekono­mi dan per­jalanan. Banyak penumpang harus menun­da per­jalanan mere­ka, semen­tara sek­tor logis­tik meng­hadapi tan­ta­n­gan dis­tribusi barang. Indus­tri per­tan­ian, seba­gai salah satu tulang pung­gung perekono­mi­an Fil­ip­ina, diperki­rakan men­gala­mi keru­gian besar aki­bat kerusakan lahan dan tana­man pan­gan.

Kon­disi ini juga memu­nculkan kekhawati­ran akan kenaikan har­ga bahan pan­gan dalam beber­a­pa ming­gu ke depan. Pemer­in­tah Fil­ip­ina sedang berko­or­di­nasi den­gan organ­isasi kemanu­si­aan untuk menyalurkan ban­tu­an ke daer­ah-daer­ah yang pal­ing mem­bu­tuhkan.

Super Topan Ragasa men­ja­di pengin­gat nya­ta akan kerentanan kawasan Asia Teng­gara ter­hadap fenom­e­na alam ekstrem. Den­gan kecepatan angin yang men­ca­pai 215 km/jam, ribuan orang dievakuasi, dan keru­gian per­tan­ian men­ca­pai ratu­san juta peso, topan ini telah mening­galkan jejak kehan­cu­ran besar di Fil­ip­ina.

Saat badai berg­er­ak ke Tai­wan, Chi­na bagian sela­tan, dan Viet­nam utara, otori­tas setem­pat mengam­bil langkah anti­si­pasi untuk mem­i­ni­malkan dampak lebih lan­jut. Upaya penang­gu­lan­gan ben­cana, koor­di­nasi lin­tas negara, dan kewas­padaan masyarakat men­ja­di kun­ci untuk meng­hadapi anca­man cua­ca ekstrem di masa depan.

Peri­s­ti­wa ini menun­jukkan pent­ingnya peren­canaan mit­i­gasi ben­cana dan adap­tasi ter­hadap peruba­han iklim. Keja­di­an Ragasa dihara­p­kan men­ja­di pela­jaran berhar­ga bagi negara-negara di kawasan rawan ben­cana untuk meningkatkan kesi­ap­si­a­gaan dan mem­perku­at infra­struk­tur penang­gu­lan­gan ben­cana. (abd/Ahm).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *