Berita Hukum

Sidang Pencemaran Nama Baik Jurnalis di Jembrana: Fakta BWS Jadi Sorotan

528
×

Sidang Pencemaran Nama Baik Jurnalis di Jembrana: Fakta BWS Jadi Sorotan

Sebarkan artikel ini

Bali, SniperNew.id — Pen­gadi­lan Negeri (PN) Negara, Jem­brana, mengge­lar sidang per­dana kasus dugaan pence­maran nama baik melalui media elek­tron­ik den­gan ter­dak­wa jur­nalis I Putu Suardana, Selasa (12/8/2025). Sidang ini dip­impin oleh Ket­ua Majelis Hakim Regy Tri­hardianto, didampin­gi dua hakim anggota. Jak­sa Penun­tut Umum (JPU) Sofyan Heru, S.H., M.H., mem­ba­cakan dak­waan secara lengkap di hada­pan ter­dak­wa, kuasa hukum, ser­ta pihak terkait.

Perkara ini bermu­la dari pem­ber­i­taan berjudul “Seakan Men­ja­jah, Investor Ini Masuk Kabu­pat­en Jem­brana Diduga Caplok Sem­padan Sun­gai” yang tayang di situs cmn.com pada 11 April 2024. Dalam dak­waan­nya, JPU menye­but peng­gu­naan frasa “seakan men­ja­jah” dan “men­caplok” diang­gap menced­erai nama baik pemi­lik SPBU 54.822.16 di Kelu­ra­han Pen­dem, Keca­matan Jem­brana, yakni Dewi Supri­ani alias Anik Yahya.

Menu­rut JPU, isti­lah terse­but memi­li­ki mak­na negatif berdasarkan keteran­gan ahli bahasa. Ia juga mengutip hasil klar­i­fikasi Dewan Pers yang meni­lai pem­ber­i­taan itu belum sepenuh­nya memenuhi keten­tu­an Undang-Undang Pers dan Kode Etik Jur­nal­is­tik.

  Koin Bar Tak Jera! Setelah Hilda Dipenjara, Lidya Diduga Lanjutkan Jaringan Ekstasi

JPU mema­parkan bah­wa ter­dak­wa mem­bu­at beri­ta melalui prose­dur ker­ja media dar­ing, yakni men­gak­ses cPan­el situs cmn.com, menulis judul dan isi beri­ta, lalu memub­likasikan­nya. Pros­es ini diakui seba­gai prak­tik stan­dar di media online.

Tim kuasa hukum ter­dak­wa menyam­paikan keber­atan ter­hadap peruba­han sta­tus perkara. Awal­nya, perkara ini masuk dalam ranah Pidana Umum sesuai Surat Pelimpa­han Perkara No. 1368/N.1.16/Eku.2/APB/08/2025. Namun, sta­tus­nya kemu­di­an berubah men­ja­di Pidana Khusus seba­gaimana ter­can­tum dalam Pene­ta­pan PN No. 70/Pid.Sus/2025/PN Nga.

Menu­rut pem­bela, peruba­han terse­but tidak didasari alasan hukum yang kuat dan berpoten­si memen­garuhi hak-hak ter­dak­wa. Ket­ua Majelis Hakim menang­gapi keber­atan itu den­gan men­yarankan agar dis­am­paikan secara res­mi melalui eksep­si di sidang berikut­nya.

Dalam per­si­dan­gan, terungkap fak­ta pent­ing dari Bal­ai Wilayah Sun­gai (BWS) Bali-Peni­da. Sebelum beri­ta dibu­at, BWS telah menin­jau lang­sung lokasi SPBU yang men­ja­di objek pem­ber­i­taan. Hasil pen­in­jauan meny­atakan bah­wa ban­gu­nan SPBU melang­gar garis sem­padan Sun­gai Ijo Gad­ing.

Temuan ini dituangkan dalam doku­men res­mi dan dis­am­paikan kepa­da pihak redak­si BaliBerkabar.id. Fak­ta lapan­gan terse­but men­ja­di salah satu dasar kuat bagi Suardana dalam mem­bu­at pem­ber­i­taan.

  Kasus Dugaan Penganiyaan Berat Andre di Mediasi Perdamaian Namun Berakhir Ricuh,Keluarga Desak Kapolres Batubara Usut Tuntas

Perny­ataan res­mi dari BWS ini­lah yang kini men­ja­di sorotan, kare­na mem­per­li­hatkan bah­wa beri­ta yang dit­ulis ter­dak­wa memi­li­ki dasar fak­ta dari lem­ba­ga pemer­in­tah yang berwe­nang.

Mes­ki memi­li­ki dukun­gan data dari BWS, pem­ber­i­taan terse­but tetap men­u­ai reak­si dari pihak pemi­lik SPBU. Pada Mei 2024, Dewi Supri­ani alias Anik Yahya mela­porkan dugaan pence­maran nama baik melalui Undang-Undang Infor­masi dan Transak­si Elek­tron­ik (UU ITE) ke Pol­res Jem­brana.

Lapo­ran ini kemu­di­an dipros­es hing­ga masuk tahap per­si­dan­gan, mes­ki redak­si tem­pat ter­dak­wa bek­er­ja meny­atakan beri­ta terse­but dibu­at berdasarkan fak­ta di lapan­gan dan infor­masi res­mi instan­si terkait.

Dalam sidang, JPU juga mem­ba­cakan hasil klar­i­fikasi Dewan Pers yang meni­lai pem­ber­i­taan Suardana belum memenuhi selu­ruh keten­tu­an Undang-Undang Pers.

Namun, redak­si BaliBerkabar.id mene­gaskan bah­wa beri­ta itu tetap sah secara jur­nal­is­tik. Mere­ka menye­but surat res­mi dari BWS Bali-Peni­da seba­gai pen­guat valid­i­tas infor­masi. Pros­es penulisan melalui cPan­el dise­but seba­gai bagian dari stan­dar ker­ja media dar­ing yang pro­fe­sion­al.

Menu­rut pihak redak­si, ker­ja jur­nal­is­tik yang men­gacu pada fak­ta lapan­gan dan doku­men res­mi pemer­in­tah seharus­nya men­da­p­at per­lin­dun­gan Undang-Undang Pers, bukan dikrim­i­nal­isasi. Fungsi kon­trol sosial jur­nalis, kata mere­ka, meru­pakan pilar demokrasi yang harus dija­ga.

  Uya Kuya Maafkan Ibu Lansia yang Ambil AC di Rumahnya

Kasus ini men­ja­di per­ha­t­ian pegiat pers dan pemer­hati kebe­basan berpen­da­p­at di Indone­sia. Sebab, ada perde­batan ten­tang apakah kasus ini seharus­nya dis­e­le­saikan melalui mekanisme UU Pers atau masuk ke ranah pidana meng­gu­nakan UU ITE.

Pakar hukum media meni­lai, jika beri­ta dibu­at berdasarkan data res­mi dan melalui pros­es ker­ja jur­nal­is­tik yang benar, seharus­nya sen­gke­ta dap­at dis­e­le­saikan melalui mekanisme hak jawab atau pen­gad­u­an ke Dewan Pers, bukan lewat jalur pidana.

Di sisi lain, pihak pela­por mene­gaskan bah­wa frasa yang digu­nakan dalam beri­ta terse­but bersi­fat meren­dahkan marta­bat dan menim­bulkan keru­gian rep­utasi, sehing­ga memer­lukan pene­gakan hukum pidana.

Majelis hakim men­jad­walkan sidang lan­ju­tan pada Selasa, 19 Agus­tus 2025. Sidang men­datang akan memu­at agen­da pem­ba­caan eksep­si dari kuasa hukum ter­dak­wa, yang kemu­ngk­i­nan besar akan meny­oroti peruba­han sta­tus perkara dan dasar hukum dak­waan.

Pub­lik, khusus­nya insan pers di Bali, diperki­rakan akan terus mengiku­ti perkem­ban­gan kasus ini. Hasil sidang diyaki­ni akan men­ja­di tolok ukur pent­ing bagi per­lin­dun­gan ker­ja jur­nal­is­tik di era dig­i­tal. (Sufiyawan).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *