Berita Peristiwa

Ricuh Skripsi! Mahasiswa Protes, Dosen Diduga Banting Naskah

364
×

Ricuh Skripsi! Mahasiswa Protes, Dosen Diduga Banting Naskah

Sebarkan artikel ini

Nias, SniperNew.id — Suasana akademik yang seharus­nya ber­jalan den­gan ten­ang dan penuh eti­ka akademis men­dadak berubah ricuh di salah satu per­gu­ru­an ting­gi di Sumat­era Utara. Dalam sebuah ung­ga­han yang ramai dibicarakan di media sosial, beredar video yang mem­per­li­hatkan sejum­lah maha­siswa ter­li­bat adu mulut den­gan seo­rang dosen di ruang kam­pus. Peri­s­ti­wa ini diduga ter­ja­di di Uni­ver­si­tas Nias, Sumat­era Utara, dan lang­sung memicu berba­gai reak­si pub­lik.

Menu­rut infor­masi yang beredar melalui akun info_warganet.id, insi­d­en ini bermu­la keti­ka sang dosen ter­li­hat kesal saat men­da­p­at protes dari maha­siswa terkait pros­es penan­datan­ganan skrip­si. Dugaan terse­but diperku­at den­gan keteran­gan bah­wa dosen kemu­di­an mem­bant­i­ng naskah skrip­si maha­siswa ke lan­tai.

Tin­dakan itu son­tak mem­perkeruh suasana. Maha­siswa yang merasa hasil ker­ja keras­nya tidak dihar­gai pun bereak­si keras. Beber­a­pa di antaranya bahkan ter­li­hat menga­muk hing­ga menen­dang meja sang dosen. Video berdurasi singkat yang beredar mem­per­li­hatkan situ­asi tegang antara ked­ua belah pihak.

Maha­siswa dalam reka­man terse­but meny­atakan keke­ce­waan kare­na merasa diper­sulit hanya untuk men­da­p­atkan tan­da tan­gan val­i­dasi skrip­si. Mere­ka men­gang­gap ker­ja keras berbu­lan-bulan yang dituangkan dalam penulisan skrip­si tidak sep­a­n­tas­nya dibuang begi­tu saja ke lan­tai. Hal ini­lah yang memicu kemara­han dan kete­gan­gan yang terekam dalam video.

Dalam reka­man, tam­pak beber­a­pa maha­siswa berdiri di hada­pan meja seo­rang dosen perem­puan yang sedang duduk. Salah seo­rang maha­siswa ter­li­hat mem­bawa map mer­ah berisi skrip­si, semen­tara rekan­nya men­ge­nakan tas ransel hitam masih berdiri sam­bil meny­i­mak per­caka­pan yang mem­anas. Suara maha­siswa ter­den­gar mening­gi, semen­tara sang dosen tam­pak berusa­ha menang­gapi.

  Penipuan Emas Palsu Sukajadi Berujung Penembakan Airsoft

Mes­ki durasi video relatif singkat, suasana tegang ter­li­hat jelas. Maha­siswa yang merasa ters­ing­gung den­gan sikap dosen tam­pak berusa­ha menyam­paikan protes keras. Dalam keteran­gan ung­ga­han, dise­butkan bah­wa momen kli­maks ter­ja­di keti­ka naskah skrip­si dibant­i­ng ke lan­tai, yang kemu­di­an dibalas maha­siswa den­gan emosi.

Keteran­gan dari ung­ga­han terse­but juga menam­bahkan bah­wa maha­siswa merasa har­ga diri mere­ka diin­jak-injak. Menu­rut mere­ka, skrip­si yang dis­usun den­gan penuh per­juan­gan tidak seharus­nya diper­lakukan den­gan cara yang diang­gap meren­dahkan.

Bagi maha­siswa, skrip­si adalah hasil ker­ja keras yang pan­jang dan penuh pen­gor­banan. Tidak hanya berisi penelit­ian akademik, skrip­si juga mencer­minkan dedikasi, wak­tu, ser­ta tena­ga yang terkuras dalam menun­taskan syarat akhir perku­li­a­han.

Kare­na itu, per­lakuan dosen yang diduga mem­buang skrip­si ke lan­tai dipan­dang seba­gai ben­tuk pele­ce­han intelek­tu­al dan penghi­naan ter­hadap jer­ih payah maha­siswa. Ungka­pan emosi yang meledak dalam video adalah reak­si spon­tan yang tidak bisa mere­ka ben­dung saat itu.

Maha­siswa juga menyayangkan adanya sikap dosen yang diang­gap mem­pe­ru­mit pros­es admin­is­tratif. Mere­ka meni­lai tan­da tan­gan semestinya tidak dijadikan peng­ha­lang, apala­gi sam­pai memicu kon­flik. Situ­asi ini men­ja­di cer­min bah­wa komu­nikasi antara maha­siswa dan dosen terkadang masih jauh dari kata ide­al.

Mes­ki video mem­per­li­hatkan kon­disi emo­sion­al maha­siswa, pihak dosen juga tidak bisa lang­sung dis­alahkan begi­tu saja. Dalam banyak kasus, dosen memi­li­ki tang­gung jawab besar dalam men­ja­ga kual­i­tas akademik. Tan­da tan­gan pada skrip­si bukan­lah sekadar for­mal­i­tas, melainkan ben­tuk penge­sa­han bah­wa karya terse­but memang layak diper­ta­hankan dan diu­ji.

  Aksi Petani Padasa Enam Utama Bikin

Ada kemu­ngk­i­nan dosen merasa maha­siswa tidak mener­i­ma korek­si atau prose­dur den­gan baik. Sikap kesal yang akhirnya memicu tin­dakan emo­sion­al seper­ti mem­bant­i­ng skrip­si bisa jadi ben­tuk lua­pan rasa jengkel. Namun, cara terse­but tetap men­u­ai kri­tik kare­na diang­gap tidak pan­tas dalam ruang akademik.

Ung­ga­han ini men­u­ai komen­tar beragam dari war­ganet. Banyak yang memi­hak maha­siswa, meni­lai per­lakuan dosen san­gat tidak etis. Menu­rut mere­ka, tin­dakan mem­buang skrip­si ke lan­tai sama saja meren­dahkan per­juan­gan maha­siswa.

Namun, ada juga pihak yang berusa­ha netral, mengin­gatkan bah­wa video yang beredar hanya menampilkan seba­gian peri­s­ti­wa. Pub­lik dim­inta tidak buru-buru meng­haki­mi tan­pa menge­tahui duduk perkara sebe­narnya secara utuh.

Peri­s­ti­wa ini men­ja­di sorotan kare­na menyangkut eti­ka akademik. Dunia pen­didikan ting­gi seharus­nya men­ja­di ruang yang men­jun­jung ting­gi nilai intelek­tu­al, pro­fe­sion­al­isme, ser­ta peng­har­gaan ter­hadap pros­es bela­jar-men­ga­jar. Baik maha­siswa maupun dosen semestinya men­ja­ga sikap agar tidak men­coreng integri­tas akademik.

Eti­ka akademik menun­tut dosen untuk bersikap bijak, pro­fe­sion­al, dan penuh wibawa. Semen­tara maha­siswa ditun­tut untuk meng­hor­mati dosen ser­ta mematuhi prose­dur. Jika ter­ja­di perbe­daan pen­da­p­at, penye­le­sa­ian­nya sebaiknya dilakukan melalui jalur musyawarah, bukan melalui aksi emo­sion­al yang berpoten­si men­coreng nama baik insti­tusi pen­didikan.

Penga­mat pen­didikan meni­lai bah­wa peri­s­ti­wa ini harus men­ja­di reflek­si bersama. Skrip­si memang bukan perkara mudah, dan maha­siswa ten­tu pun­ya sen­si­tiv­i­tas ting­gi terkait karya ilmi­ah­nya. Namun, di sisi lain, dosen juga memi­li­ki tang­gung jawab akademik yang besar.

Tin­dakan emo­sion­al dari ked­ua belah pihak mem­per­li­hatkan adanya masalah komu­nikasi. Seharus­nya, uni­ver­si­tas memi­li­ki mekanisme medi­asi yang bisa men­jem­bat­ani kon­flik maha­siswa dan dosen. Den­gan demikian, peri­s­ti­wa seper­ti ini tidak beru­lang dan tidak merusak iklim akademik.

  Kabar Duka di Lampu Merah: Ibu-Ibu Kuat, Tulang Anak Tetap Patah

Kasus ini ten­tu berdampak pada rep­utasi per­gu­ru­an ting­gi yang dise­but dalam ung­ga­han. Uni­ver­si­tas yang seharus­nya dike­nal seba­gai lem­ba­ga pen­didikan kini men­ja­di sorotan kare­na isu negatif. Pihak kam­pus dihara­p­kan segera mem­berikan klar­i­fikasi res­mi dan mengam­bil langkah bijak untuk menye­le­saikan masalah.

Jika dib­iarkan, kasus ini bisa men­gu­ran­gi keper­cayaan masyarakat ter­hadap kual­i­tas pen­didikan di kam­pus terse­but. Bahkan, bisa menim­bulkan kere­sa­han di kalan­gan maha­siswa lain yang sedang men­jalani pros­es skrip­si.

Agar kon­flik ini tidak semakin mele­bar, diper­lukan langkah-langkah solu­tif. Beber­a­pa di antaranya:

1. Medi­asi antara maha­siswa dan dosen. Uni­ver­si­tas per­lu meng­hadirkan forum diskusi untuk melu­ruskan masalah secara adil.

2. Eval­u­asi prose­dur skrip­si. Apakah sis­tem admin­is­trasi yang ada memang berbe­lit sehing­ga menyulitkan maha­siswa.

3. Pem­bi­naan eti­ka akademik. Baik maha­siswa maupun dosen harus diberi pema­haman ulang ten­tang eti­ka dan sikap pro­fe­sion­al.

4. Transparan­si pros­es. Seti­ap korek­si, revisi, dan per­syaratan skrip­si harus dije­laskan secara ter­bu­ka sehing­ga tidak menim­bulkan salah paham.

Peri­s­ti­wa di Uni­ver­si­tas Nias, Sumat­era Utara, ini men­ja­di pela­jaran berhar­ga bah­wa dunia pen­didikan ting­gi masih meng­hadapi tan­ta­n­gan serius dalam men­ja­ga hubun­gan sehat antara maha­siswa dan dosen. Skrip­si yang semestinya men­ja­di pun­cak kebang­gaan akademik jus­tru berubah men­ja­di pemicu kon­flik kare­na kurangnya komu­nikasi dan kendali emosi.

Masyarakat kini menung­gu sikap res­mi dari pihak uni­ver­si­tas untuk memas­tikan masalah ini dis­e­le­saikan den­gan adil. Hara­pan­nya, keja­di­an seru­pa tidak teru­lang lagi dan iklim akademik bisa kem­bali kon­dusif. Pada akhirnya, dunia kam­pus harus tetap men­ja­di ruang dia­log intelek­tu­al yang men­jun­jung ting­gi peng­har­gaan, bukan are­na kon­flik emo­sion­al. (Abdul­lah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *