Berita Daerah

Relawan Aceh Curhat Pedih Soal Bantuan Terhambat

254
×

Relawan Aceh Curhat Pedih Soal Bantuan Terhambat

Sebarkan artikel ini

ACEH, SNIPERNEW.id

Seruan pilu mengenai kondisi pengungsi di Aceh menyeruak melalui unggahan akun Threads muliaitech_kudus01, yang diakses Jumat (05/12/2025). Unggahan tersebut memuat curahan hati seorang relawan yang selama bertahun-tahun mengelola dapur umum bencana dan kini mengaku berada pada titik frustrasi akibat lambannya penanganan bantuan bagi para penyintas.

Dalam unggahannya, relawan itu mengungkap bahwa ia telah berpindah dari satu lokasi bencana ke lokasi lain untuk membantu para pengungsi. Namun, situasi yang sedang ia hadapi di salah satu wilayah terdampak di Aceh disebut sebagai yang paling berat sejak ia terjun sebagai relawan.

Ia menggambarkan kondisi malam hari di pengungsian, ketika bayi-bayi menangis kelaparan, sementara sejumlah lansia yang sakit tidak mendapatkan perawatan atau perhatian yang memadai. Kebersihan lokasi pengungsian juga dikabarkan memprihatinkan, sehingga menimbulkan kekhawatiran akan risiko kesehatan.

Melihat bayi-bayi yang menangis di malam hari, melihat lansia-lansia yang sakit tidak terurus kebersihan dan kesehatannya… Ya Allah, lemah banget aku tuh rasanya,” tulisnya dalam unggahan tersebut.

Unggahan itu disertai tagar #curhatnetizendipidiAceh, menandakan bahwa keluhan tersebut berasal dari wilayah Kabupaten Pidie.

Pada kolom komentar, sejumlah pengguna lain ikut menyuarakan keprihatinan. Seorang warganet akun hilmassari mengkritik pemerintah daerah setempat yang dinilai lamban dalam menyalurkan bantuan, padahal jalur ke lokasi disebut tidak terputus total.

Menurutnya, di daerah lain—seperti Sumatera Barat—setiap wilayah terdampak yang masih dapat diakses selalu mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah. Namun, untuk wilayah yang benar-benar terisolasi, bantuan dari pemerintah pusat umumnya hadir melalui dukungan armada helikopter.

Semoga pemda Aceh lebih gercep ya dan situasi lekas membaik,” tulisnya.

Sementara itu, warganet lainnya, afridewi48, meminta relawan memberikan alamat lengkap lokasi pengungsian. Ia menyebut bahwa JNE saat ini membuka program gratis ongkir khusus untuk pengiriman bantuan kemanusiaan, baik oleh lembaga maupun individu.

Ia menekankan bahwa bantuan mendesak selain makanan adalah kebutuhan khusus seperti diapers untuk dewasa dan anak, serta susu bayi. “Siapa yang berniat mau bantu bisa langsung kirim lewat JNE gratis,” ujarnya.

Kritik kepada Pemerintah: “Jangan Buta dan Tuli”. Dalam postingan utamanya, relawan tersebut menyampaikan kalimat bernada keras agar keluhannya terdengar oleh pemerintah, terutama terkait lambannya atensi terhadap kondisi pengungsi.

Tolong bantu share biar sampai ke pemerintah yang buta dan tuli,” tulisnya menegaskan.

Ungkapan itu menggambarkan kekecewaan mendalam atas minimnya hadirnya pemerintah dalam situasi yang disebut semakin mendesak.

Curahan hati para relawan dan warganet tersebut menjadi sorotan publik karena menyinggung masalah klasik dalam penanganan bencana: koordinasi lambat, distribusi bantuan yang tidak merata, dan minimnya dukungan logistik pada titik-titik pengungsian.

Dalam konteks etika kebencanaan, pemerintah daerah selayaknya memberikan laporan terbuka mengenai jalur yang terputus, kendala transportasi, hingga kebutuhan utama para penyintas. Sementara itu, kolaborasi dengan lembaga kemanusiaan, relawan independen, serta pengiriman bantuan melalui program pihak swasta semestinya dioptimalkan.

Kesimpulan

Unggahan ini memperlihatkan bahwa sebagian pengungsi di Aceh masih menghadapi keterbatasan logistik, terutama untuk kelompok rentan seperti bayi dan lansia. Seruan publik—mulai dari relawan lapangan hingga masyarakat umum—menuntut pemerintah agar bertindak lebih cepat dan responsif.

Situasi di lapangan yang digambarkan penuh keprihatinan menjadi pengingat bahwa penanganan bencana membutuhkan komunikasi yang jelas, transparansi, serta sinergi antara semua pihak agar para penyintas tidak kembali jatuh dalam penderitaan yang berkepanjangan.

Penulis/Pengutip: [Iskandar]>