Berita Daerah

Ramai Sengketa Tanah di Pontianak, Warga Minta Keadilan dan Imbauan Agar Tidak Bawa Isu SARA

519
×

Ramai Sengketa Tanah di Pontianak, Warga Minta Keadilan dan Imbauan Agar Tidak Bawa Isu SARA

Sebarkan artikel ini

Pon­tianak, SniperNew.id  – Media sosial ten­gah dira­maikan oleh perbin­can­gan men­ge­nai sen­gke­ta tanah di Kota Pon­tianak, Kali­man­tan Barat. Kasus ini men­cu­at sete­lah akun @pontianakmedia_id mem­bagikan ung­ga­han ten­tang sebidang tanah yang dise­but tiba-tiba digu­nakan dan diban­gun rumah oleh seo­rang oknum yang diduga berasal dari luar daer­ah, Ming­gu (05/10).

Dalam ung­ga­han yang telah diton­ton lebih dari 48 ribu kali itu, akun terse­but menulis bah­wa tanah milik seo­rang war­ga setem­pat berna­ma Acin diduga telah dikua­sai tan­pa izin oleh pihak lain. Dalam foto yang turut diung­gah, tam­pak sebuah papan peringatan bertuliskan:

“Tanah ini milik Acin telah dikuasakan kepa­da Paul. Peringatan!! Dila­rang mendirikan ban­gu­nan, men­em­pati, atau meng­gu­nakan tan­pa izin.”

Ung­ga­han itu juga menam­bahkan pen­je­lasan bah­wa pen­gusir­an sem­pat dilakukan, namun pihak yang men­em­pati rumah di lahan terse­but tidak mau mening­galkan lokasi dan mem­inta gan­ti rugi pem­ban­gu­nan apa­bi­la harus pin­dah.

Admin akun media terse­but mene­gaskan bah­wa per­soalan ini hanya meli­batkan oknum, bukan mewak­ili suatu kelom­pok atau suku ter­ten­tu.

> “NB: Ini hanya oknum Cik, jan­gan lang­sung menya­ma­ratakan satu suku ya,” tulis admin akun itu dis­er­tai emo­ji dan tan­da per­mo­ho­nan.

Tagar #pon­tianak­me­dia pun dis­er­takan dalam ung­ga­han terse­but.

Ung­ga­han itu lang­sung men­gun­dang beragam komen­tar dari war­ganet. Seba­gian besar mengin­gatkan agar kasus ini dis­e­le­saikan secara hukum dan tidak berkem­bang men­ja­di isu suku, aga­ma, ras, dan antar­go­lon­gan (SARA).

  Wakil Bupati Labuhanbatu Hadiri Pelepasan Siswa XII Pendidikan Islami Elpi Al Azis

Seo­rang peng­gu­na berna­ma @bangtimbz menulis, “Ini jelas baru datang ke Kalbar. Dia gak tahu dulu kon­flik dipicu hal-hal seper­ti ini. Apa gak dikasih tahu sama sesepuh­nya yang udah hidup puluhan tahun di Kalbar?”

Komen­tar terse­but meru­juk pada sejarah kon­flik sosial di Kali­man­tan yang per­nah ter­ja­di aki­bat per­soalan seru­pa, dan mengin­gatkan agar masyarakat tetap berhati-hati dalam menyikapi situ­asi.

Semen­tara itu, peng­gu­na lain @badagwae mem­bagikan ceri­ta seru­pa di wilayah lain:

“Jadi inget ceri­ta teman, pun­ya tanah ngang­gur di Jakar­ta Utara sudah dipagerin. Lama gak diten­gok, pas datang terny­a­ta sudah ada rumah orang lain. Wak­tu ditanya, dia bilang ‘ya betul tanah bapak, cuma kan saya urug tanah, yang atas tanah saya’,” tulis­nya dis­er­tai emo­ji tawa.

Beber­a­pa war­ganet lain men­gaitkan isu ini den­gan keja­di­an seru­pa di berba­gai daer­ah. Akun @evanajaya menulis bah­wa di Jakar­ta Utara juga ser­ing ter­ja­di kasus seru­pa.

“Di Jakar­ta Utara juga masih banyak, teruta­ma sep­a­n­jang rel Tan­jung Priok menu­ju Jakar­ta Kota. Mere­ka mendirikan ban­gu­nan di lahan PT KAI sam­pai KAI kewala­han,” tulis­nya.

War­ganet lain, @agung.ghoenk, mengin­gatkan agar kasus kecil seper­ti ini jan­gan sam­pai memicu kem­bali peri­s­ti­wa kelam di Kali­man­tan, seper­ti kon­flik Sampit yang per­nah ter­ja­di di awal tahun 2000-an. “Jan­gan sam­pai Sampit teru­lang. Aku seba­gai orang Jawa hanya sekadar meng­har­gai. Semoga semua tetap aman. Ingat, jan­gan sam­pai masalah kecil jadi besar,” tulis­nya.

Ia juga menekankan pent­ingnya men­ja­ga sikap sal­ing meng­hor­mati antar­war­ga dari berba­gai latar belakang budaya.

  Gumitir Mulai “Ngabuburit” Bareng Kabut!

Semen­tara itu, komen­tar yang cukup menyen­tuh datang dari akun @andika_romansyah, yang men­gaku seba­gai war­ga asli Sampit. Ia mengin­gatkan beta­pa pahit­nya hidup di ten­gah kerusuhan yang meli­batkan unsur suku.

“Per­masala­han kecil seper­ti ini kalau gak dis­e­le­saikan bakal numpuk jadi kerusuhan. Saya asli Sampit, dari lahir di sana. Kerusuhan itu gak enak lho, mau kamu dari suku apa aja… cari makan susah, pasar lumpuh, har­ga barang meroket,” tulis­nya.

Ia men­ge­nang masa saat kelu­ar­ganya harus ber­ja­ga malam den­gan sen­ja­ta tra­di­sion­al untuk melin­dun­gi diri. “Saya ingat bapak saya tiap hari jaga malam, bawa tombak dan man­dau. Berun­tung kami pun­ya toko sem­bako, jadi masih bisa makan. Tapi orang lain banyak yang men­jarah kare­na gak ada pil­i­han lain,” lan­jut­nya.

Perny­ataan terse­but men­ja­di reflek­si agar masyarakat tidak ter­panc­ing emosi dan lebih mengede­pankan jalan hukum ser­ta medi­asi untuk menye­le­saikan per­soalan.

Akun lain, @carmelia_beerich, meny­ing­gung kem­bali peri­s­ti­wa lama di Kali­man­tan yang dike­nal luas seba­gai perang antar­suku. Ia menulis. “Per­lu dicer­i­tain perang antar suku di Kali­man­tan beber­a­pa tahun sil­am kah? Itu gak ada polisi yang nangkap, asal tahu aja, orang Dayak bisa ter­bang tuh nya­ta (meskipun saya belum per­nah lihat lang­sung).”

Walaupun dis­am­paikan den­gan nada bercan­da, komen­tar terse­but meng­garis­bawahi beta­pa sen­si­tifnya isu suku di wilayah Kali­man­tan yang memi­li­ki sejarah kon­flik sosial yang cukup pan­jang.

Penga­mat dan Masyarakat Imbau Jalur Hukum dan Medi­asi: Dari berba­gai komen­tar dan reak­si pub­lik, ter­li­hat adanya kekhawati­ran bersama bah­wa sen­gke­ta tanah ini bisa men­ja­di pemicu gesekan sosial jika tidak segera ditan­gani. Penga­mat sosial meni­lai, kasus seper­ti ini semestinya ditan­gani melalui jalur hukum dan medi­asi res­mi, bukan lewat media sosial.

  Pemprov Jabar Siapkan Anggaran Khusus untuk Penanganan Bencana

Pihak berwe­nang juga dihara­p­kan turun tan­gan melakukan klar­i­fikasi data kepemi­likan tanah ser­ta mene­gakkan atu­ran sesuai prose­dur. Bila ada pelang­garan, harus dipros­es tan­pa meman­dang asal-usul pelaku.

Selain itu, pemer­in­tah daer­ah dim­inta aktif melakukan edukasi sosial dan komu­nikasi lin­tas budaya, agar masyarakat tidak mudah ter­pro­vokasi oleh ung­ga­han atau narasi yang dap­at mem­pe­runc­ing perbe­daan.

Akun @pontianakmedia_id dalam ung­ga­han­nya sudah mem­beri penekanan agar masyarakat tidak men­gaitkan peri­s­ti­wa ini den­gan iden­ti­tas etnis ter­ten­tu. Admin akun menulis secara eksplisit bah­wa kasus ini hanya meli­batkan oknum, bukan mewak­ili satu kelom­pok.

Langkah terse­but diapre­si­asi sejum­lah war­ganet yang meni­lai sikap itu pent­ing untuk men­ja­ga netral­i­tas media lokal dan mence­gah muncul­nya sen­ti­men yang bisa mem­perkeruh suasana.

Kasus sen­gke­ta tanah di Pon­tianak yang viral di media sosial mem­per­li­hatkan dua hal pent­ing: per­ta­ma, masih lemah­nya pen­gawasan ter­hadap peng­gu­naan lahan dan sta­tus kepemi­likan di tingkat masyarakat; ked­ua, tingginya sen­si­tiv­i­tas pub­lik ter­hadap isu sosial yang berpoten­si memicu gesekan iden­ti­tas.

Peri­s­ti­wa ini men­ja­di pengin­gat bah­wa penye­le­sa­ian masalah semestinya dilakukan melalui jalur hukum, komu­nikasi ter­bu­ka, dan medi­asi yang adil. Masyarakat diim­bau tetap ten­ang, tidak ter­pro­vokasi, dan mem­per­cayakan pene­gakan hukum kepa­da aparat terkait.

Seper­ti dis­am­paikan oleh salah satu war­ganet. “Per­masala­han kecil kalau tidak dis­e­le­saikan, bisa menumpuk jadi kerusuhan.”

Ungka­pan itu men­ja­di pesan moral agar seti­ap pihak bela­jar dari pen­gala­man masa lalu dan men­ja­ga keruku­nan sosial di Kali­man­tan Barat, khusus­nya di Kota Pon­tianak.

Dis­usun berdasarkan ung­ga­han dan komen­tar akun @pontianakmedia_id di Threads (diak­ses 5 Okto­ber 2025).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *