Berita Peristiwa

Puskesmas Pringsewu Diduga Tolak Pasien 21 Tahun, BPJS Tegaskan Tidak Ada Batas Usia

584
×

Puskesmas Pringsewu Diduga Tolak Pasien 21 Tahun, BPJS Tegaskan Tidak Ada Batas Usia

Sebarkan artikel ini

Pringsewu, SniperNew.id – Seo­rang pasien berin­isial DRS (21) men­gaku men­gala­mi peno­lakan saat ingin berkon­sul­tasi di Poli Gigi UPT Puskesmas Pringsewu, Kabu­pat­en Pringsewu, Provin­si Lam­pung, pada Rabu (17/09/2025) pagi. Keja­di­an ini memu­nculkan sorotan pub­lik, teruta­ma terkait pema­haman layanan BPJS Kese­hatan di tingkat Puskesmas, Senin (23/09/2025).

Menu­rut penu­tu­ran DRS, ia datang ke Puskesmas Pringsewu kare­na men­gala­mi sak­it gigi. Penye­bab­nya adalah per­tum­buhan gigi bagian dalam gusi yang menim­bulkan rasa nyeri. Setibanya di Puskesmas, DRS ter­lebih dahu­lu dilayani di bagian pendaf­taran dan mener­i­ma obat beru­pa pil untuk meredakan rasa sak­it.

Namun, keti­ka ia masuk ke ruang Poli Gigi untuk berkon­sul­tasi lebih lan­jut den­gan seo­rang dok­ter perem­puan, DRS men­gaku mener­i­ma pen­je­lasan yang mem­bu­at­nya kece­wa. Ia menirukan uca­pan dok­ter terse­but:

“Kalau giginya nan­ti sudah tidak sak­it lagi nan­ti diop­erasi kecil. Sekarang umur bera­pa? Oh, kalau masih umur 21 tahun belum ditang­gung BPJS. Terke­cuali sudah umur 22 tahun baru ditang­gung oleh BPJS. Kalau tidak ditang­gung BPJS maka dike­nakan biaya sek­i­tar Rp5.000.000, kan sayang.”

Perny­ataan ini mem­bu­at DRS kebin­gun­gan dan merasa seper­ti dito­lak. Ia meni­lai infor­masi terse­but berpoten­si merugikan pasien lain yang mungkin meng­hadapi situ­asi seru­pa.

Keja­di­an ini men­da­p­at per­ha­t­ian dari Dewan Pimp­inan Pusat (DPP) Lem­ba­ga Swa­daya Masyarakat (LSM) Him­punan Aksi Masyarakat Madani Ekono­mi Raky­at (HAMMER). Ket­ua DPP HAMMER, Jamhari, meny­oroti perny­ataan terkait pem­bat­asan usia pasien untuk tin­dakan operasi gigi. Ia menye­but hal itu tidak sesuai den­gan prin­sip pelayanan kese­hatan pub­lik.

  Kecelakaan Beruntun di Seke Road, Trip Trans Terlibat Lagi

Jamhari menekankan bah­wa BPJS Kese­hatan adalah pro­gram jam­i­nan sosial yang berlaku untuk selu­ruh war­ga negara tan­pa diskrim­i­nasi usia ter­ten­tu. “Jika benar ada perny­ataan seper­ti itu, ini per­lu dil­u­ruskan agar masyarakat tidak dis­alah­pa­ha­mi men­ge­nai hak-hak layanan kese­hatan mere­ka,” ujarnya.

Menang­gapi isu ini, Kepala UPT Puskesmas Pringsewu, Wahyudin, S.KM., M.Kes., mem­ban­tah adanya atu­ran yang mem­bat­asi usia untuk pelayanan BPJS.

“Untuk pelayanan BPJS, kami layani den­gan baik dan tidak ada batas usia. Men­ge­nai keteran­gan dok­ter terse­but, kemu­ngk­i­nan mak­sud­nya adalah mem­per­ta­hankan kon­disi gigi pasien yang masih muda agar tidak lang­sung diop­erasi. Jika memang ter­ma­suk bagian gigi dalam yang sulit ditan­gani di tingkat Puskesmas, pasien akan diru­juk ke rumah sak­it,” jelas Wahyudin saat dikon­fir­masi melalui sam­bun­gan What­sApp.

Ia juga menam­bahkan bah­wa Puskesmas melayani pasien yang memi­li­ki kar­tu BPJS Kese­hatan atau JKN-KIS dan sudah terdaf­tar di Puskesmas terse­but. “Kami hanya menan­gani penyak­it-penyak­it umum yang tidak memer­lukan penan­ganan spe­sialis. Jika pasien butuh penan­ganan lan­ju­tan, Puskesmas akan mem­berikan surat rujukan,” tam­bah­nya.

Untuk mence­gah kebin­gun­gan seru­pa, pent­ing bagi masyarakat mema­ha­mi layanan BPJS di tingkat per­ta­ma, ter­ma­suk di Puskesmas. Sesuai keten­tu­an BPJS Kese­hatan, berikut layanan yang ditang­gung di Puskesmas:

1. Pelayanan Kese­hatan Tingkat Per­ta­ma – Pemerik­saan, kon­sul­tasi, pen­go­b­atan, dan tin­dakan medis dasar.

2. Pelayanan Pro­mo­tif dan Pre­ven­tif – Penyu­luhan kese­hatan, imu­nisasi, dan skrin­ing kese­hatan penyak­it tidak menu­lar (PTM).

  Mayat di Teras Rumah, Warga di Pringsewu Heboh

3. Pelayanan Ibu dan Anak (KIA) – Pemerik­saan kehami­lan, ban­tu­an per­sali­nan, per­awatan masa nifas, pro­gram kelu­ar­ga beren­cana (KB), ser­ta imu­nisasi.

4. Pelayanan Gigi Dasar – Pemerik­saan dan penan­ganan masalah kese­hatan gigi dan mulut tingkat dasar.

5. Skrin­ing Kese­hatan – Detek­si dini penyak­it menu­lar dan tidak menu­lar.

6. Gawat Daru­rat – Ditang­gung tan­pa memer­lukan rujukan.

Apa­bi­la kon­disi pasien mem­bu­tuhkan penan­ganan lan­ju­tan, mis­al­nya operasi gigi yang kom­pleks, Puskesmas akan mem­berikan rujukan ke rumah sak­it.

Puskesmas mem­berikan rujukan ke fasil­i­tas kese­hatan tingkat lan­ju­tan jika: Kon­disi kese­hatan pasien memer­lukan penan­ganan spe­sialis atau per­awatan inten­sif.

Rawat inap di Puskesmas memer­lukan wak­tu lebih dari lima hari. Layanan kese­hatan yang dibu­tuhkan tidak terse­dia di tingkat per­ta­ma.

Den­gan sis­tem ini, BPJS bertu­juan memas­tikan pasien men­da­p­atkan pelayanan sesuai tingkat fasil­i­tas kese­hatan tan­pa mem­ber­atkan biaya.

Pakar kese­hatan masyarakat meni­lai pent­ingnya komu­nikasi yang jelas antara tena­ga medis dan pasien. Infor­masi yang tidak tepat bisa memu­nculkan persep­si diskrim­i­natif. Dalam kasus ini, dugaan peno­lakan bukan sema­ta soal layanan, tetapi juga menyangkut edukasi ten­tang hak pasien.

“Tena­ga kese­hatan harus berhati-hati dalam menyam­paikan pen­je­lasan agar tidak menim­bulkan kesan salah, apala­gi terkait pro­gram nasion­al seper­ti BPJS,” ujar seo­rang pemer­hati layanan kese­hatan di Pringsewu.

BPJS Kese­hatan men­jamin selu­ruh peser­ta, ter­ma­suk anak-anak dan orang dewasa, tan­pa pem­bat­asan usia ter­ten­tu, kecuali untuk layanan khusus yang memi­li­ki atu­ran medis spe­si­fik. Dalam kon­teks per­awatan gigi, usia pasien tidak memen­garuhi hak dasar atas pelayanan.

  Tregis Peristiwa di Pringsewu, Feri Handika Tewas Ditikam Tetangga

Pasien juga berhak men­da­p­atkan rujukan jika penan­ganan tidak dap­at dilakukan di tingkat per­ta­ma. Adanya pen­je­lasan men­ge­nai biaya Rp5 juta tan­pa keje­lasan pros­es rujukan diang­gap mem­bin­gungkan dan dap­at menu­runk­an keper­cayaan masyarakat.

Langkah yang Dap­at Dilakukan Masyarakat: Pastikan Kepe­ser­taan BPJS Aktif – Pastikan kar­tu BPJS Kese­hatan atau JKN-KIS masih aktif dan sesuai den­gan fasil­i­tas kese­hatan tingkat per­ta­ma yang dip­il­ih.

- Minta Pen­je­lasan Ter­tulis – Jika ada infor­masi yang mer­agukan, minta­lah pen­je­lasan res­mi dari pihak Puskesmas atau BPJS Kese­hatan.

-  Laporkan Jika Ada Kejang­galan – Masyarakat dap­at mela­por ke kan­tor BPJS Kese­hatan, Dinas Kese­hatan, atau lem­ba­ga advokasi kese­hatan jika merasa haknya tidak dipenuhi.

- Gunakan Jalur Rujukan – Jika tin­dakan medis tidak dap­at dilakukan di Puskesmas, minta­lah rujukan res­mi ke rumah sak­it agar biaya tetap ditang­gung BPJS.

Kasus dugaan peno­lakan DRS di Puskesmas Pringsewu men­ja­di pengin­gat pent­ingnya komu­nikasi efek­tif antara tena­ga medis dan pasien. Klar­i­fikasi dari Kepala Puskesmas mene­gaskan bah­wa tidak ada pem­bat­asan usia dalam pelayanan BPJS Kese­hatan di tingkat Puskesmas.

LSM HAMMER juga menekankan per­lun­ya pen­gawasan dan edukasi agar hak masyarakat tidak dis­ala­har­tikan. Layanan BPJS men­cakup pemerik­saan, pen­go­b­atan, tin­dakan dasar, hing­ga rujukan ke rumah sak­it jika diper­lukan.

Den­gan mema­ha­mi prose­dur layanan BPJS dan hak-hak pasien, masyarakat dap­at menghin­dari kesalah­pa­haman dan tetap men­da­p­atkan pelayanan kese­hatan yang adil dan berkual­i­tas. Kasus ini dihara­p­kan men­ja­di pem­be­la­jaran bagi selu­ruh fasil­i­tas kese­hatan untuk mem­per­bai­ki komu­nikasi, memas­tikan pelayanan yang ramah, ser­ta men­ja­ga keper­cayaan pub­lik ter­hadap sis­tem kese­hatan nasion­al. (Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *