Berita Investigasi

Proyek Jalan Rp29 Miliar di Tubaba–Waykanan Diduga Asal-Asalan, Dikerjakan Pihak Ketiga

1205
×

Proyek Jalan Rp29 Miliar di Tubaba–Waykanan Diduga Asal-Asalan, Dikerjakan Pihak Ketiga

Sebarkan artikel ini

Lam­pung, SniperNew.id — Proyek pem­ban­gu­nan jalan hot­mix dan drainase seni­lai Rp29 mil­iar yang menghubungkan Desa Panara­gan (Kabu­pat­en Tulang Bawang Barat) den­gan Desa Tegal Muk­ti dan Tajab (Kabu­pat­en Waykanan) men­u­ai sorotan. Dua perusa­haan peme­nang ten­der, yakni CV SAP dan CV RC, terny­a­ta meny­er­ahkan pelak­sanaan peker­jaan kepa­da pihak keti­ga atau sub­kon­trak­tor, Ming­gu (13/09).

Temuan di lapan­gan menun­jukkan penger­jaan proyek terse­but dini­lai asal-asalan. Drainase tidak diban­gun secara menyelu­ruh, kete­bal­an pasan­gan batu berbe­da-beda, bahkan seba­gian tidak dilengkapi lan­tai semen.

Berdasarkan infor­masi yang dihim­pun, CV SAP meme­nangkan paket proyek seni­lai Rp14,5 mil­iar, semen­tara CV RC men­gelo­la paket seni­lai Rp14,6 mil­iar. Namun, bukan­nya menger­jakan lang­sung, ked­ua perusa­haan terse­but meny­er­ahkan peker­jaan ke pihak keti­ga.

Seo­rang sub­kon­trak­tor berna­ma Sunariyah men­gakui bah­wa penger­jaan proyek memang dis­esuaikan den­gan kon­disi lapan­gan, bukan berdasarkan gam­bar ker­ja yang seharus­nya men­ja­di acuan. “Penger­jaan proyeknya menye­suaikan den­gan kon­disi sep­a­n­jang ruas jalan dan drainase,” ujarnya beber­a­pa hari lalu.

  Sikap Petugas Disdikbud Pringsewu Disorot, FPII Minta Evaluasi

Perny­ataan terse­but mem­perku­at dugaan bah­wa kon­trol dari kon­trak­tor uta­ma ter­hadap pelak­sanaan di lapan­gan san­gat min­im.

Hasil pan­tauan menun­jukkan adanya keti­dak­sesua­ian peker­jaan den­gan ren­cana. Mis­al­nya, pada ruas jalan Tegal Muk­ti menu­ju Tajab sep­a­n­jang 2 kilo­me­ter, pem­ban­gu­nan drainase hanya sek­i­tar 500 meter.

Semen­tara itu, pada ruas Panara­gan menu­ju Tegal Muk­ti yang memi­li­ki pan­jang 1,8 kilo­me­ter, drainase juga tidak diban­gun di selu­ruh sisi.

Selain tidak menyelu­ruh, uku­ran drainase pun berbe­da-beda. Di Waykanan, pasan­gan batu drainase hanya sete­bal 30 sen­time­ter, sedan­gkan di Tuba­ba kete­bal­an hanya sek­i­tar 20 sen­time­ter den­gan lebar 50 sen­time­ter. Beber­a­pa titik bahkan tidak memi­li­ki lan­tai semen, hanya tanah yang ditut­up ado­nan seadanya.

Selain drainase, kual­i­tas jalan hot­mix yang dik­er­jakan juga diper­tanyakan. War­ga setem­pat meni­lai penger­jaan dilakukan ter­bu­ru-buru. “Baru beber­a­pa ming­gu sete­lah dias­pal, per­mukaan jalan sudah mulai bergelom­bang,” ungkap seo­rang war­ga Desa Tegal Muk­ti yang eng­gan dise­butkan namanya.

Menu­rut­nya, war­ga sebe­narnya san­gat menan­tikan pem­ban­gu­nan jalan terse­but kare­na sela­ma bertahun-tahun akses desa rusak parah. Namun, mere­ka kece­wa kare­na proyek mil­iaran rupi­ah itu tidak dik­er­jakan den­gan serius.

Hing­ga beri­ta ini ditu­runk­an, pihak kon­trak­tor peme­nang ten­der maupun Kepala Dinas Bina Mar­ga dan Bina Kon­struk­si (BMBK) Provin­si Lam­pung, M. Tau­fiqul­lah, tidak mem­berikan tang­ga­pan. Upaya kon­fir­masi melalui pang­gi­lan tele­pon dan pesan singkat tidak dire­spons.

  Antrean BBM Mengular di SPBU Firdaus, Warga Menunggu Sejak Subuh

Sikap bungkam terse­but menim­bulkan per­tanyaan pub­lik. Pada­hal, transparan­si san­gat pent­ing untuk men­jawab kere­sa­han war­ga terkait kual­i­tas pem­ban­gu­nan.

Secara atu­ran, Per­at­u­ran Pres­i­den Nomor 16 Tahun 2018 ten­tang Pen­gadaan Barang/Jasa Pemer­in­tah memang mem­bu­ka ruang adanya sub­kon­trak. Namun, pelak­sanaan­nya harus memenuhi syarat ter­ten­tu dan tetap bera­da di bawah pen­gawasan kon­trak­tor uta­ma.

“Sub­kon­trak bukan berar­ti lep­as tang­gung jawab. Kon­trak­tor uta­ma tetap wajib memas­tikan peker­jaan sesuai den­gan spe­si­fikasi tek­nis, gam­bar ker­ja, dan stan­dar mutu,” kata seo­rang akademisi teknik sip­il dari salah satu per­gu­ru­an ting­gi negeri di Lam­pung saat dim­intai pan­dan­gan.

Menu­rut­nya, prak­tik pen­gal­i­han proyek tan­pa pen­gawasan ketat jus­tru mem­bu­ka pelu­ang peny­im­pan­gan. “Aki­bat­nya, proyek berni­lai puluhan mil­iar rupi­ah bisa dik­er­jakan asal-asalan. Yang dirugikan ten­tu masyarakat,” tam­bah­nya.

Proyek jalan dan drainase yang tidak sesuai spe­si­fikasi dikhawatirkan menim­bulkan dampak jang­ka pan­jang. Jika drainase tidak berfungsi opti­mal, air hujan akan melu­ap ke badan jalan, mem­per­cepat kerusakan aspal.

Selain itu, kete­bal­an pasan­gan batu yang tidak ser­agam dan seba­gian tan­pa lan­tai semen mem­bu­at daya tahan drainase diragukan. Dalam beber­a­pa tahun, ban­gu­nan berpoten­si rusak dan mem­bu­tuhkan biaya per­baikan lebih besar.

“Ini jelas merugikan keuan­gan negara. Uang raky­at yang jum­lah­nya mil­iaran rupi­ah tidak mem­berikan man­faat mak­si­mal,” ujar seo­rang aktivis LSM antiko­rup­si di Lam­pung.

  Investasi Hijau Lampung Meningkat, Minat Investor Nasional Menguat

Mes­ki kece­wa den­gan kual­i­tas peker­jaan, war­ga desa tetap berharap pemer­in­tah tidak menut­up mata. Mere­ka mem­inta proyek diperik­sa ulang oleh pihak berwe­nang, ter­ma­suk Badan Pemerik­sa Keuan­gan (BPK) atau Inspek­torat.

“Kami tidak meno­lak pem­ban­gu­nan. Jus­tru kami ingin pem­ban­gu­nan dilakukan sesuai atu­ran, supaya man­faat­nya bisa kami rasakan lama,” kata seo­rang tokoh masyarakat Desa Tajab.

Kasus ini sekali­gus meny­oroti lemah­nya sis­tem pen­gawasan proyek infra­struk­tur di daer­ah. Sejum­lah kalan­gan meni­lai pemer­in­tah daer­ah ter­lalu ser­ing hanya fokus pada ser­e­mo­ni­al peresmi­an tan­pa benar-benar menge­cek kual­i­tas di lapan­gan.

“Kalau proyek ini terus dib­iarkan, cit­ra pemer­in­tah akan rusak. Pada­hal pem­ban­gu­nan infra­struk­tur san­gat pent­ing untuk men­dorong ekono­mi desa,” ujar seo­rang dosen kebi­jakan pub­lik.

Proyek jalan hot­mix dan drainase seni­lai Rp29 mil­iar di Tuba­ba dan Waykanan seharus­nya men­ja­di solusi bagi keter­iso­lasian desa. Namun, fak­ta di lapan­gan jus­tru menun­jukkan adanya per­soalan serius dalam pelak­sanaan­nya.

Pen­gal­i­han peker­jaan ke pihak keti­ga, kual­i­tas penger­jaan yang asal-asalan, ser­ta sikap bungkam dari kon­trak­tor maupun peja­bat terkait mem­perku­at dugaan adanya peny­im­pan­gan.

Pub­lik kini menan­ti langkah tegas aparat pen­gawas, apakah proyek ini akan diau­dit, diper­bai­ki, atau dib­iarkan begi­tu saja. (Sufiyawan dan tim).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *