Berita Daerah

Mahasiswa FTK UIN RIL “Sumbang Semen” ke BMBK Lampung, Sindir Buruknya Kualitas Proyek dan Isu Setoran 20 Persen

181
×

Mahasiswa FTK UIN RIL “Sumbang Semen” ke BMBK Lampung, Sindir Buruknya Kualitas Proyek dan Isu Setoran 20 Persen

Sebarkan artikel ini

Bandar Lampung, SniperNew.id  – Suasana di halaman Kantor Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi (BMBK) Provinsi Lampung, Kamis (11/9/2025), mendadak riuh. Puluhan mahasiswa dari Senat Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung menggelar aksi damai dengan cara yang unik sekaligus menyentil nurani publik.

Bukan hanya spanduk dan poster yang mereka bawa. Kali ini, mahasiswa datang dengan sejumlah material bangunan berupa semen dan batu sprit. Material itu kemudian mereka serahkan langsung di depan kantor BMBK. Bukan untuk benar-benar membangun, melainkan sebagai simbol kritik tajam atas kondisi infrastruktur yang mereka nilai buruk dan jauh dari kata memuaskan.

Ketua Umum Senat Mahasiswa FTK UIN RIL, Muhammad Daffa Azhari, dalam orasinya mengatakan bahwa aksi ini adalah bentuk kepedulian mahasiswa terhadap pembangunan di Bumi Ruwa Jurai. “Kami melihat ada beberapa pekerjaan yang ada di Dinas BMBK tidak begitu maksimal. Banyak proyek yang asal jadi dan tidak sesuai dengan standar kualitas,” tegas Daffa.

Aksi mahasiswa ini bukan sekadar turun ke jalan. Mereka memilih mengemasnya dengan sindiran halus namun menohok. Material semen dan batu sprit yang diletakkan di depan kantor BMBK menjadi simbol “sumbangan” dari mahasiswa kepada pemerintah.

“Kami lakukan aksi ini dengan cara yang penuh nyiyiran. Kalau memang Dinas BMBK kesulitan membangun dengan kualitas yang baik, ya kami dari mahasiswa ikhlas menyumbangkan material bangunan. Ini sebagai tamparan keras kepada pemangku kebijakan agar mau berbenah,” kata Daffa lagi.

  Membongkar Dugaan Praktik Pungli dan Penyelewengan Dana BOS SMK Jaya Krama Beringin Deli Serdang

Meski diwarnai tawa sinis aparat yang berjaga, mahasiswa tetap melanjutkan orasi mereka. Bagi mahasiswa, aksi ini bukanlah ajang lucu-lucuan, melainkan ekspresi kegelisahan atas pembangunan di Lampung yang kerap menuai sorotan.

“Pak Kadis, sebagai mahasiswa yang cinta terhadap Provinsi Lampung, kami dengan penuh ikhlas menyerahkan material ini agar bisa membantu memperbaiki pekerjaan yang kualitasnya masih buruk. Jangan sampai pembangunan di Lampung menjadi bahan tertawaan masyarakat,” lanjut Daffa dengan suara lantang.

Tidak hanya soal kualitas proyek, aksi ini juga menyinggung isu serius yang selama ini beredar: dugaan adanya praktik setoran proyek sebesar 20 persen kepada petinggi dinas. Mahasiswa menilai, jika isu itu benar adanya, maka hal tersebut merupakan bentuk nyata dari bobroknya tata kelola pembangunan di Lampung.

“Kami tidak bisa diam ketika mendengar adanya dugaan setoran 20 persen yang harus diberikan kontraktor kepada pihak-pihak tertentu di Dinas BMBK. Ini merugikan rakyat. Dana pembangunan yang seharusnya digunakan untuk kualitas, malah bocor di jalan,” teriak salah satu orator.

Lebih jauh, mereka juga mendesak aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas dugaan keterlibatan oknum anggota DPRD Provinsi Lampung, khususnya di Komisi IV, yang disebut-sebut ikut “bermain” proyek. Menurut mahasiswa, praktik semacam ini tidak hanya melukai rasa keadilan, tetapi juga menghambat pembangunan infrastruktur yang layak bagi masyarakat.

Dalam pernyataannya, mahasiswa menyampaikan tiga tuntutan utama:

1. Mengusut dugaan setoran proyek 20 persen kepada petinggi Dinas BMBK Provinsi Lampung.

  Pekerja Serabutan di Jakarta Curhat Putus Asa Cari Kerja

2. Mengusut dugaan keterlibatan anggota DPRD Provinsi Lampung, khususnya Komisi IV, yang diduga ikut bermain proyek di Dinas BMBK.

3. Mendesak Gubernur Lampung mencopot Kepala Dinas BMBK, karena dianggap gagal menjalankan peran sebagai pionir pembangunan Lampung.

Tuntutan ini disuarakan secara berulang kali dalam orasi, dengan harapan pesan mereka sampai langsung kepada pemerintah provinsi.

Bagi mahasiswa, aksi menyumbang semen dan batu bukanlah tanpa makna. Mereka ingin menunjukkan betapa lemahnya kualitas pembangunan yang dikerjakan Dinas BMBK.

“Kami bukan hanya mengkritik, tapi juga memberikan solusi. Kalau memang masalahnya material, biarlah kami mahasiswa yang membantu menyumbang. Kalau masalahnya niat, itu harus diperbaiki oleh pejabatnya,” ujar Daffa di hadapan massa dan aparat yang berjaga.

Aksi ini sontak menarik perhatian warga yang melintas di sekitar kantor BMBK. Beberapa bahkan berhenti sejenak untuk melihat tumpukan semen dan batu yang diletakkan di depan kantor, lalu mengabadikan momen tersebut dengan kamera ponsel.

Daffa menegaskan bahwa aksi ini hanyalah langkah awal. Mahasiswa berencana melanjutkan gerakan dengan bentuk lain, termasuk penggalangan dana untuk menyumbangkan lebih banyak material bangunan kepada Dinas BMBK.

“Kami akan lakukan penggalangan dana agar bisa memberikan lebih banyak lagi semen dan material. Ini bentuk kepedulian kami, bukan hanya kritik. Tapi jangan salah paham, ini sindiran keras agar pejabat terkait sadar,” tegasnya.

Aksi mahasiswa FTK UIN RIL ini bukan tanpa alasan. Selama beberapa tahun terakhir, pembangunan infrastruktur di Lampung memang kerap menjadi sorotan. Dari jalan berlubang, jembatan yang cepat rusak, hingga proyek tambal sulam yang terkesan asal jadi, semua menjadi keluhan masyarakat.

Di media sosial, aksi mahasiswa ini mendapat banyak tanggapan positif. Warganet menilai, langkah mahasiswa menyuarakan kritik dengan cara kreatif bisa lebih mengetuk hati pemerintah dibanding sekadar unjuk rasa biasa.

  HATI-HATI! WhatsApp Business Rawan Pemblokiran Akun Secara Sepihak

“Salut untuk mahasiswa UIN RIL, aksi kalian keren. Semoga pejabat Lampung sadar kalau rakyat butuh pembangunan yang benar-benar berkualitas,” tulis seorang netizen.

Namun, tidak sedikit pula yang pesimis. “Bagus aksinya, tapi jangan berharap pejabat langsung berubah. Isu setoran itu sudah jadi rahasia umum,” komentar warga lainnya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Dinas BMBK Provinsi Lampung belum memberikan pernyataan resmi terkait aksi mahasiswa tersebut maupun dugaan praktik setoran proyek. Publik kini menunggu langkah konkret dari pemerintah provinsi, terutama Gubernur Lampung, untuk menanggapi tuntutan mahasiswa.

Mahasiswa sendiri menegaskan bahwa mereka tidak akan berhenti hanya dengan satu kali aksi. Mereka siap terus mengawal pembangunan di Lampung agar lebih transparan, berkualitas, dan akuntabel.

“Ini komitmen kami sebagai mahasiswa. Kami akan terus berdiri di garda terdepan mengkritisi kebijakan yang merugikan masyarakat. Pembangunan harus untuk rakyat, bukan untuk kepentingan segelintir elit,” tutup Daffa.

Aksi mahasiswa FTK UIN RIL ini menjadi pengingat keras bahwa pembangunan tidak boleh hanya sebatas angka dalam laporan atau proyek yang dikerjakan setengah hati. Kualitas harus diutamakan, transparansi harus dijaga, dan kepentingan rakyat harus menjadi prioritas.

Dengan cara kreatif-menyumbang semen dan batu-mahasiswa telah memberikan sindiran pedas yang sulit dilupakan. Tinggal kini bagaimana pemerintah merespons. Apakah kritik itu akan dijadikan bahan evaluasi, atau hanya sekadar angin lalu?

Yang jelas, suara mahasiswa sudah bergema, dan publik pun kini ikut menanti langkah nyata. (Sufiyawan).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *