Berita Daerah

Pemprov Lampung Diingatkan untuk Patuhi Batas Belanja Pegawai dalam APBD

342
×

Pemprov Lampung Diingatkan untuk Patuhi Batas Belanja Pegawai dalam APBD

Sebarkan artikel ini

Ban­dar Lam­pung, SniperNew.id — Pemer­in­tah Provin­si (Pem­prov) Lam­pung men­da­p­at peringatan dari akademisi hukum Uni­ver­si­tas Lam­pung (Uni­la) terkait belan­ja pegawai dalam Anggaran Pen­da­p­atan dan Belan­ja Daer­ah (APBD). Dr. Budiono, SH., MH., seo­rang akademisi hukum di Uni­la, mene­gaskan bah­wa alokasi belan­ja pegawai yang melebi­hi batas keten­tu­an yang diatur dalam Undang-Undang (UU) Nomor 1 Tahun 2022 ten­tang Hubun­gan Keuan­gan antara Pemer­in­tah Pusat dan Pemer­in­ta­han Daer­ah berpoten­si berisiko bagi Pem­prov Lam­pung. Peringatan ini muncul menyusul pelak­sanaan pen­gang­garan untuk tahun 2025 yang sedang dis­usun.

Dalam UU terse­but, Pasal 146 ayat (1) secara tegas mene­tap­kan bah­wa belan­ja pegawai daer­ah harus pal­ing ting­gi 30 persen dari total belan­ja daer­ah. Bila melang­gar keten­tu­an ini, Pem­prov Lam­pung berisiko men­da­p­at sanksi beru­pa penun­daan dan/atau pemo­ton­gan Trans­fer Keuan­gan Daer­ah (TKD), yang dap­at berdampak negatif ter­hadap kelan­car­an pem­bi­ayaan pem­ban­gu­nan di daer­ah.

Peringatan dari Akademisi Uni­la

Dr. Budiono men­je­laskan bah­wa Pem­prov Lam­pung wajib mengiku­ti kebi­jakan fiskal yang telah dite­tap­kan oleh pemer­in­tah pusat. Namun, ia juga menekankan pent­ingnya mem­per­tim­bangkan kebu­tuhan organ­isasi dalam pen­gang­garan belan­ja pegawai. Ia menye­butkan bah­wa belan­ja pegawai yang ada dalam APBD Lam­pung saat ini telah melam­paui batas 30 persen, dan harus dis­esuaikan pal­ing lam­bat pada tahun 2027.

  Amarulah: Eks Plt Dirut PDAM Gagal Total, Jika Terpilih Kembali Patut Dipertanyakan

“Pem­prov Lam­pung wajib men­dukung kebi­jakan pemer­in­tah pusat, tetapi dalam imple­men­tasinya, pen­gang­garan harus tetap mem­per­hatikan kebu­tuhan organ­isasi. Saat ini, alokasi belan­ja pegawai dalam APBD Lam­pung telah melam­paui batas 30 persen yang dite­tap­kan oleh UU, sehing­ga harus segera dis­esuaikan agar tidak menim­bulkan dampak negatif bagi keuan­gan daer­ah,” kata Budiono saat dite­mui pada Jumat (22/8/2025).

Pent­ingnya kesesua­ian alokasi belan­ja pegawai den­gan keten­tu­an hukum terse­but semakin kru­sial mengin­gat keter­gan­tun­gan daer­ah ter­hadap Trans­fer Keuan­gan Daer­ah yang bersum­ber dari pusat. Jika ter­ja­di pelang­garan ter­hadap keten­tu­an ini, tidak hanya pemo­ton­gan alokasi anggaran dari pusat, tetapi juga dampaknya pada sta­bil­i­tas fiskal daer­ah bisa san­gat merugikan.

Strate­gi Pen­gangkatan PPPK dan Pen­gelo­laan Anggaran

Akademisi lain­nya, Dr. Sar­ing Suhen­dro, S.E., M.Si., Akt., CA., dari Fakul­tas Ekono­mi dan Bis­nis Uni­la, mengin­gatkan bah­wa meskipun Pem­prov Lam­pung telah mem­u­lai pros­es pen­gangkatan Pegawai Pemer­in­tah den­gan Per­jan­jian Ker­ja (PPPK) dalam beber­a­pa tahap, hal terse­but tetap harus dilak­sanakan den­gan penuh kehati-hat­ian. Salah sat­un­ya den­gan memas­tikan bah­wa alokasi belan­ja pegawai tidak melebi­hi 30 persen dari APBD, sesuai den­gan amanat UU.

Sar­ing menekankan pent­ingnya pen­gelo­laan belan­ja pegawai yang tidak hanya berfokus pada pen­gangkatan pegawai, tetapi juga mem­per­tim­bangkan dampaknya ter­hadap sek­tor-sek­tor lain yang lebih memer­lukan per­ha­t­ian, seper­ti pen­didikan, kese­hatan, dan infra­struk­tur. “Jika belan­ja pegawai ter­lalu dom­i­nan, maka sek­tor lain yang lebih mende­sak akan men­gala­mi defisit anggaran. Aki­bat­nya, belan­ja untuk pen­didikan, kese­hatan, dan infra­struk­tur bisa berku­rang,” jelas­nya.

  Melalui Empat Pilar MPR RI Putih Sari Teguhkan Komitmen Masyarakat Menjaga NKRI

Dalam hal ini, Sar­ing juga meny­oroti pen­gangkatan PPPK Paruh Wak­tu seba­gai langkah yang per­lu diam­bil den­gan san­gat hati-hati. Ia men­yarankan agar Pem­prov Lam­pung mem­pri­or­i­taskan sek­tor-sek­tor yang mem­berikan man­faat jang­ka pan­jang bagi masyarakat. Salah sat­un­ya, sek­tor pen­didikan yang menu­rut­nya berpoten­si mem­berikan mul­ti­pli­er effect yang sig­nifikan ter­hadap kual­i­tas sum­ber daya manu­sia di Lam­pung.

Refor­masi Man­a­je­men SDM dan Fokus pada Kebu­tuhan Pub­lik

Selain pen­gelo­laan belan­ja pegawai, Sar­ing juga mengin­gatkan agar Pem­prov Lam­pung segera melakukan refor­masi dalam man­a­je­men sum­ber daya manu­sia (SDM) untuk memas­tikan bah­wa selu­ruh tena­ga hon­or­er yang sebelum­nya bek­er­ja di luar Aparatur Sip­il Negara (ASN) dap­at diako­modasi melalui mekanisme PPPK atau PPPK Paruh Wak­tu. Hal ini sejalan den­gan kebi­jakan pemer­in­tah pusat yang meny­atakan bah­wa tena­ga hon­or­er tidak lagi dap­at diangkat men­ja­di ASN, dan harus diin­te­grasikan melalui sis­tem PPPK.

“Pem­prov Lam­pung per­lu memas­tikan bah­wa pen­gangkatan PPPK atau PPPK Paruh Wak­tu harus dilakukan berdasarkan skala pri­or­i­tas yang jelas dan berba­sis kebu­tuhan pub­lik, teruta­ma di sek­tor-sek­tor yang mem­berikan dampak lang­sung pada kese­jahter­aan masyarakat,” tam­bah Sar­ing.

Tan­ta­n­gan Pen­gelo­laan Fiskal Daer­ah

Sar­ing mengin­gatkan, bah­wa pen­gelo­laan fiskal daer­ah harus tetap terk­endali agar tidak merugikan kebu­tuhan pem­ban­gu­nan jang­ka pan­jang. Sum­ber daya fiskal yang ter­batas di daer­ah, lan­jut­nya, harus dikelo­la secara efisien untuk memas­tikan ter­ca­painya tujuan pem­ban­gu­nan yang berke­lan­ju­tan. Oleh kare­na itu, Pem­prov Lam­pung per­lu mem­per­tim­bangkan den­gan cer­mat anggaran yang dialokasikan untuk belan­ja pegawai dan sek­tor-sek­tor lain­nya.

  Jejak 1910–HGU Modern: Konflik PTPN dan Masyarakat Adat Lampung Kian Terbuka

Pemer­in­tah pusat, menu­rut Sar­ing, sudah mem­berikan pedo­man dan batasan yang jelas terkait pen­gelo­laan keuan­gan daer­ah. Hal ini meru­pakan upaya untuk men­ja­ga kese­im­ban­gan antara kebu­tuhan pem­ban­gu­nan dan kemam­puan fiskal daer­ah. “Kita harus men­ja­ga fis­cal sus­tain­abil­i­ty, yang artinya pen­gelu­aran daer­ah harus seim­bang den­gan pen­da­p­atan yang ada, dan belan­ja pegawai tidak boleh meng­gero­goti anggaran pem­ban­gu­nan yang lebih dibu­tuhkan masyarakat,” tegas­nya.

Rekomen­dasi untuk Pem­prov Lam­pung

Berdasarkan berba­gai pema­paran yang dis­am­paikan oleh para akademisi, Pem­prov Lam­pung dihara­p­kan untuk segera menye­suaikan belan­ja pegawai dalam APBD sesuai den­gan batas mak­si­mal yang telah dite­tap­kan. Selain itu, pen­gelo­laan anggaran harus difokuskan pada sek­tor-sek­tor yang mem­berikan dampak lang­sung pada kese­jahter­aan masyarakat, seper­ti pen­didikan, kese­hatan, dan infra­struk­tur. Refor­masi man­a­je­men SDM juga per­lu dilakukan untuk memas­tikan bah­wa selu­ruh tena­ga ker­ja di daer­ah dap­at diako­modasi dalam mekanisme PPPK, baik yang bersi­fat penuh wak­tu maupun paruh wak­tu.

Peringatan ini dihara­p­kan men­ja­di momen­tum bagi Pem­prov Lam­pung untuk lebih cer­mat dalam menyusun anggaran yang berke­lan­ju­tan dan mam­pu mem­bawa man­faat mak­si­mal bagi masyarakat Lam­pung. Den­gan pen­gelo­laan fiskal yang hati-hati dan sesuai den­gan keten­tu­an yang berlaku, dihara­p­kan Pem­prov Lam­pung dap­at men­jalankan pro­gram pem­ban­gu­nan secara efek­tif dan efisien, ser­ta men­ja­ga kese­im­ban­gan fiskal daer­ah. (Sufiyawan)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *