Berita Ekonomi

Gelombang Bank Run Ancam Stabilitas Ekonomi Nasional

480
×

Gelombang Bank Run Ancam Stabilitas Ekonomi Nasional

Sebarkan artikel ini

Jakar­ta, SniperNew.id — Gelom­bang penarikan dana besar-besaran atau bank run ten­gah melan­da Indone­sia, memicu kekhawati­ran ter­hadap sta­bil­i­tas sek­tor per­bankan dan ekono­mi nasion­al. Meskipun Pusat Pela­po­ran dan Anal­i­sis Transak­si Keuan­gan (PPATK) mengk­laim bah­wa dana nasabah tetap aman, masyarakat menun­jukkan bah­wa mere­ka mem­bu­tuhkan lebih dari sekadar jam­i­nan mere­ka menginginkan kepas­t­ian, Sab­tu 02 Agus­tus 2025.

Seo­rang peng­gu­na media sosial, satya.dharma77, menyam­paikan kekhawati­ran­nya ter­hadap kesuli­tan akses dana yang jus­tru mem­per­bu­ruk keper­cayaan pub­lik. Ia menulis, “Keti­ka akses ter­hadap dana sendiri diper­sulit tan­pa pem­ber­i­tahuan jelas, yang ter­ja­di adalah kepanikan mas­sal yang mudah menyu­lut kri­sis keper­cayaan. Jika bank run terus melu­as, sta­bil­i­tas ekono­mi nasion­al bisa ter­an­cam dan sejarah kelam kri­sis per­bankan bisa kem­bali teru­lang.”

  Google Tingkatkan Pengalaman Digital dengan PageSpeed Insights: Alat Analisis Kecepatan Website yang Semakin Andal

Postin­gan­nya dis­er­tai gam­bar antre­an pan­jang nasabah di ATM den­gan keteran­gan beri­ta dari Invest­pro pada 31 Juli 2025 bertuliskan: “Raky­at Ramai Tarik Uang dari Bank, Bikin Ekono­mi Mulai Kolaps Kare­na ‘Bank Run’”.

Tang­ga­pan masyarakat ter­hadap kon­disi ini san­gat beragam, namun seba­gian besar menyuarakan kesuli­tan dan keti­dakpuasan mere­ka ter­hadap pros­es yang rumit dalam mem­bu­ka blokir reken­ing atau men­gak­ses dana. Seo­rang peng­gu­na berna­ma maryanare­si men­geluhkan, “Buka blokir susah cong… Per­syaratan­nya ribet, apala­gi yang hidup di kam­pung harus kelu­ar­in biaya trans­port ke kota untuk ke kan­tor cabang pusat. Belum lagi antre­an dan biaya makan sehar­i­an cuma buat nung­gu pros­es buka blokir.”

  Motor Melemah Usai Isi Pertalite, SPBU Jetak Bojonegoro Sepi Pembeli

Keluhan seru­pa datang dari rien­rienbbw, yang meny­oroti kurangnya pem­ber­i­tahuan dari pihak bank terkait pem­bloki­ran reken­ing. “Pen­gak­ti­fan ATM kem­bali nung­gu 5–7 hari ker­ja tan­pa pem­ber­i­tahuan dari pihak bank. Cukup den­gan rajin cek mbank­ing aja. Terus yang nggak pun­ya mbank­ing gimana coba?”

Keti­dak­pas­t­ian ini­lah yang men­dorong kepanikan. Nasabah seper­ti fuad.sulaeman bahkan men­yarankan orang lain untuk menarik selu­ruh dana mere­ka dari bank dan meny­im­pan­nya dalam ben­tuk tunai atau di e‑wallet. “Taruh uang cash di rumah atau deposit box tidak kena biaya dan pajak. Bikin rush mon­ey supaya jadi pem­be­la­jaran bagi pemer­in­tah agar tidak seme­na-mena ter­hadap raky­at,” tulis­nya.

  Dijual Mesin Laminasi Baru, Belum Pernah Dipakai: Peluang Emas Bagi Pelaku Usaha Percetakan

Semen­tara itu, peng­gu­na ar_nsr24 meni­lai bah­wa jika pem­bekuan reken­ing terus ter­ja­di, maka ekono­mi Indone­sia berpoten­si jatuh. Ia menye­but, “Kalau masih berta­han dibekukan ATM-nya, maka siap-siap saja perekono­mi­an Indone­sia anjlok. Bank bisa bangkrut kare­na para nasabah mengam­bil uang semuanya. Kalau mau buat sesu­atu, itu dipikirkan masyarakat­nya, bukan mikirin peja­bat yang suka ham­burin uang negara.”

Fenom­e­na ini menun­jukkan bah­wa keper­cayaan masyarakat ter­hadap sis­tem per­bankan ten­gah bera­da di titik kri­tis. Keti­ka akses ke uang sendiri men­ja­di rumit, masyarakat mere­spons den­gan menarik sim­panan mere­ka secara mas­sal. Jika situ­asi ini tidak segera ditan­gani den­gan transparan­si dan per­baikan layanan, risiko ter­jadinya kri­sis keuan­gan nasion­al bukan sekadar kemu­ngk­i­nan melainkan anca­man nya­ta yang semakin dekat. Edi­tor: (Ahmad)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *