Berita Daerah

Pasar Pringsewu Sepi, Warga Pertanyakan Arah Pembangunan: “Dulu Kecamatan Ramai, Sekarang Kabupaten Malah Sepi”

961
×

Pasar Pringsewu Sepi, Warga Pertanyakan Arah Pembangunan: “Dulu Kecamatan Ramai, Sekarang Kabupaten Malah Sepi”

Sebarkan artikel ini

Pringsewu, SniperNew.id – Sebuah ung­ga­han di media sosial Face­book milik akun berna­ma Pen­di Lin­dau men­dadak menye­dot per­ha­t­ian war­ganet. Dalam ung­ga­han­nya, ia men­gungkap­kan kepri­hati­nan ter­hadap kon­disi Pasar Induk Pringsewu yang kini dini­lai semakin sepi, bahkan seper­ti bukan pasar pada umum­nya. Ung­ga­han itu son­tak meman­tik diskusi hangat di kalan­gan masyarakat soal perkem­ban­gan daer­ah terse­but, Rabu 25 Juni 2025.

  Bantuan untuk Daerah Terisolir Diupayakan Maksimal

“Pringsewu sudah jadi kabu­pat­en !!! Tapi pasar Pringsewu semakin sepi… Dulu masih keca­matan, pasar induk ini rame siang malam.. Makin mundur apa maju ini lur ???” tulis Pen­di dalam ung­ga­han­nya yang turut dis­er­tai foto suasana pasar yang tam­pak lengang.

Pasar Pringsewu, yang dulun­ya dike­nal seba­gai pusat ekono­mi raky­at dan denyut nadi kegiatan jual beli war­ga siang dan malam, kini menu­rut war­ga jus­tru kehi­lan­gan pes­o­nanya. Kon­disi ini memu­nculkan tan­da tanya besar: apakah sta­tus kabu­pat­en yang disan­dang Pringsewu telah mem­bawa kema­juan nya­ta, atau jus­tru seba­liknya?

  Pamit Tugas Wakapolres Pringsewu, Kompol Robi Bibowo Wicaksono S.H. Sampaikan Ucapan Terima Kasih dan Permohonan Maaf

Tak sedik­it war­ga yang menang­gapi ung­ga­han terse­but den­gan nada pri­hatin. Beber­a­pa menye­butkan bah­wa lesun­ya aktiv­i­tas di pasar bisa jadi dise­babkan oleh beral­i­h­nya minat masyarakat ke pusat per­be­lan­jaan mod­ern, maraknya toko online, atau kurangnya per­ha­t­ian pemer­in­tah daer­ah ter­hadap revi­tal­isasi pasar tra­di­sion­al.

“Pasar bukan cuma tem­pat jual beli, tapi pusat per­putaran ekono­mi kecil. Kalau sepi terus, peda­gang bisa bangkrut, war­ga kehi­lan­gan pil­i­han belan­ja murah,” ujar Arif, salah satu war­ga Pringsewu yang ikut berko­men­tar di ung­ga­han itu.

Di sisi lain, sejum­lah peda­gang pun men­geluhkan menu­run­nya omset har­i­an mere­ka secara drastis. Dulu mere­ka bisa men­gan­dalkan kera­ma­ian pasar, tapi kini pelang­gan semakin sedik­it.

  Ritual Doa Lintas Adat Digelar di Tangkuban Perahu

Hing­ga beri­ta ini ditu­runk­an, belum ada perny­ataan res­mi dari pemer­in­tah kabu­pat­en Pringsewu men­ge­nai kon­disi pasar terse­but. Namun masyarakat berharap agar per­ha­t­ian lebih serius diberikan, ter­ma­suk dalam ben­tuk revi­tal­isasi fasil­i­tas, pro­mosi dagang, hing­ga strate­gi penataan pasar yang lebih menarik dan mod­ern tan­pa menghi­langkan nuansa tra­di­sion­al­nya.

Ung­ga­han viral ini bukan sekadar keluhan, melainkan sebuah sinyal pent­ing agar pem­ban­gu­nan di Pringsewu tak hanya fokus pada sta­tus admin­is­tratif, tetapi juga menyen­tuh lang­sung denyut kehidu­pan raky­at kecil di pasar tra­di­sion­al.

“Jan­gan sam­pai jadi kabu­pat­en tapi kehi­lan­gan denyut kehidu­pan war­ganya,” tulis salah satu war­ganet. (Dar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *