Pringsewu, SniperNew.id – Sebuah unggahan di media sosial Facebook milik akun bernama Pendi Lindau mendadak menyedot perhatian warganet. Dalam unggahannya, ia mengungkapkan keprihatinan terhadap kondisi Pasar Induk Pringsewu yang kini dinilai semakin sepi, bahkan seperti bukan pasar pada umumnya. Unggahan itu sontak memantik diskusi hangat di kalangan masyarakat soal perkembangan daerah tersebut, Rabu 25 Juni 2025.
“Pringsewu sudah jadi kabupaten !!! Tapi pasar Pringsewu semakin sepi… Dulu masih kecamatan, pasar induk ini rame siang malam.. Makin mundur apa maju ini lur ???” tulis Pendi dalam unggahannya yang turut disertai foto suasana pasar yang tampak lengang.
Pasar Pringsewu, yang dulunya dikenal sebagai pusat ekonomi rakyat dan denyut nadi kegiatan jual beli warga siang dan malam, kini menurut warga justru kehilangan pesonanya. Kondisi ini memunculkan tanda tanya besar: apakah status kabupaten yang disandang Pringsewu telah membawa kemajuan nyata, atau justru sebaliknya?
Tak sedikit warga yang menanggapi unggahan tersebut dengan nada prihatin. Beberapa menyebutkan bahwa lesunya aktivitas di pasar bisa jadi disebabkan oleh beralihnya minat masyarakat ke pusat perbelanjaan modern, maraknya toko online, atau kurangnya perhatian pemerintah daerah terhadap revitalisasi pasar tradisional.
“Pasar bukan cuma tempat jual beli, tapi pusat perputaran ekonomi kecil. Kalau sepi terus, pedagang bisa bangkrut, warga kehilangan pilihan belanja murah,” ujar Arif, salah satu warga Pringsewu yang ikut berkomentar di unggahan itu.
Di sisi lain, sejumlah pedagang pun mengeluhkan menurunnya omset harian mereka secara drastis. Dulu mereka bisa mengandalkan keramaian pasar, tapi kini pelanggan semakin sedikit.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah kabupaten Pringsewu mengenai kondisi pasar tersebut. Namun masyarakat berharap agar perhatian lebih serius diberikan, termasuk dalam bentuk revitalisasi fasilitas, promosi dagang, hingga strategi penataan pasar yang lebih menarik dan modern tanpa menghilangkan nuansa tradisionalnya.
Unggahan viral ini bukan sekadar keluhan, melainkan sebuah sinyal penting agar pembangunan di Pringsewu tak hanya fokus pada status administratif, tetapi juga menyentuh langsung denyut kehidupan rakyat kecil di pasar tradisional.
“Jangan sampai jadi kabupaten tapi kehilangan denyut kehidupan warganya,” tulis salah satu warganet. (Dar)













