Berita Daerah

Fadly Kasim Satukan Tenaga Kerja dan Ketahanan Pangan di Manado

434
×

Fadly Kasim Satukan Tenaga Kerja dan Ketahanan Pangan di Manado

Sebarkan artikel ini

Manado, sniperNew.id – Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Manado, Fadly Kasim, mulai menunjukkan kiprah barunya hanya dalam hitungan sebulan sejak dilantik. Sosok yang sebelumnya dipercaya menjabat sebagai Camat Singkil dan aktif di organisasi kepemudaan ini, kini hadir dengan gagasan segar yang menyentuh dua sektor vital: ketenagakerjaan dan ketahanan pangan.

Pada Sabtu, 13 September 2025, Fadly melakukan kunjungan kerja ke Yayasan Bina Lentera Insan di Kecamatan Pandu, Kota Manado. Yayasan ini dikenal aktif dalam pembinaan generasi muda, khususnya di bidang pertanian modern dan kesehatan tradisional. Kunjungan itu disambut hangat oleh Kepala Yayasan, Asep Rahman, S.KM., M.Kes, serta dihadiri perwakilan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, akademisi, hingga kelompok petani dari sejumlah desa di Minahasa Utara.

Dalam sambutannya, Fadly menekankan bahwa tantangan dunia kerja saat ini menuntut tenaga profesional yang tidak hanya siap bekerja, tetapi juga mampu bersaing. “Kami ingin mendorong anak-anak muda agar tidak hanya siap bekerja, tetapi juga mampu bersaing. Pemerintah berkomitmen memfasilitasi pelatihan dan membuka akses sertifikasi, sehingga tenaga kerja dari Kota Manado dapat berdaya saing, baik di tingkat lokal maupun nasional,” tegasnya.

Bagi Fadly, tenaga kerja yang berkualitas adalah kunci. Namun, ia juga melihat bahwa ketenagakerjaan tidak bisa dilepaskan dari sektor pangan. Menurutnya, ketahanan pangan hanya akan kuat jika ada generasi muda yang mau terjun, berinovasi, dan mengembangkan sektor pertanian. “Anak muda harus kita dorong bukan hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga pencipta lapangan kerja. Di sektor pertanian, peluang ini sangat terbuka lebar,” tambahnya.

  Sah di Rumah: Akad Nikah Penuh Haru Muhliyanto–Noviyana

Isu ketahanan pangan biasanya dikaitkan dengan produksi dan distribusi bahan pangan. Namun, Fadly melihatnya dengan perspektif berbeda. Baginya, pangan tidak hanya soal sawah dan ladang, tetapi juga soal kesiapan tenaga kerja yang profesional dan inovatif.

Jika anak muda hanya mencari pekerjaan formal, banyak potensi yang hilang. Namun, bila mereka diarahkan menjadi pelaku usaha atau petani modern, mereka bukan saja menyelesaikan masalah pengangguran, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan daerah.

Model ini, menurut Fadly, membutuhkan sinergi lintas sektor: pemerintah, akademisi, yayasan, dan tentu saja para petani. “Keberlanjutan ketahanan pangan membutuhkan peran aktif petani milenial yang mampu mengelola sumber daya dengan cara yang inovatif,” ujarnya.

Yayasan Bina Lentera Insan telah lama menjadi mitra dalam menyiapkan generasi muda yang berdaya. Dengan fokus pada pendidikan vokasi di bidang kesehatan tradisional dan pertanian modern, yayasan ini berperan sebagai jembatan antara dunia pendidikan, masyarakat, dan dunia kerja.

Kepala Yayasan, Asep Rahman, menyambut baik kehadiran Fadly dan gagasan sinergi lintas sektor ini. “Kami berharap kerja sama ini melahirkan tenaga kerja yang tidak hanya siap secara keterampilan, tetapi juga memiliki kepekaan sosial untuk membangun masyarakat. Begitu juga petani milenial, mereka akan menjadi motor penggerak ketahanan pangan di daerah,” jelasnya.

Asep menambahkan bahwa yayasan yang ia pimpin telah mendampingi banyak generasi muda yang awalnya ragu masuk ke dunia pertanian, tetapi kini mulai menyadari bahwa sektor pangan memiliki potensi besar, terutama jika digarap dengan sentuhan teknologi dan kreativitas.

  Bea Cukai Batam Digoyang Isu, LSM Kepri: Ada yang Terusik Penindakan

Hadirnya perwakilan kelompok tani dari Minahasa Utara memperkaya forum ini. Mereka menegaskan bahwa ketahanan pangan tidak bisa dipisahkan dari pemberdayaan masyarakat desa.

Di tingkat desa, petani masih menghadapi kendala klasik seperti keterbatasan modal, akses pasar, serta keterampilan dalam mengelola lahan. Dengan adanya pendampingan pemerintah dan dukungan yayasan, mereka berharap bisa meningkatkan produktivitas sekaligus menjawab tantangan pasar yang semakin kompetitif.

“Selama ini banyak petani yang hanya menanam, lalu menjual apa adanya. Padahal, kalau ada pelatihan, pendampingan, dan akses pasar yang lebih luas, hasil pertanian kita bisa jauh lebih maksimal,” ujar salah satu perwakilan petani.

Salah satu fokus Fadly adalah membuka akses sertifikasi tenaga kerja. Di era modern, sertifikasi menjadi syarat penting agar tenaga kerja diakui tidak hanya secara lokal, tetapi juga nasional bahkan internasional.

Pemerintah Kota Manado, lewat Dinas Tenaga Kerja, akan berupaya menghubungkan pelatihan dengan sertifikasi resmi. Dengan begitu, generasi muda yang telah dibekali keterampilan tidak hanya memiliki kemampuan, tetapi juga legalitas dan pengakuan kompetensi.

“Ini penting agar anak-anak muda kita tidak kalah bersaing. Bukan hanya siap kerja, tetapi juga punya sertifikat yang diakui,” tegas Fadly.

Salah satu poin menarik dalam forum tersebut adalah dorongan untuk membangun petani milenial. Selama ini, sektor pertanian identik dengan generasi tua, sementara anak muda lebih memilih bekerja di kota atau di sektor lain.

Namun, Fadly bersama jajaran dinas terkait ingin mengubah persepsi itu. Dengan pendekatan inovatif, pertanian justru bisa menjadi sektor yang menjanjikan bagi generasi muda. “Pertanian tidak lagi harus identik dengan lumpur dan kerja kasar. Dengan teknologi, pertanian bisa menjadi bisnis modern yang menguntungkan,” kata Fadly.

  HAMMER Tebar Berkah di Margakaya

Langkah awal Fadly Kasim di kursi Kadis Tenaga Kerja Kota Manado ini menunjukkan bahwa ia tidak ingin bekerja sendiri. Sinergi menjadi kata kunci. Dengan melibatkan pemerintah, yayasan, akademisi, dan petani, ia ingin menciptakan ekosistem kerja baru di mana tenaga kerja profesional dan ketahanan pangan saling menopang.

Forum seperti yang digelar di Yayasan Bina Lentera Insan hanyalah pintu masuk. Ke depan, dibutuhkan konsistensi, komitmen, dan kerja nyata agar gagasan besar ini benar-benar bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Langkah yang ditempuh Fadly ini tentu menuai harapan dari berbagai pihak. Pemerintah ingin mengurangi pengangguran, yayasan berharap ada generasi muda yang berdaya, petani mendambakan produktivitas yang lebih tinggi, sementara masyarakat luas menanti harga pangan yang stabil dan terjangkau.

Jika kolaborasi ini berjalan, Manado tidak hanya dikenal sebagai kota jasa dan pariwisata, tetapi juga sebagai kota yang kuat dalam ketahanan pangan dengan tenaga kerja yang profesional.

Perjalanan Fadly Kasim di kursi Kadis Tenaga Kerja Kota Manado memang baru dimulai, tetapi langkah awalnya sudah memperlihatkan visi besar: menyatukan tenaga kerja dan ketahanan pangan. Di tengah tantangan global yang kian kompleks, pendekatan lintas sektor ini bisa menjadi model baru bagi daerah lain di Indonesia.

Dengan komitmen kuat, kolaborasi erat, dan keberanian untuk berpikir inovatif, bukan tidak mungkin Manado akan melahirkan generasi muda yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga mampu menjadi pencipta lapangan kerja, sekaligus motor penggerak ketahanan pangan yang berkelanjutan. (Zakaria)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *