Lampung, SniperNew.id - Dalam unggahan edukatif akun gomgom_edu di media sosial Threads, muncul keprihatinan mendalam tentang kondisi literasi siswa Indonesia. Dalam postingan yang viral ini, @gomgom_edu menyampaikan bahwa dari tahun ke tahun, kemampuan membaca, menulis, dan kesabaran siswa baru terus mengalami penurunan.
“Saya mengamati dari tahun ke tahun, tiga kemampuan ini menurun di murid baru, membaca, menulis dan kesabaran.”
Unggahan itu disertai dengan kutipan tajam dari publikasi berjudul “Ada Apa dengan Minat Baca Tulis dan Kesabaran Murid Kita?” yang menyoroti fenomena ini dari sudut pandang pedagogi kritis.
Dalam penjelasan lebih lanjut, ia menuliskan:Sebagai guru yang senantiasa mendorong siswa untuk menulis bukan asal menulis, karena memahami dan merasakan langsung dampak besar dari kebiasaan menulis yang terstruktur dan rapi. Namun, saya juga melihat kenyataan yang berbeda.”

Ia mengungkapkan bahwa semakin banyak siswa kesulitan menulis dengan rapi, membaca dengan baik, dan kurang sabar dalam proses belajar. Hal ini bukan hanya terjadi di satu atau dua sekolah, tapi sudah menjadi masalah di banyak sekolah di Indonesia.
Data dari berbagai lembaga internasional turut memperkuat keprihatinan ini:
1. OECD melaporkan skor rata-rata kemampuan membaca siswa Indonesia dalam PISA 2022 hanya 359 poin, jauh di bawah rata-rata OECD (±475). Bahkan masih kalah dari negara tetangga seperti Malaysia (±415), Thailand (±392), dan Vietnam (±407–479).
Skor tersebut menempatkan siswa Indonesia di level 1a, artinya mereka hanya memahami teks eksplisit sederhana dan belum mampu memahami makna implisit.
2. UNESCO mencatat minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001%, yaitu hanya 1 dari 1.000 orang yang rajin membaca.
Dalam PISA 2018, hanya 25% siswa yang punya kompetensi membaca minimal. Meski 80% siswa mengaku senang membaca, namun hampir 40% mengaku hanya membaca karena diminta oleh guru.
Kondisi ini menunjukkan bahwa krisis literasi bukan sekadar soal kemampuan teknis, tapi menyangkut minat, budaya belajar, dan pendekatan pendidikan secara menyeluruh.
Akun ini menutup pesannya dengan ajakan reflektif. “Karena itu, penting bagi kita semua untuk memahami mengapa hal ini bisa terjadi.”
Unggahan tersebut ramai diperbincangkan netizen dan telah mendapat respons berupa 36 suka, 4 komentar, serta dibagikan ulang sebanyak 8 kali menunjukkan bahwa isu ini memang menyentuh perhatian publik luas.













